Hitungan Purbaya: Harga Minyak US$150 per Barel, Trump Bisa Jatuh

2 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan prediksi ekonom dan pengamat yang menyebut bahwa harga minyak dunia bisa menembus US$ 200 per barel tidak realistis.

Menurutnya, jika harga minyak menyentuh harga US$ 200 per barel, hampir seluruh negara di dunia berisiko masuk jurang resesi. Apalagi, sentimen yang dibangun itu tidak didasarkan pada perhitungan ekonomi yang benar. Purbaya mengatakan, ekonom yang menyebut ekonomi RI.

"Kalau harga minyak 200 dolar per barrel semua dunia resesi. Tenang aja. Nggak usah pusing. Jadi asumsinya nggak masuk akal," ujar Purbaya kepada pewarta dikutip Senin (30/3/2026).

Dirinya pun mencontohkan stabilitas politik Amerika Serikat sudah terguncang akibat harga minyak dunia yang telah menyentuh angka US$100/barel.

"Coba anda lihat sekarang aja Amerika udah kelabakan kan? 100 dolar aja di sana BBM-nya naik hampir 100 persen. Rakyatnya mulai marah," ujarnya.

Purbaya bahkan memprediksi, jika harga minyak dunia benar-benar melonjak hingga US$ 150 per barel, dampaknya bisa mengguncang kepemimpinan Presiden AS, Donald Trump.

"Makanya si Trump langkahnya agak berbeda kan? Bisa sampai 150?. Jatuh Trump udah. Bukan kita yang jatuh sana. Kalau kita mesti dijaga disini," ujarnya.

Seperti diketahui, Harga minyak pada Jumat (27/3/2026) ditutup di level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, karena langkah Trump untuk bernegosiasi dengan Iran gagal meredakan kekhawatiran pasar terhadap gangguan besar pasokan di Timur Tengah.

Merujuk Refinitiv, harga minyak brent yang menjadi acuan global pada perdagangan Jumat (27/3/2026) di US$ 112,57 per barel atau naik 4,2%. Harga ini adalah yang tertinggi sejak 4 Juli 2022 (US$ 113,5 per barel) atau hampir empat tahun.

Harga minyak naik karena langkah Trump yang memberikan perpanjangan 10 hari kepada Iran untuk membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz gagal menenangkan kekhawatiran pasokan.

Trump menyatakan di media sosial bahwa pembicaraan dengan Iran berjalan sangat baik, meskipun ada pernyataan keliru dari media berita palsu dan pihak lain.

Sebagai bagian dari pengumuman tersebut, Trump mengatakan akan menghentikan sementara serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April. Iran sendiri belum memberikan komentar atas pernyataan terbaru ini.

(haa/haa)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |