Harga Nikel Menguat Usai RI Pangkas Kuota Tambang Nikel Raksasa

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga nikel dunia kembali menguat setelah pemerintah Indonesia memutuskan memangkas tajam kuota produksi di Weda Bay, yang menjadi tambang nikel terbesar di dunia. Kebijakan ini memperketat pasokan dari negara yang kini menjadi produsen nikel dominan secara global.

Tambang Weda Bay yang dioperasikan oleh perusahaan Prancis Eramet bersama grup Tsingshan Holding asal China, hanya mendapatkan izin memproduksi 12 juta ton bijih nikel pada tahun ini.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kuota 42 juta ton yang diberikan pemerintah pada 2025.

Mengutip Financia Times, harga nikel acuan di London Metal Exchange (LME) naik sekitar 2% mendekati level US$18.000 per ton. Sejak awal tahun, harga nikel memang telah menunjukkan tren penguatan, didorong ekspektasi pengetatan kuota produksi di Indonesia.

Secara keseluruhan, pemerintah berencana memangkas kuota produksi bijih nikel nasional lebih dari 100 juta ton menjadi sekitar 260-270 juta ton tahun ini. Angka tersebut turun dari 379 juta ton pada 2025.

Langkah ini diambil setelah beberapa tahun terakhir pasar dibanjiri pasokan, yang menyebabkan harga nikel tertekan dan bertahan di bawah US$20.000 per ton dalam 18 bulan terakhir.

Indonesia dalam satu dekade terakhir telah bertransformasi dari pemain kecil menjadi raksasa nikel dunia, dengan kontribusi sekitar dua pertiga produksi global. Namun lonjakan produksi tersebut memicu kelebihan pasokan (oversupply) yang menekan harga, terutama untuk komoditas yang digunakan dalam industri baja tahan karat dan baterai kendaraan listrik.

Pemerintah kini berupaya menyeimbangkan pasar melalui sistem perizinan dan kuota. Tujuannya, untuk menopang harga agar lebih stabil serta membantu perusahaan domestik yang menghadapi tekanan margin dan potensi kerugian akibat harga rendah. Tekanan harga sebelumnya juga berdampak pada sejumlah perusahaan tambang global.

Eramet, yang sahamnya tercatat di Paris dan tengah menghadapi isu tata kelola, termasuk salah satu yang terdampak pelemahan harga. Sejumlah perusahaan tambang Barat bahkan memilih hengkang dari bisnis nikel Indonesia.

BHP, yang sebelumnya merupakan salah satu produsen nikel terbesar dunia, telah menutup operasinya di tengah kondisi pasar yang lesu. Sementara itu, Anglo American sedang dalam proses menjual bisnis nikelnya kepada MMG Singapore Resources, bagian dari grup MMG yang dikendalikan China.

Transformasi industri nikel Indonesia tidak lepas dari kebijakan pelarangan ekspor bijih mentah sejak 2020. Aturan tersebut mendorong pembangunan fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) di dalam negeri, yang banyak didukung investasi besar dari perusahaan China.

Berdasarkan data Macquarie, Indonesia menyumbang sekitar 65% pasokan nikel olahan global pada 2025, melonjak drastis dari hanya 6% pada 2015. Pangsa pasar ini diperkirakan masih akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

Meski demikian, Eramet menyatakan tetap berkomitmen menjaga komunikasi dengan pemerintah Indonesia dan berencana mengajukan revisi kuota agar dapat memperoleh volume produksi yang lebih tinggi.

Sementara itu, perusahaan tambang asal Brasil, Vale, pada Januari lalu juga mengumumkan penghentian sementara operasional nikel di Indonesia karena belum memperoleh persetujuan dan kuota produksi untuk tahun 2026.

(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |