Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan engineer Google, Linwei Ding alias Leon Ding, terancam hukuman penjara 175 tahun. Juri federal Amerika Serikat (AS) menyatakan dirinya bersalah atas pencurian rahasia dagang kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan spionase untuk kepentingan perusahaan teknologi asal China.
Ding dinyatakan bersalah atas tujuh dakwaan pencurian rahasia dagang, yang masing-masing diancam hukuman hingga 10 tahun penjara. Selain itu, ia juga terbukti bersalah atas tujuh dakwaan spionase, dengan ancaman 15 tahun penjara untuk tiap dakwaan.
Jika dijumlahkan, total ancaman hukuman maksimal yang dihadapi Ding mencapai 175 tahun penjara, di luar potensi denda jutaan dolar AS. Ancaman hukuman ratusan tahun itu berasal dari akumulasi seluruh dakwaan yang dijatuhkan kepadanya.
Sidang pengadilan berikutnya dijadwalkan 3 Februari, saat itu proses penjatuhan hukuman akhir diperkirakan akan berlanjut.
Putusan tersebut dijatuhkan setelah juri federal menyelesaikan persidangan selama 11 hari di Pengadilan Distrik AS untuk Distrik San Francisco. Berdasarkan dokumen pengadilan yang dikutip FOX Business, Ding divonis bersalah atas seluruh dakwaan.
Jaksa menilai Ding secara diam-diam mencuri data AI milik Google ketika masih bekerja di perusahaan tersebut, sembari menjalin hubungan dengan perusahaan teknologi yang terafiliasi dengan Republik Rakyat China.
Ding, yang kini berusia 38 tahun, direkrut Google pada 2019 sebagai insinyur perangkat lunak. Ia bekerja di pusat data superkomputer Google yang digunakan untuk melatih dan menjalankan model AI tingkat lanjut.
Dalam putusannya, juri menyatakan Ding terbukti mencuri teknologi AI rahasia milik Google selama masa kerjanya. Informasi yang dicuri mencakup sistem perangkat keras dan perangkat lunak proprietary Google yang menopang beban kerja AI, termasuk chip khusus dan teknologi jaringan.
Jaksa federal mengungkapkan Ding mulai menyalin dokumen internal sensitif Google sejak Mei 2022. File-file tersebut dipindahkan ke akun penyimpanan cloud pribadi dengan cara yang disamarkan untuk menghindari sistem keamanan perusahaan.
Pemerintah AS menyebut Ding mentransfer lebih dari 1.000 file unik dengan total sekitar 14.000 halaman dokumen. Dari jumlah tersebut, 105 dokumen menjadi inti utama dalam perkara pidana ini.
Pihak pembela berargumen Ding tidak pernah menjual maupun menggunakan informasi tersebut. Mereka juga menilai Google gagal memberikan perlindungan yang memadai terhadap dokumen-dokumen internalnya.
"Kami menghormati putusan juri, tetapi jelas kami kecewa," ujar pengacara Ding, Grant Fondo dari firma hukum Goodwin Procter, usai vonis dibacakan.
Ding pertama kali didakwa pada Maret 2024. Dakwaan diperluas melalui dakwaan tambahan (superseding indictment) yang diajukan pada 4 Februari 2025.
Jaksa menuduh Ding secara diam-diam berafiliasi dengan dua perusahaan teknologi berbasis di China, termasuk menjabat sebagai direktur teknologi (CTO) di salah satu perusahaan serta mendirikan perusahaan lain, seluruhnya dilakukan saat masih menerima gaji dari Google.
Dalam dakwaan tersebut, Ding juga dituduh menyesatkan investor dengan mengklaim mampu mereplikasi teknologi superkomputasi AI milik Google.
"Juri hari ini mengirim pesan yang sangat jelas bahwa pencurian teknologi bernilai tinggi tidak akan dibiarkan tanpa hukuman," ujar Jaksa AS Craig H. Missakian dalam pernyataannya.
Ia menegaskan pemerintah akan "melindungi modal intelektual Amerika secara agresif." Kepala FBI San Francisco, Sanjay Virmani, menyebut perkara ini berkaitan langsung dengan keamanan nasional AS.
Menurutnya, pencurian dan penyalahgunaan teknologi AI canggih untuk kepentingan China dapat mengancam keunggulan teknologi dan daya saing ekonomi Amerika Serikat.
Hakim Distrik AS Vince Chhabria memerintahkan Ding dibebaskan sementara sembari menunggu vonis hukuman, dengan pertimbangan ia tidak berisiko melarikan diri.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
3














































