Legenda Ratapan Anak Tiri

6 hours ago 4

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pengantar Serial Matinya Ilmu Ekonomi: Di tengah dunia yang terus bergerak cepat namun terasa semakin kosong, kami mengajak anda untuk berhenti sejenak, untuk menoleh ke belakang, menatap ke dalam, dan melihat ke depan.

Serial Matinya Ilmu Ekonomi bukan sekadar kumpulan kritik. Ia adalah upaya jujur untuk memandang ilmu ekonomi dari sudut yang jarang diterangi: dari sisi yang tidak selalu efisien, tidak selalu rasional, tapi sepenuhnya manusiawi.

Di sini, kami ingin menyegarkan kembali ingatan kita akan mengapa ekonomi ada, bukan hanya sebagai alat hitung, tetapi sebagai cermin kegembiraan, pencapaian, penderitaan, ketimpangan, dan harapan zaman.

---

Ibuku punya satu cara sederhana untuk membuatku menurut ketika kecil. Ia tidak perlu memukul, tidak perlu membentak, tidak perlu menyita mainanku. Ia hanya perlu berkata: "Kalau Mama nggak ada nanti kamu punya ibu tiri."

Dan seketika aku terdiam. Aneh memang. Sampai hari ini aku masih mengingatnya. Padahal ibuku tidak pernah benar-benar mengancam, ia mengucapkannya sambil tertawa. Kadang ketika aku menolak makan, kadang ketika terlalu manja, atau mulai merengek meminta sesuatu yang tidak perlu.

Tetapi setiap kali dua kata itu muncul, aku langsung diam, Ibu tiri. Sebagai anak Indonesia pada awal 1990-an, tidak ada kombinasi kata yang terdengar lebih menyeramkan daripada itu. Hari ini aku sadar ketakutan itu tidak muncul begitu saja.

Seseorang menanamnya di kepalaku, mungkin televisi, mungkin bioskop, mungkin cerita ibu-ibu, atau mungkin seorang anak perempuan bernama Faradilla Sandy yang wajahnya pernah menghantui masa kecil jutaan anak Indonesia.

Aku bahkan sudah lupa kapan pertama kali menonton film "Ratapan Anak Tiri" yang menghantui itu. Yang kuingat hanya perasaannya, setelah film itu selesai, aku merasa ada sesuatu yang berubah. Untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa orang tua bisa pergi, bahwa rumah bisa berubah. Bahwa dunia tidak selalu berjalan sesuai yang dijanjikan orang dewasa.

Tahun-tahun berlalu, aku tumbuh besar, Indonesia juga makin besar. Televisi yang dulu hanya TVRI dan lima stasiun swasta berubah menjadi ratusan pilihan tontonan. Kaset berubah menjadi CD, CD berubah menjadi file digital, lalu semuanya pindah ke telepon genggam.

Aku mengira kisah-kisah itu sudah hilang. Sampai suatu sore beberapa bulan lalu, aku menemukan diriku melakukan sesuatu yang bahkan terasa sedikit aneh. Aku mencari Ratapan Anak Tiri. Aku tidak tahu kenapa, mungkin nostalgia, mungkin usia.

Mungkin ada bagian dari diriku yang ingin bertemu kembali dengan ketakutan masa kecilnya. Pencarian itu membawaku ke sebuah toko tua di pinggiran Jakarta. Di sana aku tidak hanya menemukan Ratapan Anak Tiri, "Aku menemukan seluruh kerajaannya".

Rak-rak kayu tua berdiri rapat hingga hampir menyentuh langit-langit. Di atasnya tersusun ratusan kaset VHS dan Betamax yang sampulnya telah memudar dimakan waktu. Sebagian plastiknya menguning. Sebagian lagi bahkan mulai retak. Tetapi nama-namanya masih terbaca.

Ratapan anak Tiri 1, 2 dan 3, Ratapan dan Rintihan, Air Mata Ibu, Derita Tiada Akhir, Badai Pasti Berlalu, Luka di Atas Luka, dan banyak lagi. Aku tertawa kecil, rasanya seperti menemukan museum nasional penderitaan.

Aku mengambil satu kaset, lalu yang lain, lalu yang lain lagi. Semakin lama aku memperhatikan, semakin aneh perasaanku. Seolah-olah sebuah bangsa pernah menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menangis.

Di rak sebelah, seorang bapak tua yang mungkin pemilik toko sedang memperbaiki pemutar VHS yang entah masih berfungsi atau tidak. "Masih ada yang cari film-film begini, Pak?," tanyaku.

Ia mengangkat kepala sebentar lalu tersenyum. "Masih.", "Kenapa ya dulu judulnya sedih semua?", Ia tertawa kecil. "Karena dulu hidup memang susah." Jawabannya sederhana, terlalu sederhana, karena aku tahu itu tidak sepenuhnya benar.

Tahun-tahun ketika film-film itu dibuat justru adalah tahun-tahun ketika Indonesia sedang sibuk membangun dirinya. Jalan baru dibuka, pabrik berdiri, kota-kota membesar. Televisi masuk ke ruang tamu, orang-orang mulai membeli sepeda motor. Sebagian bahkan mulai bermimpi memiliki rumah sendiri di kota, jadi orang gedongan katanya.

Secara statistik, negeri ini sedang bergerak maju ketika itu, tetapi anehnya, layar bioskop justru dipenuhi anak-anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang tercerai-berai, ibu yang menangis, dan manusia yang ditinggalkan nasib, Ratapan Anak Tiri yang menghantui imajinasiku itupun ternyata adalah salah satu film terlaris tahun 1974.

Aku berdiri cukup lama di depan rak itu. Semakin banyak judul yang kubaca, semakin aneh perasaanku. Seolah-olah seluruh industri perfilman Indonesia pada suatu masa pernah sepakat bahwa tidak ada hiburan yang lebih menarik daripada penderitaan.

Anak hilang, Ayah meninggalkan keluarga ke kota, Ibu menangis, anak tiri disiksa, orang miskin dipermalukan. Dan hampir selalu ada seseorang yang pergi meninggalkan rumah, entah apapun alasannya, merantau mencari uang dan peruntungan, kena masalah hukum, pertengkaran, apapun itu.

Awalnya aku mengira itu hanya kebetulan. Sampai mataku menangkap beberapa nama lain yang tak kalah terkenal. Ada film tentang seorang anak yang ditinggalkan ayahnya setelah sang ayah berhasil di kota.

Ada kisah Elvy Sukaesih yang terlupakan oleh keluarganya sendiri. Ada cerita anak-anak yang mencari ayah mereka ke Jakarta, tapi ternyata ayahnya sudah kawin lagi. Ada pula kisah-kisah yang hampir selalu berakhir dengan pertemuan yang terlambat atau penyesalan yang datang setelah semuanya berubah.

Aneh, Karena semakin banyak judul yang kulihat, semakin aku merasa bahwa aku tidak sedang melihat kumpulan film yang berbeda. Aku sedang melihat cerita yang sama, diceritakan berulang-ulang. Dengan wajah yang berbeda, dengan aktor yang berbeda.

Dengan lagu yang berbeda, tetapi dengan luka yang sama. Aku kembali memandang bapak tua pemilik toko itu. Di luar, suara sepeda motor dan truk bercampur dengan suara azan yang mulai terdengar dari kejauhan. Jakarta bergerak seperti biasa, terburu-buru menuju esok hari.

Lalu tiba-tiba aku menyadari sesuatu. Mungkin yang membuat film-film ini laris bukan karena masyarakat Indonesia menyukai kesedihan. Mungkin mereka datang ke bioskop karena mereka mengenali dirinya sendiri. Sebab di balik ibu tiri, ayah yang menikah lagi, anak yang kehilangan rumah, dan keluarga yang tercerai berai, ada satu cerita yang terus berulang. Seseorang pergi, lalu ada yang ditinggalkan. Dan seseorang yang lain harus belajar menerima dunia yang tidak lagi sama.

Aku mengambil kembali kaset Betamax Ratapan Anak Tiri dari raknya. Untuk pertama kalinya aku mulai curiga bahwa film-film ini tidak sedang bercerita tentang keluarga. Mereka sedang bercerita tentang Indonesia, Tentang sebuah bangsa yang sedang bergerak.

Tentang desa-desa yang mulai mengirim anak-anaknya ke kota, tentang ayah-ayah yang berangkat mencari kehidupan yang lebih baik, melepas anak istri dengan lambaian dari atas Bis, tentang keluarga yang perlahan terpisah oleh jarak. Semua tentang harga yang harus dibayar ketika sebuah negeri mulai membangun dirinya.

Dan mungkin, pikirku, di sinilah letak rahasianya. PDB mungkin mencatat apa yang pembangunan hasilkan, tetapi film-film ini menyimpan apa yang pembangunan rasakan. Film-film ratapan itu bukan sekadar hiburan, Mereka adalah arsip emosional sebuah bangsa yang sedang belajar berpisah.

Setelah menonton lagi "Ratapan Anak Tiri" itu, aku merasakan ketidakadilan karena film itu. Selama puluhan tahun, ibu tiri menjadi tokoh antagonis nasional. Ia muncul ketika ayah menikah lagi, Ia datang setelah ibu meninggal, Ia membawa penderitaan.

Ia membuat anak menangis. Dan hampir selalu, ia harus menjadi orang jahat agar cerita bisa berjalan. Tetapi hidup jarang sesederhana itu. Aku mengenal beberapa ibu tiri dalam kehidupan nyata, jarang sekali dari mereka mirip dengan film-film itu.

Sebagian membesarkan anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Sebagian memasak, mencuci, mengantar sekolah, menghadiri rapat orang tua murid, dan mengkhawatirkan nilai ujian anak-anak yang bahkan tidak pernah mereka lahirkan.

Mereka melakukan semua itu tanpa pernah mendapatkan gelar pahlawan, mungkin karena masyarakat sudah lebih dulu menulis perannya. Di layar bioskop, mereka telah ditakdirkan menjadi tersangka. Aku memandang kembali sampul Ratapan Anak Tiri, lalu tiba-tiba muncul pertanyaan yang aneh. Bagaimana jika selama ini kita salah memahami tokoh utama dalam cerita itu? Bagaimana jika ibu tiri tidak pernah menjadi tokoh utamanya? Bagaimana jika ia hanya simbol?

Karena ketika aku mulai memperhatikan lebih teliti, ketakutan yang muncul dalam film-film ratapan ternyata selalu sama. Bukan ketakutan terhadap ibu tiri, melainkan ketakutan terhadap sesuatu yang datang setelah kehilangan.

Ketika seseorang yang lama pergi, dan seseorang yang baru datang menggantikannya, Itulah yang sebenarnya ditakuti anak-anak. Bukan ibu tiri, tetapi penggantian, replacement.

Sesuatu yang pernah memberi rasa aman hilang. Lalu dunia berkata: "Tenang saja. Ada penggantinya." Tetapi hati manusia tidak pernah bekerja seperti itu. Tidak ada pengganti untuk ibu, tidak ada pengganti untuk rumah masa kecil, tidak ada pengganti untuk kampung halaman. Dan mungkin tidak ada pengganti yang sempurna untuk dunia yang sedang kita tinggalkan.

Aku terdiam, Karena tiba-tiba aku merasa sedang membaca sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar sejarah perfilman Indonesia. Bukankah pembangunan juga melakukan hal yang sama? Desa perlahan digantikan kota, sawah digantikan pabrik. Halaman rumah digantikan perumahan, warung digantikan minimarket, keluarga besar digantikan keluarga inti, tetangga digantikan satpam kompleks. Semua berubah.

Dan seperti ibu tiri dalam film-film lama itu, penggantinya tidak selalu jahat. Bahkan sering kali lebih efisien, lebih modern, lebih makmur. Tetapi tetap saja ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang tidak pernah masuk ke dalam statistik. Sesuatu yang tidak pernah tercatat dalam angka pertumbuhan ekonomi.

Aku mulai membayangkan Indonesia pada awal 1970-an. Ayah berangkat ke Jakarta, anak-anak ditinggalkan di kampung. Sebagian berhasil, sebagian gagal. Sebagian pulang membawa sepeda motor dan mobil, sebagian tidak pernah pulang sama sekali.

Sementara itu di bioskop, Faradilla Sandy menangis, Elvy Sukaesih menangis, dan Rhoma Irama bernyanyi tentang orang-orang kecil yang terhimpit kota. Jutaan penonton membeli tiket untuk melihatnya. Hari ini para ekonom mengingat masa itu sebagai era dimulainya pembangunan dan industrialisasi, dan investor menyebutnya awal modernisasi.

Tetapi mungkin masyarakat biasa mengingatnya dengan cara yang berbeda. Mereka mengingatnya sebagai masa ketika semakin banyak orang pergi, dan semakin banyak orang belajar hidup setelah ditinggalkan.

Tiba-tiba aku teringat jawaban bapak tua pemilik toko tadi. "Karena dulu hidup memang susah." Aku tersenyum kecil, Mungkin ia benar. Tetapi bukan susah seperti yang dibayangkan ekonom.

Bukan soal pendapatan, bukan soal kemiskinan, bukan soal konsumsi. Melainkan susah karena sebuah bangsa sedang belajar meninggalkan dunia lamanya, tanpa benar-benar tahu seperti apa dunia baru yang menunggunya. Dan ketika masyarakat tidak punya bahasa untuk menjelaskan perubahan sebesar itu, mereka membuat film, lagu, cerita dan ratapan.

Karena terkadang, air mata mampu menjelaskan sesuatu yang tidak sanggup dijelaskan oleh angka. Generasi yang menonton Faradilla Sandy itu justru adalah generasi yang berhasil. Mereka adalah generasi yang membangun Indonesia modern. Mereka paling tidak saat ini sudah berusia 40 tahun.

Mereka menyaksikan televisi masuk ruang tamu, jalan tol dibangun, kampus bertambah, sepeda motor menjadi terjangkau, perumahan tumbuh, dan kelas menengah Indonesia lahir. Mereka adalah generasi yang mengubah Indonesia dari negeri yang relatif miskin menjadi ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Karena itulah semakin lama aku memandangi rak-rak kaset tua itu, semakin aku merasa ada sesuatu yang tidak beres. Kalau pembangunan adalah kisah keberhasilan, mengapa kenangan yang ditinggalkannya justru dipenuhi ratapan?

Kalau masa depan benar-benar datang seperti yang dijanjikan, mengapa layar bioskop dipenuhi anak-anak yang kehilangan rumah, ibu yang kehilangan suami, dan keluarga yang kehilangan seseorang yang mereka cintai? Aku memandang kembali sampul-sampul film itu.

Lalu perlahan aku mulai mengerti. Mungkin masyarakat mengingat fase pembangunan itu dengan cara yang berbeda. Mereka mengingatnya sebagai masa ketika semakin banyak orang pergi, dan semakin banyak orang belajar hidup baru setelah ditinggalkan."

Mungkin itulah sebabnya hampir semua ratapan selalu dimulai dengan seseorang yang pergi, Karena pembangunan pada akhirnya adalah kisah tentang perpindahan.
Orang berpindah pekerjaan, berpindah kota, berpindah kelas sosial, berpindah cara hidup. Dan setiap perpindahan selalu meninggalkan sesuatu di belakang.

Aku teringat rumah-rumah kayu yang perlahan kosong di berbagai kampung di Sumatera. Teras-teras yang dahulu ramai kini hanya ditempati orang tua yang rambutnya mulai memutih. Warung-warung kecil yang dulu menjadi pusat cerita perlahan digantikan minimarket yang lebih terang.

Tidak ada yang salah dengan itu. Sebagian besar perubahan itu bahkan membuat hidup menjadi lebih baik. Tetapi tetap saja ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang terlalu kecil untuk dicatat negara, tetapi terlalu besar untuk dilupakan manusia.

Mungkin karena itulah cerita-cerita ratapan ini populer. Bukan untuk menolak pembangunan, melainkan untuk menyimpan kenangan tentang hal-hal yang tidak ikut terbawa ke sana. Tentang rumah yang ditinggalkan, tentang orang-orang yang tidak sempat ikut naik ke kereta pembangunan. Tentang suara-suara yang perlahan menghilang dari kehidupan sehari-hari. Tentang dunia lama yang perlahan memudar sebelum sempat difoto.

Dan untuk pertama kalinya aku mulai melihat film-film itu secara berbeda. Mereka bukan cerita tentang kegagalan atau malfungsi keluarga. Justru sebaliknya, mereka adalah bayangan yang selalu muncul ketika sebuah masyarakat sedang berhasil berubah.

Karena setiap kali sebuah bangsa bergerak maju, selalu ada sesuatu yang tertinggal di belakangnya. Dan terkadang, yang tertinggal bukanlah uang, melainkan kenangan, kedekatan, rasa memiliki, serta bagian-bagian kecil dari kehidupan yang dahulu terasa begitu biasa, sampai suatu hari kita menyadari bahwa semuanya telah hilang.

Aku menaruh kembali kaset itu ke rak, matahari mulai turun. Bapak tua pemilik toko kembali sibuk dengan pemutar VHS yang dibongkarnya. Aku mengucapkan terima kasih lalu melangkah keluar. Di luar, Jakarta masih bergerak seperti biasa. Motor lalu lalang, pedagang gorengan mulai menyalakan lampu, dan suara azan terdengar dari kejauhan.

Aku berjalan pelan menyusuri trotoar yang mulai basah oleh hujan sore tadi. Masih memikirkan Faradilla Sandy dan film Ratapan Anak Tiri. Masih memikirkan ayah-ayah yang pergi, masih memikirkan rumah-rumah yang perlahan kosong. Masih memikirkan betapa anehnya sebuah bangsa yang sedang membangun justru menyimpan begitu banyak cerita tentang kehilangan.

Tiba-tiba sebuah truk melintas terlalu dekat. Byuurrr! Air genangan memercik ke celanaku. "Aduh!" gerutuku sambil mundur. Truk itu terus berjalan, Aku hampir saja mengumpat. Sampai mataku menangkap tulisan di belakangnya. *"SEKEJAM-KEJAMNYA IBU TIRI, LEBIH KEJAM IBU KOTA"*. Aku terdiam sambil bergumam "Masya Allah".

Truk itu makin jauh, melewati lampu merah, lalu hilang di tikungan. Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku merasa benar-benar mengerti apa yang sedang diceritakan oleh "Ratapan Anak Tiri".

Dirgahayu ke-81 Republik Indonesia! Merdeka!


(miq/miq)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |