Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah selesai menguji penggunaan Bahan Bakar Nabati (BBN) jenis biodiesel 50% (B50) pada sektor alat berat pertambangan. Hasilnya menunjukkan bahwa B50 bisa memperkuat ketahanan energi nasional di tengah kondisi geopolitik global.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (Dirjen EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi menjelaskan bahwa hasil operasional maupun teknis dari pengujian tersebut sudah sesuai.
Dia menyebutkan, penggunaan B50 pada mesin diesel yang masih berlangsung saat ini tidak menunjukkan adanya gangguan signifikan pada performa mesin maupun operasional di lapangan.
"Secara umum, hasil sementara uji penggunaan B50 pada mesin diesel di sektor pertambangan menunjukkan performa yang stabil dan tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin. Ini menjadi indikasi positif bahwa biodiesel dapat diandalkan untuk mendukung operasional sektor industri," jelasnya dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (8/4/2026).
Pengujiannya meliputi pengecekan kualitas bahan bakar, kinerja mesin, ketahanan operasional, hingga stabilitas penyimpanan. Sampai akhir Maret 2026, ketahanan mesin telah melampaui 900 jam operasional tanpa adanya indikasi kerusakan atau gangguan yang disebabkan oleh kualitas bahan bakar nabati tersebut.
Meskipun terdapat kenaikan konsumsi bahan bakar sekitar 3,12% dibandingkan B40, angka tersebut dinilai masih dalam batas wajar dan tidak mempengaruhi produktivitas alat berat secara signifikan.
Selain itu, bahan bakar B50 telah memenuhi spesifikasi yang disepakati, termasuk parameter kandungan air, stabilitas oksidasi, hingga kandungan Fatty Acid Methyl Ester (FAME).
"Pengembangan B50 menjadi langkah penting dalam mendorong kemandirian energi nasional. Dengan memanfaatkan sumber daya domestik, kita tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional," ungkap Eniya.
Di sisi lain, General Manager Plant PT Harmoni Panca Utama (HPU) Rochman Alamsjah mengungkapkan pihaknya telah melakukan pengujian langsung dengan membandingkan performa dua unit alat berat yang menggunakan B40 dan B50.
"Saat ini kita sudah running kurang lebih 1.000 jam dengan membandingkan performa dua unit HD785 Komatsu yang satu mengonsumsi B40 dan yang lainnya mengonsumsi B50. Sejauh ini hingga mendekati hour meter 1000 jam performa mesin tidak menjadi masalah meskipun ada beberapa catatan kecil berupa konsumsi bahan bakar masih fluktuasi lebih tinggi 1-3% untuk B50," paparnya.
Dengan begitu, implementasi B50 merupakan kelanjutan dari kesuksesan program B40 yang telah berjalan secara nasional sejak awal tahun 2025.
Pemerintah berencana memperluas rangkaian pengujian ke berbagai sektor lain, mulai dari transportasi, pembangkit listrik, hingga kereta api, guna memastikan kesiapan standar teknis sebelum kebijakan ini diimplementasikan di seluruh Indonesia.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
2














































