Harga Emas Dunia Meroket, Sentimen De-eskalasi Perang Meningkat

6 hours ago 2
Ekonomi

Harga Emas Dunia Meroket, Sentimen De-eskalasi Perang Meningkat

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

MEDAN (Waspada.id): Pergerakan pasar keuangan global menunjukkan tren positif pada perdagangan hari ini Rabu (1/4), seiring meningkatnya harapan de-eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia tercatat menguat di zona hijau, didorong oleh optimisme pelaku pasar terhadap meredanya tensi geopolitik.

Sentimen positif ini muncul setelah Presiden Amerika Serikat menyampaikan kemungkinan negaranya akan meninggalkan Iran dalam “dua atau tiga minggu”. Pernyataan tersebut langsung disambut baik oleh pasar, termasuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka menguat ke level 7.149.

Di sisi komoditas energi, harga minyak mentah dunia jenis Brent terpantau turun ke kisaran US$105 per barel. Sementara itu, minyak jenis WTI masih bertahan di atas US$100 per barel, atau sekitar US$102 per barel. Penurunan harga minyak ini turut menjadi indikator meredanya kekhawatiran pasar terhadap konflik berkepanjangan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tercatat relatif stabil di kisaran Rp16.990 per dolar AS. Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan masih akan bergerak konsolidatif di sekitar level Rp17.000.
Namun di tengah meredanya tekanan geopolitik, harga emas dunia justru melonjak tajam hingga mendekati level US$4.700 per ons troy, tepatnya di posisi US$4.693 per ons atau setara sekitar Rp2,57 juta per gram.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai lonjakan harga emas tersebut mencerminkan respons pasar yang masih berhati-hati terhadap dinamika global.

“Emas tetap menjadi instrumen lindung nilai utama di tengah ketidakpastian. Meskipun ada sinyal de-eskalasi, pelaku pasar masih melihat risiko yang belum sepenuhnya mereda,” ujarnya.

Menurut Gunawan, selama konflik belum benar-benar berakhir dan kedua pihak masih melakukan aksi militer, pasar keuangan global akan cenderung bergerak volatil.

“Sentimen ekonomi saat ini belum cukup kuat untuk menggantikan pengaruh konflik geopolitik sebagai penggerak utama pasar. Karena itu, pergerakan pasar masih rapuh dan sangat bergantung pada perkembangan situasi di Timur Tengah,” jelasnya.

Ia menambahkan, jika de-eskalasi benar-benar terjadi secara nyata, maka tidak hanya pasar saham yang berpotensi menguat, tetapi juga stabilitas di pasar komoditas dan nilai tukar akan semakin terjaga.

Pelaku pasar pun diimbau untuk tetap mencermati perkembangan geopolitik secara ketat, mengingat dinamika konflik masih menjadi faktor dominan yang memengaruhi arah pergerakan pasar global saat ini. (id09)

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |