Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa meyakini dampak kenaikan BBM RON 92 Pertamina atau Pertamax hanya sedikit memengaruhi inflasi.
Keyakinan tersebut didasari konsumsi Pertamax yang didominasi oleh masyarakat bukan angkutan barang dan angkutan umum.
"Dampaknya harusnya relatif minim karena kan pertamax gak dipakai angkutan barang," ucap Purbaya saat ditemui di Gedung DPR RI, Rabu (10/6/2026).
"Harusnya limited karena bukan bukan buat angkutan umum, angkutan barang ga pakai," sambungnya.
Menkeu Purbaya juga mengatakan kebijakan mengenai antisipasi kuota konsumsi BBM RON 90 Pertamina atau Pertalite tidak jebol akibat adanya transfer dari pengguna Pertamax ada di tangan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
"Itu nanya ke Pak Bahlil, mesti ada metode lagi. Nozzle control kalau ga salah nanya Pak Bahlil yang ngerti," ucapnya.
PT Pertamina resmi menaikkan harga dua jenis Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi mulai 10 Juni 2026. Berdasarkan situs PT Pertamina Patra Niaga, Pertamina menaikkan harga BBM non subsidi Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (setara RON 95) mulai Rabu, 10 Juni 2026.
Di DKI Jakarta dan sekitarnya, harga Pertamax (RON 92) mulai 10 Juni 2026 dibanderol Rp 16.250 per liter, naik Rp 3.950 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Sementara harga BBM Pertamax di Pertashop kini dibanderol Rp 16.150 per liter.
(haa/haa)
Addsource on Google

2 hours ago
3

















































