Jejak Mukjizat Yesus Akhirnya Ditemukan, Ternyata di Laut RI

7 hours ago 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Hari ini umat Kristiani memperingati Hari Kenaikan Yesus Kristus. Tak banyak yang tahu ternyata ada kisah mukjizat Yesus yang jejaknya kini ditemukan di Indonesia. Mukjizat itu berkaitan dengan ikan tilapia, yang diyakini sebagai ikan pembawa uang dirham dalam kisah terkenal di Danau Galilea.

Sebagai wawasan, mukjizat itu terkait cerita Petrus yang hidup ribuan tahun lalu di sekitar Danau Galilea. Dia merupakan murid Yesus yang sehari-hari mencari nafkah dengan menangkap ikan di danau.

Petrus kemudian pergi ke Danau Galilea dan menangkap seekor ikan. Ketika mulut ikan itu dibuka, terdapat uang dirham yang cukup untuk membayar pajak dirinya dan Yesus. Kisah ini kemudian dikenal sebagai salah satu mukjizat Yesus dalam tradisi Kristen.

Berabad-abad kemudian, sejumlah peneliti mencoba menelusuri jenis ikan yang dimaksud dalam cerita tersebut dan mengapa bisa ada benda asing di mulut ikan. Penulis Grant Jeffrey dalam buku The Handwriting of God (1997) menyebut ikan itu kemungkinan adalah tilapia yang dikenal sebagai Saint Peter Fish atau Ikan Santo Petrus.

Semasa hidup, tilapia memang merupakan ikan endemik Danau Galilea atau Danau Tiberias. Dalam buku The Biology and Culture of Tilapias (1982) dijelaskan, ikan ini memiliki kebiasaan mouthbrooding, yakni menyimpan telur di dalam mulut untuk melindungi anak-anaknya dari predator.

"Biasanya, induk betina akan memungut telur-telurnya ke dalam mulut setelah dibuahi hingga menetas," tulis buku tersebut.

Saat tidak memasuki masa reproduksi, tilapia juga kerap memasukkan benda asing ke dalam mulutnya. Kebiasaan inilah yang dianggap cocok dengan kisah ikan pembawa dirham dalam Injil.

Menariknya, ikan tilapia kini sangat akrab di Indonesia. Salah satu jenisnya dikenal sebagai ikan mujair dengan nama Latin Tilapia mossambica (Oreochromis mossambicus Peters). Ikan ini pertama kali populer di Indonesia setelah ditemukan oleh pria asal Blitar bernama Moedjair pada 1936 di perairan selatan Jawa.

Kala itu, Moedjair membawa beberapa ikan laut ke kolam air tawar di rumahnya. Salah satu ikan ternyata mampu bertahan hidup dan berkembang biak sangat cepat. Penemuan tersebut menarik perhatian pejabat Belanda bernama Schuster yang kemudian mengidentifikasi ikan itu sebagai tilapia.

"Ternyata itu Tilapia mossambica," kata Schuster setelah melakukan penelitian lebih lanjut, dikutip dari Studies on Tilapia Mossambica Peters (ikan Mudjair) in Indonesia (1952).

Sejak saat itu, masyarakat mulai membudidayakan mujair secara luas. Menurut majalah Landbouwkundig Tijdschrift (Desember 1948), ikan mujair banyak dibudidayakan di tambak-tambak oleh penduduk lokal, sehingga makin tersebar luas. Posisinya perlahan mulai menggantikan bandeng, udang, dan beragam hewan air lain, terlebih dalam situasi sulit.

Selain mujair, Indonesia juga mengenal ikan nila yang masih satu keluarga dengan tilapia. Keduanya menjadi komoditas penting sektor perikanan nasional.

Berdasarkan data Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2023, Indonesia menjadi eksportir tilapia terbesar kedua di dunia dengan volume mencapai 1,42 juta ton atau sekitar 20,11% pasar global, hanya kalah dari China.

Sanggahan: Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa kini lewat relevansinya di masa lalu. Lewat kisah seperti ini, CNBC Insight juga menghadirkan nilai-nilai kehidupan dari masa lampau yang masih bisa dijadikan pelajaran di hari ini.

(mfa/mfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |