Jakarta, CNBC Indonesia - Momentum hari raya Lebaran menjadi yang paling ditunggu sebagian banyak orang. Selain menjadi titik refleksi dalam hidup dengan bersilaturahmi bersama keluarga dan sanak saudara, momentum Lebaran juga bulan yang ditunggu karena ada Tunjangan Hari Raya (THR).
Bahkan, bagi yang merasa ingin mencari tantangan baru dengan mengundurkan diri atau resign pada pekerjaannya, juga mempertimbangkan setelah berlangsungnya hari Lebaran.
Mengutip Beautynesia, berdasarkan Seek Career Advice dan Chandler Macleod, resign yang dilakukan dengan cara profesional justru bisa memperkuat citra diri dan membuka peluang di masa depan. Sebaliknya, resign yang dilakukan secara tergesa-gesa atau emosional dapat meninggalkan kesan negatif.
Berikut, sejumlah hal yang perlu diperhatikan agar proses etika resign berjalan lancar:
1. Pertimbangkan Dengan Rasional
Jangan sampai keputusan resign setelah lebaran hanya dipicu rasa malas atau kelelahan sesaat.
Sebelum benar-benar memutuskan, tanyakan beberapa hal pada diri sendiri seperti kepastian tawaran kerja, lingkungan kerja saat ini untuk mendukung perkembangan karir, serta memperbaiki kondisi karier dan finansial.
Dalam konteks etika resign dari kantor, keputusan yang matang mencerminkan profesionalisme. Resign sebaiknya menjadi langkah strategis yang direncanakan, bukan reaksi spontan karena emosi.
2. Waktu dan Kondisi Perusahaan
Timing adalah faktor krusial. Jika ingin melakukan resign setelah lebaran, perhatikan situasi internal perusahaan, seperti yang tim sedang menghadapi proyek besar, atau apakah perusahaan sedang melakukan evaluasi kinerja atau audit tahunan.
Mengundurkan diri tepat setelah libur panjang tanpa komunikasi sebelumnya bisa membuat atasan merasa terkejut atau tidak dihargai. Oleh karena itu, bagian dari etika resign adalah memberikan pemberitahuan sesuai masa notice period yang berlaku, biasanya dua hingga empat minggu, atau sesuai kontrak kerja. Dengan memberi waktu yang cukup, perusahaan dapat menyiapkan pengganti dan memastikan pekerjaan tetap berjalan lancar.
3. Niat Resign Secara Langsung dan Profesional
Hal penting dalam etika resign dari kantor adalah menyampaikan keputusan secara langsung kepada atasan. Hindari menyampaikan niat resign melalui pesan singkat, email tanpa diskusi, atau bahkan menyebarkan kabar terlebih dahulu ke rekan kerja.
Atur pertemuan khusus untuk membicarakan keputusan tersebut. Sampaikan dengan tenang dan jelas. Ucapkan terima kasih atas kesempatan, pengalaman, dan pembelajaran yang telah diberikan.
Meskipun ada ketidakpuasan selama bekerja, hindari menyampaikan kritik secara emosional. Jika ingin memberikan masukan, sampaikan secara konstruktif dan profesional. Cara kamu berbicara saat resign akan sangat memengaruhi kesan yang ditinggalkan.
4. Buat Surat Resign yang Resmi
Setelah diskusi dengan atasan, buat surat resign resmi. Isi surat sebaiknya mencantumkan sejumlah hal terkait ernyataan pengunduran diri, tanggal efektif terakhir bekerja, hingga icapan terima kasih.
Tidak perlu menuliskan alasan panjang atau keluhan terhadap perusahaan. Surat resign yang baik mencerminkan pemahaman terhadap etika resign dan menunjukkan sikap profesional. Dokumen ini akan menjadi arsip perusahaan, jadi pastikan bahasa yang digunakan sopan, jelas, dan formal.
5. Siapkan Proses Handover Secara Terstruktur
Salah satu aspek terpenting dalam etika resign dari kantor adalah memastikan proses transisi berjalan lancar. Jangan meninggalkan pekerjaan dalam kondisi setengah jalan tanpa penjelasan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan seperti membuat daftar pekerjaan yang sedang berjalan, enyusun panduan atau dokumentasi tugas, memberikan pelatihan singkat kepada pengganti, menyelesaikan proyek yang memungkinkan untuk dituntaskan.
Tindakan ini menunjukkan tanggung jawab dan integritas. Perusahaan akan mengingat kamu sebagai profesional yang tetap peduli hingga akhir masa kerja.
6. Tetap Jaga Performa Selama Notice Period
Masa notice period sering kali menjadi periode yang sensitif. Beberapa orang merasa sudah "tidak lagi terikat" sehingga bekerja seadanya. Padahal, justru di sinilah profesionalisme diuji.
Dalam situasi resign setelah lebaran, semangat kerja mungkin belum sepenuhnya stabil. Namun, tetaplah menunjukkan dedikasi hingga hari terakhir. Hindari kebiasaan buruk, seperti, datang terlambat atau pulang lebih awal tanpa alasan jelas, menyebarkan komentar negatif tentang perusahaan, dan mengabaikan tanggung jawab.
Perilaku di hari-hari terakhir akan sangat memengaruhi reputasi jangka panjang.
7. Hindari Membakar Jembatan Profesional
Dunia kerja itu cukup sempit. Rekan kerja hari ini bisa saja menjadi klien, mitra, atau bahkan atasan di masa depan. Sehingga, saat menerapkan etika resign, pastikan kamu tidak membakar jembatan profesional.
Kirimkan pesan perpisahan yang sopan, ucapkan terima kasih atas kerja sama, dan tetap terhubung melalui jaringan profesional. Hubungan yang baik bisa membuka peluang kolaborasi di masa mendatang.
(dce)
Addsource on Google

2 hours ago
2
















































