Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas turun lebih dari 1% karena dolar AS yang menguat dan kekhawatiran inflasi yang terus berlanjut membuat ekspektasi kenaikan suku bunga serta imbal hasil obligasi tetap tinggi.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Selasa (19/5/2026) ditutup di US$4481,28 per troy ons atau melemah 1,9%.
Pelemahan ini berbanding terbalik dengan penguatan 0,6% pada Senin.
Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah sejak 27 Maret 2026 atau lebih dari tiga pekan terakhir.
Harga emas menguat tipis pada hari ini. Pada Selasa (20/5/2026) pukul 06.30 WIB, harga emas ada di posisi US$4485,79 per troy ons atau menanjak 0,1%.
"Kita melihat kenaikan suku bunga riil di banyak negara, dan itu sangat membebani emas. Dolar yang lebih kuat juga menjadi faktor negatif," ujar Edward Meir, analis di Marex, kepada Refinitiv.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10-tahun (US10YT=RR) berada di dekat level tertinggi lebih dari satu tahun, sementara dolar AS menguat. Keduanya meningkat karena investor menanti kemungkinan Fed mengambil kebijakan hawkish untuk menahan inflasi yang terdorong kenaikan energi.
Imbal hasil obligasi yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga, sementara dolar yang lebih kuat membuat komoditas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Harga minyak mentah Brent tetap tinggi akibat kekhawatiran pasokan, memperkuat kekhawatiran inflasi global karena melonjaknya biaya energi. Inflasi yang meningkat memaksa bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi untuk menekan tekanan harga.
Meskipun emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, biasanya emas tertekan di lingkungan suku bunga tinggi.
Pasar kini melihat ruang yang sangat terbatas untuk pemangkasan suku bunga sepanjang 2026, dengan ekspektasi bergeser ke arah tidak ada perubahan atau pengetatan suku bunga di akhir tahun.
"Meski kasus investasi struktural untuk emas tetap kuat, perkembangan makro jangka pendek menciptakan latar belakang yang lebih menantang bagi harga," tulis Ole Hansen, kepala strategi komoditas di Saxo Bank.
"Begitu tekanan terkait energi mulai mereda, permintaan dari bank sentral mungkin kembali menjadi pendorong utama."
Para pelaku pasar kini menanti risalah rapat kebijakan Fed terbaru, yang dijadwalkan rilis Rabu.
Addsource on Google

3 hours ago
1

















































