Harga iPhone Bakal Naik Gila-Gilaan, Bos Apple Sudah Pasrah

1 hour ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Apple berencana menaikkan harga sejumlah produknya untuk mengimbangi lonjakan biaya chip memori dan penyimpanan yang terus meroket akibat ledakan permintaan dari industri kecerdasan buatan (AI). Hal itu diungkapkan langsung CEO Apple, Tim Cook.

Cook mengakui perusahaan sudah berupaya keras menahan kenaikan harga agar tidak dibebankan kepada konsumen. Namun, kondisi pasar komponen saat ini membuat langkah tersebut sulit dipertahankan.

"Sayangnya, kenaikan harga tidak dapat dihindari," kata Cook dalam wawancara eksklusif dengan The Wall Street Journal, dikutip CNBC Indonesia, Kamis (18/6/2026).

"Kami melakukan yang terbaik untuk mengurangi dampak kenaikan harga yang dibebankan kepada kami, dan kami telah berusaha melindungi pelanggan dari kenaikan tersebut, tetapi situasinya sudah menjadi tidak berkelanjutan," lanjutnya.

Meski demikian, Cook tidak mengungkapkan kapan kenaikan harga akan diberlakukan, seberapa besar kenaikannya, maupun produk mana yang akan terdampak.

Peluncuran produk besar Apple berikutnya diperkirakan berlangsung pada September mendatang melalui jajaran iPhone 18, yang disebut-sebut akan menghadirkan iPhone lipat pertama perusahaan. Namun, kenaikan harga berpotensi terjadi lebih cepat pada lini Mac dan iPad. Apple bahkan telah menaikkan harga awal Mac Mini bulan lalu di sela-sela agenda peluncuran produknya.

Harga chip meroket karena AI

Lonjakan harga chip memori dan penyimpanan dipicu oleh meningkatnya kebutuhan perusahaan-perusahaan AI terhadap komponen tersebut. Permintaan besar dari pusat data AI membuat pasokan semakin tipis dan harga melonjak tajam.

Menurut firma riset TechInsights, Apple harus menaikkan harga perangkat secara signifikan jika ingin mempertahankan margin keuntungannya saat ini. Perusahaan memperkirakan harga iPhone Pro generasi berikutnya bisa naik sekitar US$270.

Chip memori dan penyimpanan merupakan komponen penting dalam berbagai perangkat elektronik, mulai dari smartphone, laptop, konsol game, peralatan medis hingga kendaraan. Namun kini server AI menyerap volume chip yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya sehingga bahkan perusahaan sebesar Apple kesulitan mendapatkan pasokan.

Sejak tahun lalu, ketika perusahaan teknologi raksasa seperti Google, Microsoft, Meta, dan Amazon mulai mengumumkan lonjakan belanja modal untuk AI, harga chip memori dan penyimpanan telah meningkat hingga empat kali lipat.

TechInsights memperkirakan tren kenaikan harga tersebut masih akan berlanjut hingga 2027.

Cook sendiri menyoroti pasar DRAM sebagai sumber utama masalah. Menurutnya, semakin banyak kapasitas produksi yang dialokasikan untuk high-bandwidth memory (HBM), yakni jenis memori khusus yang digunakan dalam server AI.

"Pasokannya lebih sedikit pada saat konsumen menginginkan perangkat, dan perusahaan memori meneruskan kenaikan harga yang sangat besar," kata Cook.

"Kami jelas membutuhkan harga dan pasokan memori kembali ke tingkat yang wajar untuk produk konsumen. Itu intinya," tambahnya.

Saat ini pasar DRAM global didominasi oleh tiga perusahaan, yakni Samsung Electronics, SK hynix, dan Micron Technology. Sementara pasar NAND juga diisi oleh ketiga perusahaan tersebut bersama Kioxia dan Sandisk.

Ledakan permintaan AI membuat kinerja perusahaan-perusahaan tersebut melesat. Dalam 12 bulan terakhir, saham Micron dan SK hynix tercatat melonjak lebih dari 800%, sedangkan Kioxia dan Sandisk naik sekitar 4.600%.

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |