Geger Temuan Cangkang Telur Purba, Ungkap Kecerdasan Manusia Purba

4 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Manusia purba ternyata memiliki cara berpikir yang sangat kreatif, terstruktur, dan geometris sejak sekitar 60.000 tahun yang lalu, berdasarkan temuan fragmen cangkang telur burung unta yang diukir dengan rumit di Afrika bagian selatan pada Selasa (24/03/2026).

Fragmen yang pertama kali dideskripsikan pada tahun 2010 tersebut tidak dicoret secara sembarangan seperti coretan di buku catatan, melainkan dietsa dengan fitur geometris yang sengaja dibuat seperti pola kisi-kisi dan berlian. Desain ini dianalisis dalam sebuah studi baru dari para peneliti di Italia yang memberikan jembatan antar zaman dan pandangan ke dalam pikiran para pendahulu manusia.

Arkeolog dari University of Bologna sekaligus penulis senior studi tersebut, Silvia Ferrara mengatakan tanda-tanda ini mengungkapkan cara berpikir geometris yang mengejutkan terstruktur.

"Kami berbicara tentang orang-orang yang tidak sekadar menarik garis, tetapi mengaturnya menurut prinsip-prinsip yang berulang, yaitu paralelisme, kisi-kisi, rotasi, dan pengulangan sistematis: sebuah tata bahasa visual dalam bentuk embrio," ujar Ferrara dalam artikel yang ditulis ScienceAlert seperti dikutip Selasa (24/3/2026).

Untuk menguraikan tata bahasa geometris yang digunakan oleh para penghias cangkang, para peneliti menganalisis pengaturan spasial dari tanda pada 112 fragmen cangkang telur burung unta yang terukir. Ditemukan di dua lokasi perlindungan di Afrika Selatan dan satu lokasi gua di Namibia selatan, cangkang utuh ini mungkin digunakan pada masa jayanya sebagai wadah air, sebagaimana masih dilakukan oleh beberapa pengumpul makanan di wilayah tersebut hari ini.

Para peneliti memeriksa hampir 1.300 garis yang dietsa pada fragmen cangkang dan menyimpulkan bahwa pembuatnya menunjukkan tingkat organisasi kognitif yang mencolok. Lebih dari 80 persen etsa menunjukkan keteraturan spasial yang koheren dengan desain yang kaya akan paralelisme, sudut siku-siku, serta pengulangan garis dan pola, di mana kreasi yang lebih kompleks menampilkan pita arsir, kisi-kisi, dan motif berlian.

Desain-desain ini memberikan bukti bahwa manusia purba tidak hanya memiliki tangan yang stabil, tetapi juga pikiran kreatif yang mampu melakukan operasi kognitif seperti rotasi, translasi, dan penyematan yang mengubah garis sederhana menjadi kreasi yang beragam dan desain hierarkis.

Hal ini menjadi bukti nyata dari fondasi kognitif yang diperlukan bagi munculnya pemikiran abstrak, yaitu kemampuan untuk mengonsep hal-hal di luar pengalaman pribadi seseorang, termasuk hal-hal yang tidak dapat dilihat atau mungkin tidak ada.

Silvia Ferrara menegaskan ukiran-ukiran ini terorganisir serta konsisten dan menunjukkan penguasaan hubungan geometris.

"Tidak hanya ada proses pengulangan tanda: ada perencanaan visual-spasial yang nyata, seolah-olah penulisnya sudah memiliki gambaran keseluruhan dari sosok tersebut di dalam pikiran sebelum mengukirnya," kata Ferrara.

Meskipun belum jelas apakah desain ini memiliki makna esoteris yang lebih dalam, temuan ini menyoroti kemajuan krusial dalam evolusi pemikiran manusia yang meletakkan dasar bagi masa depan yang penuh dengan seni dan penemuan. Analisis tersebut menunjukkan bahwa Homo sapiens 60.000 tahun yang lalu sudah memiliki kemampuan luar biasa untuk mengatur ruang visual menurut prinsip-prinsip abstrak.

Mahasiswa PhD di University of Bologna sekaligus penulis pertama studi tersebut, Valentina Decembrini menjelaskan bahwa mengubah bentuk sederhana menjadi sistem yang kompleks dengan mengikuti aturan yang jelas adalah sifat manusia yang sangat mendalam.

"Sifat ini telah mencirikan sejarah kita selama ribuan tahun, mulai dari penciptaan dekorasi hingga pengembangan sistem simbolik dan, pada akhirnya, tulisan," tutur Decembrini.

(tps/tps)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |