Emanuella Bungasmara Ega Tirta, CNBC Indonesia
15 April 2026 19:58
Jakarta,CNBC Indonesia- Di hampir setiap dapur modern, lada hitam hadir diam-diam. Ia ditabur di atas steak, masuk ke kuah sup, meresap ke saus, lalu hilang dari perhatian.
Vietnam kini berdiri sebagai eksportir lada terbesar dunia. Negeri itu sempat menguasai sekitar 55% pasokan lada global. Pada 2022, Vietnam diproyeksikan mengekspor 220 ribu ton lada dengan nilai US$962 juta.
Dalam 11 bulan pertama tahun itu saja, pengiriman sudah menembus lebih dari 212 ribu ton ke lebih dari 80 negara dan wilayah.
Artinya, ketika restoran di Eropa mengisi grinder lada, ketika pabrik makanan di Amerika mencampur bumbu kemasan, besar kemungkinan bahan bakunya datang dari kebun Vietnam.
Melansir dari Hanfimex, keunggulan Vietnam lahir dari kombinasi yang jarang dimiliki pesaingnya sekaligus. Iklim tropis lembab memberi kondisi ideal bagi tanaman lada.
Tanah subur di wilayah Gia Lai, Dak Lak, hingga Ba Ria Vung Tau menopang produktivitas tinggi.
Kawasan Phu Quoc bahkan dikenal memiliki aroma lada yang khas. Saat negara lain bergantung pada musim, Vietnam membangun pasokan yang lebih konsisten. Dalam perdagangan global, kestabilan sering lebih mahal daripada sekadar volume besar.
Mereka juga bergerak cepat di sisi industri. Lada dipanen, dijemur, dibersihkan, dipilah, lalu diproses sesuai standar ekspor. Pembeli besar mencari ukuran seragam, kadar air terukur, residu rendah, dan pengiriman tepat waktu.
Vietnam menyesuaikan diri pada kebutuhan itu. Karena itu lada Vietnam bukan cuma komoditas pertanian, melainkan produk manufaktur pangan dengan spesifikasi jelas.
Faktor berikutnya datang dari diplomasi dagang. Perjanjian perdagangan bebas Vietnam dengan Uni Eropa memberi akses tarif jauh lebih ringan dibanding sejumlah pesaing regional. Saat tarif turun, harga akhir menjadi lebih kompetitif.
Dalam bisnis rempah yang marginnya ketat, selisih kecil bisa menentukan kontrak besar. Ini membantu Vietnam memperluas pasar ke Eropa, Amerika Serikat, Timur Tengah, hingga India.
Melansir WITS World Bank, pada 2023 untuk kategori pepper, crushed or ground memperlihatkan dominasi itu tetap terasa.
Vietnam mencatat ekspor US$171,6 juta dengan volume 29,8 juta kilogram. Jaraknya sangat lebar dari India di posisi berikutnya yang membukukan US$38,8 juta. Uni Eropa, Jerman, dan Amerika Serikat menyusul di bawahnya. Angka ini memberi gambaran sederhana: Vietnam bukan pemain besar biasa, melainkan pusat gravitasi pasar lada olahan dunia.
Lalu di mana posisi Indonesia? Pada kategori yang sama, Indonesia mencatat ekspor sekitar US$5,59 juta dengan volume 1,03 juta kilogram pada 2023. Indonesia masih masuk peta perdagangan lada global, tetapi skala bisnisnya jauh di bawah Vietnam.
Jauh sebelum Vietnam naik takhta, Indonesia pernah menjadi salah satu penguasa lada dunia. Selama berabad-abad pada era perdagangan rempah, wilayah Nusantara menjadi pemasok utama lada global bersama India.
Pada abad ke-16 hingga ke-18, lada dari Banten, Lampung, dan Sumatra menjadi komoditas yang sangat diburu bangsa Eropa. Permintaan tinggi atas rempah-rempah bahkan mendorong ekspedisi dagang besar-besaran ke Asia Tenggara.
Saat era Dutch East India Company, perdagangan lada Nusantara semakin dominan. Perusahaan dagang Belanda itu menguasai jalur distribusi rempah dan menjadikan lada sebagai salah satu komoditas utama.
Memasuki abad ke-19, posisi Indonesia masih kuat meski pamor lada mulai tersaingi oleh komoditas lain seperti kopi, gula, dan karet. Namun pada abad ke-20, dominasi tersebut perlahan memudar seiring munculnya pesaing baru seperti Vietnam dan Brazil.
Padahal secara sejarah, Nusantara pernah menjadi salah satu sumber rempah yang membuat kapal-kapal Eropa berlayar berbulan-bulan ke timur. Kini panggung itu bergeser.
Jarak ini lahir dari beberapa persoalan klasik seperti produktivitas kebun, kualitas pascapanen, fragmentasi petani kecil, hilirisasi yang belum kuat, hingga konsistensi standar ekspor. Pasar global tidak membeli nostalgia sejarah rempah. Mereka membeli mutu yang sama setiap kontainer, harga yang masuk akal, dan suplai yang bisa diprediksi.
CNBC Indonesia Research
(emb/emb)
Addsource on Google

6 hours ago
5
















































