Jakarta, CNBC Indonesia - Masifnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) mendatangkan potensi 'petaka' besar, salah satunya di sektor keamanan siber. Kampanye kejahatan siber, termasuk penipuan online kian canggih, berkat adopsi AI.
Potensi bahaya keamanan siber sudah menjadi perhatian di banyak negara. Dampaknya bisa menjerat semua pihak, termasuk Indonesia.
Hong Kong sudah mulai siaga penuh. Negara di dekat Indonesia itu memberikan peringatan untuk memperkuat pertahanan keamanan siber ke perusahaan-perusahaan berlisensi. Regulator sekuritas setempat menjelaskan karena ancaman siber berbasis AI yang makin canggih dan bertarget.
Insiden serangan siber juga dilaporkan mengalami peningkatan hanya dalam waktu setahun. Data Pusat Koordinasi Tim Tanggap Darurat Komputer Hong Kong mengungkapkan terdapat peningkatan insiden sebanyak 27% dari 2024 berjumlah 12.536 kasus menjadi 15.877 tahun 2025.
Terbaru, Komisi Sekuritas dan Berjangka Hong Kong mengingatkan perusahaan berlisensi khususnya pialang internet dan platform perdagangan aset virtual mengadopsi pengamanan terbaru. Diharapkan cara itu mencegah akses tidak sah pada data klien serta melindungi penyalahgunaan aset.
Menurut regulator setempat, AI membantu pelaku untuk mengidentifikasi dan mengeksploitasi kerentanan lebih cepat. Selain itu juga melancarkan serangan dalam skala besar dan menurunkan hambatan pada modus phishing dan rekayasa sosial, dikutip dari Reuters, Kamis (4/6/2026).
Regulator juga telah mengidentifikasi area-area untuk memperkuat keamanan siber. Termasuk lokasi untuk perusahaan melakukan penambalan dan manajemen kerentanan, deteksi serta pemantauan, dan respon serta pemulihan insiden.
Direktur eksekutif perantara SFC, Eric Yip menjelaskan soal tanggung jawab manajemen senior terkait ketahanan siber dan melindungi aset klien.
Sementara itu kerentanan keamanan karena AI juga telah jadi fokus para regulator global karena risiko model AI Anthropic bernama Mythos. Badan pengawas dan Australia dan otoritas perbankan Jepang jadi beberapa pihak yang menyuarakan peringatan serupa.
Mythos yang baru diluncurkan ternyata bisa mengungkapkan ribuan celah keamanan pada sistem operasi dan web browser utama. Anthropic sebagai pembuatnya juga mengungkapkan model ini dapat menimbulkan risko bagi perekonomian, keselamatan publik dan keamanan nasional jika disalahgunakan.
Kekhawatiran akan risiko ini membuat Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Ketua The Fed Jerome Powell bertemu dengan para bos bank besar. Pertemuan itu membicarakan potensi risiko yang ada.
Serupa, otoritas Inggris juga telah melakukan pembicaraan dengan bank besar dan pejabat keamanan siber. Di Jerman, Presiden Asosiasi Bank Herman dan CEO Deutche Bank, Christian Sewing mengungkapkan bank-bank setempat telah menjalin kontak erat dengan regulator Eropa.
(fab/fab)
Addsource on Google

2 hours ago
4
















































