Houthi Jadi Sekutu Iran Paling Ditakuti, Apa Kekuatan Mereka?

1 hour ago 3

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

26 August 2026 20:50

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Yaman kembali memanas setelah gencatan senjata yang berlangsung sekitar empat tahun mulai retak. Kelompok Houthi, milisi yang didukung Iran, kembali melancarkan serangan rudal dan drone, termasuk terhadap kapal yang terkait dengan Arab Saudi di Laut Merah.

Sejak pertengahan Juli, hampir tidak ada kapal tanker Saudi yang melewati Selat Bab al-Mandab.

Di darat, posisi Houthi juga jauh dari lemah. Kelompok tersebut menguasai Yaman bagian barat laut, termasuk ibu kota Sanaa dan sebagian besar pesisir barat. Sekitar 70% penduduk Yaman hidup di wilayah yang berada di bawah kendali mereka.

Kombinasi antara penguasaan wilayah, kemampuan militer dan posisi geografis inilah yang membuat Houthi lebih dari sekadar kelompok bersenjata lokal.

Houthi Mulai Mengincar Laut Merah

Pada 15 Agustus, rudal Houthi menghantam Pelabuhan Mokha, yang berada dekat Selat Bab al-Mandab. Serangan tersebut menyebabkan kerusakan sekitar US$16 juta dan memaksa pelabuhan ditutup.

Mokha juga menjadi basis National Resistance Forces, kelompok pejuang yang didukung pemerintah Yaman. Dengan menyerang pelabuhan tersebut, Houthi dapat menekan lawan di darat sekaligus memperbesar pengaruhnya di kawasan pesisir.

Serangan terhadap kapal memiliki kepentingan lain. Houthi ingin menekan Arab Saudi agar membayar gaji pegawai negeri Yaman serta melonggarkan pembatasan penerbangan dan pelayaran.

Namun, kemampuan Houthi tidak berhenti pada tekanan terhadap jalur laut.

Peta YamanPeta Yaman Foto: Economist

Dari Iran, Lalu Mandiri

Pada awalnya, kelompok tersebut banyak mengandalkan senjata jadi yang dipasok Iran. Kini, jaringan pasokannya semakin tersebar. Komponen-komponen kecil diselundupkan melalui Oman dan Uni Emirat Arab (UEA) atau dibawa menggunakan kapal dhow dari kawasan Tanduk Afrika.

Sejumlah drone Houthi bahkan dapat dibuat hampir seluruhnya tanpa komponen Iran.

Jaringan tersebut membuat serangan terhadap persenjataan mereka tidak otomatis menghentikan kemampuan militernya. Peter Salisbury dari Columbia University menyebut Houthi mampu memulihkan kemampuan yang rusak atau hancur jauh lebih cepat dari perkiraan banyak pihak.

Kemampuan teknologi mereka juga berkembang. Houthi disebut memiliki drone berbasis serat optik yang lebih sulit diganggu melalui jamming.

Saat Amerika Serikat menyerang mereka pada 2025, Houthi mengklaim telah menembak jatuh tujuh drone Reaper Amerika dan hampir mengenai sejumlah jet tempur. Bulan lalu, kelompok tersebut juga mengklaim menjatuhkan drone Bayraktar buatan Turki yang dioperasikan Arab Saudi.

Pegunungan Jadi Benteng

Wilayah dataran tinggi yang dikuasai Houthi relatif mudah dipertahankan. Kelompok tersebut juga mengambil alih sistem gua dan bunker bekas militer Yaman ketika merebut wilayah pada 2014. Bukti satelit menunjukkan sejumlah fasilitas bawah tanah itu terus diperluas.

Houthi juga memiliki pengalaman menghadapi kampanye militer yang lebih besar.

Pasukan Houthi menggelar apel siaga penuh dengan kendaraan patroli untuk solidaritas dengan Iran, seiring berlanjutnya konflik AS-Israel dengan Iran, di Sanaa, Yaman, Sabtu (28/3/2026). (REUTERS/Khaled Abdullah)Pasukan Houthi menggelar apel siaga penuh dengan kendaraan patroli untuk solidaritas dengan Iran, seiring berlanjutnya konflik AS-Israel dengan Iran, di Sanaa, Yaman, Sabtu (28/3/2026). (REUTERS/Khaled Abdullah) Foto: Pasukan Houthi menggelar apel siaga penuh dengan kendaraan patroli untuk solidaritas dengan Iran, seiring berlanjutnya konflik AS-Israel dengan Iran, di Sanaa, Yaman, Sabtu (28/3/2026). (REUTERS/Khaled Abdullah)

Pada musim panas 2025, serangan Israel menewaskan sebagian besar pemerintahan sipil kelompok tersebut, termasuk perdana menterinya. Namun, Houthi kembali membangun struktur organisasinya.

Bahkan jika pemimpinnya, Abdul-Malik al-Houthi, terbunuh, belum tentu kelompok tersebut langsung lumpuh. Ia sendiri naik menjadi pemimpin setelah saudaranya, Husayn, tewas dalam pertempuran pada 2004.

Ketahanan tersebut menjadi salah satu pembeda Houthi dibandingkan sejumlah kelompok sekutu Iran lainnya.

Sekali Diserang, Kembali Lagi

Pemerintah Yaman kini mencoba membangun kembali kekuatan untuk menghadapi Houthi. Kelompok-kelompok yang sebelumnya saling bertikai mulai menunjukkan koordinasi lebih besar, sementara kemampuan menggunakan drone juga meningkat.

Arab Saudi dan Amerika Serikat memiliki sumber daya militer yang jauh lebih besar. Tetapi Houthi telah menunjukkan bahwa keunggulan tersebut tidak otomatis menghasilkan kemenangan cepat.

Abdul-Malik al-Houthi pernah menyebut Yaman memiliki reputasi sebagai "kuburan para penjajah".

Dengan sekitar 70% penduduk Yaman berada di wilayah yang mereka kuasai, jaringan suplai yang semakin mandiri, persenjataan yang terus berkembang dan benteng alami berupa pegunungan, kekuatan Houthi tidak hanya terletak pada kemampuan menyerang.

Yang membuatnya berbahaya adalah Houthi tidak harus terus menang

(mae/mae)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |