Jakarta, CNBC Indonesia - Wabah virus langka hantavirus menyerang kapal ekspedisi MV Hondius yang tengah berlayar di Samudra Atlantik. Insiden ini menewaskan tiga penumpang dan memicu kewaspadaan global karena terjadi di ruang tertutup dengan mobilitas terbatas.
Total terdapat 149 orang di kapal, terdiri dari 88 penumpang dan 61 awak dari lebih dari 20 negara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setidaknya tujuh kasus terkait kejadian ini, terdiri dari dua kasus terkonfirmasi dan lima suspek.
Dari keseluruhan kasus tersebut, tiga berujung kematian dan satu pasien masih dalam kondisi kritis. Meski begitu, WHO memastikan belum ada lonjakan kasus baru di kapal hingga saat ini.
Berikut fakta lain terkait insiden akibat virus tersebut:
1.Kronologi
Rangkaian kejadian dimulai pada 11 April, ketika seorang penumpang pria asal Belanda meninggal dunia di atas kapal. Penyebab kematian tidak dapat dipastikan karena keterbatasan fasilitas medis di tengah laut.
Jenazahnya baru dievakuasi pada 24 April saat kapal singgah di Saint Helena. Namun, situasi memburuk ketika istrinya ikut jatuh sakit dalam perjalanan pemulangan dan meninggal di rumah sakit di Johannesburg, Afrika Selatan.
Kasus ketiga terjadi pada 2 Mei, saat penumpang asal Jerman meninggal dunia di kapal. Hingga kini, belum ada kepastian apakah ketiga kematian tersebut memiliki hubungan langsung dengan hantavirus.
"Belum dikonfirmasi bahwa kematian ini terkait dengan situasi medis di atas kapal," ujar operator kapal, Oceanwide Expeditions.
2.Kasus Kritis & Dugaan Penularan
Satu-satunya kasus yang telah dikonfirmasi sebagai hantavirus adalah penumpang asal Inggris berusia 69 tahun. Ia dievakuasi secara medis pada 27 April dan kini dirawat di unit perawatan intensif di Johannesburg.
"Pasien dalam kondisi kritis tetapi stabil," kata pihak operator, seperti dikutip AFP.
Selain itu, dua awak kapal mengalami gejala pernapasan akut, dengan satu kasus tergolong berat. Mereka masih menjalani perawatan di atas kapal karena belum memungkinkan untuk dievakuasi.
WHO menyebut hingga kini belum ada indikasi penyebaran luas di antara penumpang lain. Namun investigasi masih terus berlangsung.
3.Respons WHO
WHO menegaskan bahwa risiko penyebaran hantavirus ke publik luas masih rendah. Virus ini umumnya tidak menular antar manusia, kecuali pada varian tertentu yang sangat terbatas.
Dalam keterangannya, WHO menyebut tidak diperlukan pembatasan perjalanan maupun perdagangan internasional terkait kasus ini. Namun demikian, WHO tetap melakukan penyelidikan epidemiologi untuk mengidentifikasi sumber paparan, termasuk kemungkinan berasal dari hewan pengerat di kapal atau lokasi yang disinggahi sebelumnya.
WHO juga mengonfirmasi bahwa langkah-langkah darurat telah diterapkan. Termasuk isolasi penumpang di kabin, disinfeksi intensif, serta pemantauan kesehatan secara berkala.
4.Apa Itu Hantavirus dan Risikonya?
Hantavirus adalah virus zoonosis yang ditularkan dari hewan pengerat ke manusia melalui paparan urine, kotoran, atau air liur. Infeksi ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius yang dikenal sebagai Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS), dengan tingkat kematian yang bisa mencapai sekitar 40%.
Gejala awal meliputi demam, nyeri otot, dan kelelahan, yang kemudian dapat berkembang cepat menjadi sesak napas berat. Hingga saat ini belum tersedia vaksin atau obat khusus, sehingga penanganan bergantung pada perawatan intensif untuk menjaga fungsi organ pasien.
5.Kondisi Penumpang Saat Ini
Saat ini MV Hondius berada di lepas pantai Praia, Tanjung Verde, tanpa izin untuk bersandar. Otoritas setempat melarang penumpang turun guna mencegah potensi penyebaran virus ke daratan.
Seluruh penumpang diminta tetap berada di kabin masing-masing, dengan aktivitas yang sangat dibatasi. Sebagai opsi lanjutan, operator kapal mempertimbangkan untuk mengalihkan pelayaran ke Kepulauan Canary, Spanyol, seperti Las Palmas atau Tenerife, untuk proses evakuasi dan pemeriksaan medis lebih lanjut.
6.Protokol Kesehatan Ketat
Sejak kasus teridentifikasi, kapal menerapkan protokol kesehatan ketat. Isolasi diberlakukan, area umum didisinfeksi secara berkala, dan kondisi kesehatan seluruh penumpang dipantau setiap hari.
Tim medis di kapal juga berkoordinasi dengan WHO dan otoritas kesehatan internasional guna memastikan penanganan sesuai standar global. Kasus ini menjadi sorotan karena menunjukkan bagaimana wabah penyakit langka dapat muncul dan menyebar di lingkungan tertutup seperti kapal pesiar, meski risiko global tetap dinilai rendah oleh WHO.
(tfa/sef)
Addsource on Google

1 hour ago
2















































