Gencatan Senjata AS-Iran Terancam? Gelombang Rudal Serang UEA-Saudi

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah negara di wilayah Teluk melaporkan adanya serangan besar-besaran berupa rudal dan pesawat tak berawak (drone) yang dikirimkan oleh Iran pada hari Rabu (8/04/2026). Serangan ini secara dramatis memicu aktifnya sistem pertahanan udara di seluruh kawasan hanya dalam hitungan jam setelah kesepakatan gencatan senjata dua pekan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran baru saja diumumkan.

Mengutip CNBC International, situasi di kawasan Teluk mencekam saat sistem pertahanan udara Uni Emirat Arab (UEA) mulai bekerja keras mencegat objek di langit. Pihak kementerian UEA segera mengeluarkan instruksi agar masyarakat mencari tempat perlindungan yang aman.

"Suara-suara yang terdengar di berbagai wilayah negara tersebut adalah hasil dari sistem pertahanan udara UEA yang mencegat rudal balistik, rudal jelajah, dan drone," ujar Abu Dhabi dikutip laman itu.

Kondisi serupa terjadi di Arab Saudi, di mana organisasi Pertahanan Sipil nasional mengeluarkan peringatan darurat bagi warga di seluruh penjuru negeri. Ancaman ini tidak hanya menyasar wilayah perbatasan, tetapi juga merambah ke pusat pemerintahan.

Organisasi Pertahanan Sipil Arab Saudi mengeluarkan peringatan dini mengenai potensi bahaya di seluruh negeri. Ini pun termasuk Riyadh.

Selain Arab Saudi dan UEA, negara-negara tetangga seperti Kuwait, Bahrain, dan Qatar juga berada dalam posisi siaga tinggi. Mereka mengeluarkan peringatan darurat atau langsung mengaktifkan sistem pertahanan saat ancaman rudal mulai terdeteksi merayap di seluruh wilayah regional.

Serangan ini terjadi di saat Washington dan Teheran sebenarnya baru saja menyepakati gencatan senjata sementara. Kesepakatan ini muncul tepat sebelum tenggat waktu yang ditetapkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump untuk meluncurkan serangan masif jika kesepakatan gagal dicapai.

Presiden Trump mengatakan bahwa gencatan senjata yang dimediasi oleh Pakistan tersebut sangat bergantung pada pembukaan Selat Hormuz secara "lengkap, segera, dan aman". Gencatan senjata dua pekan ini awalnya diproyeksikan untuk membuka ruang negosiasi bagi delegasi AS dan Iran yang dijadwalkan bertemu di Islamabad pada hari Jumat meski serangan rudal terbaru ke negara-negara Teluk ini menimbulkan keraguan besar apakah komitmen tersebut bisa berjalan.

Pihak Teheran sendiri memberikan pernyataan bersyarat terkait penghentian aksi militer mereka. Iran menegaskan bahwa pergerakan angkatan bersenjata mereka sangat bergantung pada tindakan pihak lawan.

Para pejabat Iran menyatakan dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu bahwa jika serangan terhadap Iran dihentikan, maka Angkatan Bersenjata mereka akan menghentikan "operasi pertahanan". Meski menjanjikan pembukaan jalur di Selat Hormuz, Teheran menyelipkan klausul yang "memungkinkan mereka mendefinisikan kepatuhan sesuai kehendak sendiri".

Sebelumnya Penasihat Presiden UEA, Anwar Gargash, telah mengingatkan bahwa solusi jangka panjang adalah harga mati bagi keamanan di Teluk. "Kami tidak menginginkan permusuhan dengan Iran, namun dengan rezim saat ini, tidak ada rasa kepercayaan," ujar Gargash.

Di tengah hujan rudal ini, stok senjata pencegat di negara-negara Teluk dilaporkan mulai kritis. Berdasarkan data Jewish Institute for National Security of America, UEA dan Kuwait telah menghabiskan 75% stok rudal Patriot mereka sementara Bahrain telah menguras hingga 87% persediaan mereka untuk menghalau serangan Iran.

(tps/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |