Laut Hitam Membara, Krisis Gandum Dunia Jilid II di Depan Mata

1 hour ago 3

Zhafa Yuda Rehema,  CNBC Indonesia

26 August 2026 21:10

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman terhadap pasokan gandum dunia kembali mengintai. Jika pada 2022 perang Rusia-Ukraina memicu lonjakan harga pangan global setelah ekspor Ukraina terganggu, kali ini risikonya jauh lebih besar. Ekspor gandum Rusia dan Ukraina sama-sama menjadi sasaran serangan.

Rusia melancarkan serangkaian serangan rudal dan drone terhadap infrastruktur pelabuhan di Odesa dan sejumlah pelabuhan Ukraina lainnya. Namun, sejak Juli 2026, serangan mulai menyasar kapal-kapal dagang yang berlayar menuju pelabuhan tersebut.

Risiko yang semakin besar membuat semakin sedikit awak kapal yang bersedia mengambil risiko untuk melintas.

Peningkatan serangan Rusia ini sebagian merupakan respons terhadap serangkaian serangan Ukraina ke target-target Rusia.

Drone Ukraina bahkan praktis telah menutup Laut Azov bagi pelayaran Rusia. Pada bulan ini, Ukraina juga melancarkan serangan yang menyebabkan kerusakan parah pada terminal-terminal gandum di pelabuhan Laut Hitam Rusia, Novorossiysk. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan ekspor gandum terbesar di dunia, dengan lebih dari 30% ekspor gandum Rusia melewati fasilitas tersebut.

Peta Laut HitamPeta Laut Hitam Foto: Economist

Baik Ukraina dan Rusia adalah negara memasok porsi besar gandum dunia. Jika serangan terus mengganggu pelabuhan, infrastruktur, dan jalur pelayaran di Laut Hitam serta Laut Azov, dunia bukan hanya menghadapi gangguan perdagangan, tetapi juga berpotensi kembali terseret ke krisis gandum global dan lonjakan harga pangan.

Hampir sepertiga ekspor gandum dunia berangkat dari pelabuhan Rusia dan Ukraina di kawasan Laut Hitam serta Laut Azov.

Data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan Rusia tetap menjadi eksportir gandum terbesar di dunia pada tahun pemasaran 2025/26, dengan mengirimkan 48 juta ton gandum atau menyumbang 21,1% dari total ekspor gandum global.

Sementara itu, Ukraina mengekspor 14,1 juta ton gandum pada  2025/26, setara dengan 6,2% pangsa ekspor gandum dunia.

Ketika pasukan Rusia menginvasi Ukraina pada 2022 dan menyerang infrastruktur di kawasan tersebut, harga gandum dan berbagai komoditas biji-bijian melonjak di pasar global. Situasi baru mereda setelah tercapai kesepakatan yang dimediasi Turki dan dibukanya koridor pelayaran Ukraina yang dilindungi.

Namun, dalam beberapa pekan terakhir, pertempuran kembali mengganggu arus ekspor. Kali ini, dampaknya bukan hanya menghantam ekspor Ukraina, tetapi mulai memunculkan kekhawatiran akan krisis pangan global kedua.

Dikutip dari The Economist dengan mengutip hitungan Kpler, pada Agustus tahun lalu, Rusia dan Ukraina masih mengekspor sekitar 6,3 juta ton gandum, dari total 16 juta ton yang diperdagangkan lintas negara pada bulan tersebut. Namun, tahun ini volume ekspor gabungan keduanya diperkirakan anjlok menjadi hanya sekitar 2,5 juta ton.

Ekspor Anjlok, Harga Gandum Mulai Naik

Dampak gangguan pasokan mulai terasa di pasar global. Harga gandum telah melonjak sekitar 25% sejak awal 2026, bahkan sempat menyentuh level tertinggi dalam dua tahun.

Meski demikian, kenaikan harga saat ini masih jauh di bawah lonjakan yang terjadi pada 2022. Harga gandum kini berada di kisaran setengah dari level tertinggi yang tercatat ketika invasi Rusia ke Ukraina memicu krisis pangan global.

Pasar juga belum sepenuhnya memperhitungkan risiko gangguan pasokan yang berkepanjangan. Sejumlah negara importir di belahan bumi utara baru saja menyelesaikan musim panen, sehingga kebutuhan impor untuk sementara masih dapat ditekan.

Di sisi lain, produksi gandum global yang cukup besar pada 2025 membuat sejumlah negara masih memiliki cadangan untuk meredam dampak gangguan pasokan dalam jangka pendek.

Namun, jika gangguan ekspor Rusia dan Ukraina berlangsung lebih lama, ruang bagi stok global untuk menjadi penyangga akan semakin menyempit. Kondisi ini berpotensi kembali menekan pasar gandum dan membuka risiko kenaikan harga pangan di berbagai negara.

Harga gandumHarga gandum Foto: Economist

Pasokan Gandum Mulai Tertekan

Carlos Mera, analis Rabobank, menyebut gangguan ekspor komoditas pertanian melalui Laut Hitam saat ini sebagai yang terburuk sejak kawasan tersebut menjadi salah satu jalur utama pangan dunia.

Stok dari panen besar 2025 memang masih memberi ruang bagi negara importir untuk menunda sebagian pembelian. Namun, bantalan tersebut sangat bergantung pada berapa lama gangguan berlangsung.

Kerusakan pelabuhan, kondisi permukaan air, kapasitas jalur alternatif, biaya asuransi kapal hingga perkembangan perang akan menentukan seberapa besar gandum Rusia dan Ukraina yang masih dapat mencapai pasar internasional. Jika gangguan berlangsung lebih lama, ruang bagi importir untuk mengandalkan stok lama pun semakin menyempit.

Ukraina sebenarnya telah memiliki jalur ekspor alternatif sejak krisis 2022. Gandum dapat diangkut melalui jalan raya dan kereta api menuju Sungai Danube, kemudian diteruskan ke pelabuhan seperti Constanta di Rumania.

Namun, kapasitas jalur tersebut terbatas. Tahun ini, tantangannya semakin berat karena rendahnya permukaan air Danube mengurangi kemampuan sungai tersebut untuk mengangkut komoditas dalam volume besar.

Jalur alternatif juga meningkatkan biaya logistik bagi negara-negara Eropa Timur. Kebutuhan transportasi dan angkutan untuk mengalirkan gandum Ukraina berpotensi mengerek ongkos distribusi, sementara petani lokal justru menghadapi penurunan permintaan terhadap hasil panen mereka.

Rusia pun mulai mencari jalur alternatif dengan meningkatkan pengiriman melalui pelabuhan di Laut Baltik dan Laut Kaspia. Namun, kapasitas rute tersebut diperkirakan hanya mampu menangani sebagian kecil dari volume yang biasanya melewati Laut Hitam.

Produksi Gandum Tahun Ini Tak Sebaik 2025

Produksi gandum global pada 2025 tergolong besar sehingga negara-negara eksportir masih memiliki stok untuk meredam tekanan pasokan. Namun, kondisi produksi tahun ini diperkirakan tidak sekuat tahun sebelumnya.

Ekspor gandum dari Amerika Serikat, Kanada, dan Uni Eropa diperkirakan menurun, antara lain akibat kekeringan serta perubahan pilihan petani ke tanaman yang dinilai lebih menguntungkan. Australia juga menghadapi tekanan akibat fenomena El Niño.

Joseph Glauber dari International Food Policy Research Institute memperkirakan produksi gandum Australia dapat anjlok lebih dari 20% akibat El Niño dan kenaikan biaya pupuk yang dipicu gangguan di Selat Hormuz.

Artinya, tekanan pasokan tidak hanya datang dari Rusia dan Ukraina. Sejumlah eksportir utama lainnya juga menghadapi persoalan produksi dan biaya pada saat yang bersamaan.

Jika gangguan Laut Hitam hanya berlangsung sementara, stok global masih berpotensi menjadi bantalan dan meredam dampaknya. Namun, apabila ekspor Rusia dan Ukraina terus merosot sementara produksi negara-negara eksportir lain ikut melemah, tekanan terhadap harga gandum global berpotensi semakin besar dan lebih sulit diredam.

(mae/mae)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |