Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah menyiapkan sejumlah moda transportasi untuk membantu penanganan bencana gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Jalur udara dan laut disiapkan untuk menjangkau wilayah yang sulit ditembus melalui jalur darat.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan Kementerian Perhubungan tidak menjadi pihak yang bertanggung jawab langsung atas distribusi bantuan. Namun, Kemenhub menyediakan sarana transportasi untuk mendukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
"Kami menyediakan seperti pesawat fixed-wing atau baling-baling di sana, kemudian juga helikopter untuk membantu BNPB dalam rangka penanganan bencana, baik itu transportasi distribusi bantuan," kata Dudy di Gedung DPR RI, Jakarta, Kamis (20/8/2026).
Selain menggunakan transportasi udara, pemerintah membuka opsi pengiriman bantuan melalui jalur laut. Pilihan ini menjadi penting mengingat karakteristik wilayah NTT yang terdiri dari banyak pulau dan memiliki sejumlah daerah yang akses daratnya berpotensi sulit dilalui.
Kondisi rumah warga setelah gempa di Desa Golo Sepang, Kec. Sepang, Manggarai Barat sekitar 100 rumah rusak terdampak Gempa Flores M7,7 pada 15 Agustus 2026. (Tangkapan layar X Daryono) Foto: Kondisi rumah warga setelah gempa di Desa Golo Sepang, Kec. Sepang, Manggarai Barat sekitar 100 rumah rusak terdampak Gempa Flores M7,7 pada 15 Agustus 2026. (Tangkapan layar X Daryono)
Jalur laut dapat digunakan untuk menjangkau wilayah yang tidak bisa ditembus kendaraan melalui jalan darat. Pemerintah dapat memanfaatkan konektivitas antarpulau untuk mendukung mobilisasi bantuan selama proses penanganan bencana.
"Nah, kami juga menyarankan apabila memang jalur darat agak sulit, maka bisa dilalui dengan jalur laut karena NTT, Pulau Nusa Tenggara itu kan kepulauan, jadi kita bisa mengelilingi pulau itu untuk menjangkau wilayah-wilayah yang tidak bisa ditembus melalui jalan darat," ujar Dudy.
Di sisi infrastruktur, Kemenhub juga telah mengecek kondisi sejumlah pelabuhan dan bandara di wilayah terdampak. Pemerintah memastikan fasilitas yang masih aman dapat tetap digunakan untuk mendukung aktivitas transportasi dan penanganan bencana.
"Kondisi pelabuhan, khususnya kondisi sisi laut itu baik. Ada sekitar 27 pelabuhan. Tapi yang rusak untuk sisi terminalnya ada dua saja. Kemudian untuk bandara relatif juga untuk runway-nya, kemudian taxiway, apron, itu kondisinya masih baik," kata Dudy.
Meski demikian, sejumlah bangunan terminal bandara dilaporkan mengalami keretakan. Pemerintah menilai kerusakan tersebut belum mengganggu operasional, tetapi fasilitas yang terdampak tetap membutuhkan penanganan agar tidak membahayakan masyarakat.
"Hanya memang ada beberapa bandara yang terminalnya sedikit retak-retak, tapi itu tidak mengganggu operasional," ujar Dudy.
(fys/wur)
[Gambas:Video CNBC]

1 hour ago
4
















































