Mimika, CNBC Indonesia - PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan kontribusi perusahaan ke penerimaan negara bisa meningkat pada tahun ini atau mencapai Rp47 triliun dari pembayaran pajakm royalti dan bagian laba pemerintah.
Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan upaya peningkatan produksi tambang oleh perusahaan terus didorong yang mana pada akhir 2026 akan mencapai kapasitas 65%.
"Katakan bahwa kita hanya bisa produksi 65%. Tapi diproyeksikan bahwa penerimaan negara dari Freeport Indonesia bisa mencapai Rp 47 triliun. Dan tahun depan tentu akan lebih tinggi lagi karena tahun depan kita kan bisa mencapai semester satu itu 75% dan akhir tahun depan itu menuju ke 100%," ujar Tony dalam sambutan upacara HUT ke-81 RI, di Tembagapura, Papua Tengah, dikutip Selasa (18/8/2026).
Sepanjang tahun 2025 lalu, PTFI tercatat telah menyetorkan hingga Rp 75 triliun kepada negara, di mana Rp 13 triliun di antaranya dialokasikan untuk pemerintah daerah di wilayah Papua Tengah. Kontribusi tersebut diharapkan terus dijaga melalui kepastian investasi jangka panjang dan perpanjangan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) setelah tahun 2041 mendatang.
"Langkah ini sangat penting untuk memastikan konservasi pertambangan, keberlanjutan investasi jangka panjang, menjaga lapangan kerja bagi 30 ribuan pekerja, mempertahankan kontribusi kepada negara yang jumlahnya puluhan triliun bahkan dapat mencapai ratusan triliun setiap tahunnya," tambahnya.
Adapun, target kontribusi perusahaan terhadap penerimaan negara tahun ini didorong oleh rencana produksi sebesar 800 juta pound tembaga dan 700.000 ounces emas.
PTFI menargetkan pemulihan produksi perusahaan hingga 100% akan tercapai pada akhir tahun 2027 mendatang. Selaras dengan upaya pemulihan itu, nilai setoran ke kas negara diproyeksikan melonjak dua kali lipat lebih dari angka saat ini.
"Dan kalau kita sudah 100% itu kontribusi kepada negara bisa luar biasa besar, lebih dari 100 triliun, mungkin 120 triliun setiap tahunnya. Jadi itulah kira-kira kontribusi Freeport kepada negara," jelasnya di sela acara.
Untuk menjamin keberlanjutan setoran kepada negara, PTFI juga tengah mendorong pengembangan tambang bawah tanah yakni Kucing Liar dengan total nilai investasi mencapai Rp 72 triliun. Proyek tersebut diproyeksikan mampu menghasilkan lebih dari 7 miliar pound tembaga dan 6 juta ounces emas sepanjang masa operasinya.
"Investasi ini menunjukkan bahwa di tengah masa pemulihan, Freeport Indonesia tetap melangkah maju dan terus membangun fondasi bagi keberlanjutan perusahaan dan manfaatnya bagi bangsa dan negara," tandasnya.
Produksi PTFI Semester I-2026
Perusahaan mencatat, produksi emas PTFI pada enam bulan pertama tahun 2026 tercatat sebesar 276.000 ons, angka itu mengalami penurunan dibandingkan periode Semester I-2025 yang mencapai 595.000 ons.
Sementara itu, produksi tembaga berada di angka 300 juta pon, menyusut dari realisasi tahun sebelumnya yang sebesar 655 juta pon.
"Tingkat produksi PTFI secara keseluruhan diperkirakan akan mendekati 65% pada paruh kedua tahun 2026, 80% pada pertengahan 2027, dan mendekati kapasitas penuh pada akhir tahun 2027," tulis laporan FCX Semester I-2026.
Penurunan volume produksi tersebut disebabkan oleh rendahnya tingkat pemrosesan bijih selama fase remediasi dan restorasi infrastruktur tambang GBC. Namun, perusahaan mencatat progres di Blok Produksi 2 dan 3 telah rampung sehingga aktivitas penambangan mulai meningkat sejak akhir Maret 2026.
"Setelah insiden luapan lumpur eksternal pada September 2025, PTFI telah memajukan serangkaian aktivitas untuk menangani insiden tersebut dan tetap fokus pada peningkatan kapasitas operasional yang aman dan berkelanjutan," tulis laporan itu.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]

7 hours ago
3
















































