Mengapa Netanyahu Tak Membiarkan Timur Tengah Damai?

5 hours ago 5
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Timur Tengah kembali memanas, dengan eskalasi Israel di Lebanon yang dinilai bukan sekadar operasi militer biasa. Pakar menilai langkah Tel Aviv di sana, mencerminkan "strategi jangka panjang" yang membuat perdamaian sulit terwujud dalam waktu dekat di Teluk.

Menurut Presiden Pusat Studi Timur Tengah sekaligus dosen tamu Universitas HSE Moskow, Murad Sadygzade, operasi militer Israel di Lebanon telah melampaui dalih serangan presisi terhadap infrastruktur militer Hizbullah.

"Ini bukan sekadar upaya taktis untuk menahan Hizbullah, melainkan proyek untuk membentuk ulang realitas militer dan politik di Lebanon selatan," ujarnya, seperti dikutip RT, Rabu (15/4/2026).

Ia menambahkan, pembentukan "zona keamanan" pada praktiknya berarti kontrol wilayah jangka panjang. Dalam bahasa kawasan, tegasnya, ini berarti depopulasi wilayah perbatasan dan penciptaan fakta baru di lapangan yang sulit dibalikkan.

Proyek Teritorial & Eskalasi Militer

Eskalasi dimulai awal Maret setelah Hizbollah merespons serangan terhadap Iran. Israel kemudian melancarkan serangan udara besar dan memperluas operasi darat di Lebanon selatan.

Menteri Pertahanan Israel bahkan secara terbuka menyebut target zona keamanan hingga Sungai Litani, yang mencakup hampir 10% wilayah Lebanon. Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu juga berbicara soal perluasan area tersebut.

Menurut Sadygzade, sinyal politik semakin jelas. Apalagi ketika Menteri Keuangan Bezalel Smotrich menyatakan bahwa perbatasan Israel seharusnya mencapai Sungai Litani.

"Ketika pejabat senior berbicara soal perubahan perbatasan dan militer menghancurkan desa-desa, kesimpulannya jelas: ini adalah pendudukan terselubung," tegasnya.

Korban Sipil & Tekanan Regional

Serangan besar pada 8 April menjadi titik paling berdarah. Israel mengklaim menyerang lebih dari 100 target Hizbullah di Beirut, Lembah Bekaa, dan Lebanon selatan.

Namun, data otoritas Lebanon menunjukkan 254 orang tewas dan lebih dari 1.100 luka-luka. Serangan ini juga memicu eksodus besar, dengan lebih dari 1 juta warga mengungsi.

Komisaris Tinggi HAM PBB menyebut serangan itu sebagai "pembantaian" yang merusak peluang gencatan senjata. Skala kekerasan ini menunjukkan bahwa strategi Israel bukan lagi sekadar menghancurkan musuh.

"Tetapi melemahkan secara permanen melalui kontrol wilayah," kata Sadygzade.

Perang Jadi Alat Politik Netanyahu

Analisis Sadygzade juga menyoroti faktor kunci: kepentingan politik domestik Israel. Menurutnya, perang menjadi instrumen penting bagi Netanyahu untuk mempertahankan kekuasaan.

"Tanpa perang, tekanan politik akan kembali. Pertanyaan tentang kegagalan strategi dan akuntabilitas akan muncul," ujarnya.

Ia menilai konflik membantu Netanyahu mengalihkan perhatian publik dari krisis internal dan menunda potensi pemilu yang berisiko bagi posisinya. Perang, ujarnya, memberi ruang untuk mempertahankan agenda keamanan dan menunda perhitungan politik.

Di sisi lain, Hizbullah berada dalam posisi sulit. Selain menghadapi serangan Israel, kelompok ini juga mendapat tekanan dari pemerintah Lebanon yang mulai membatasi aktivitas militernya.

Meski demikian, kelompok tersebut masih mampu meluncurkan ratusan roket dan drone ke Israel. Belum lagi, konflik Lebanon kini juga terhubung dengan dinamika regional.

Iran menuntut agar gencatan senjata mencakup Lebanon dalam negosiasi dengan AS. Namun Israel menolak memasukkan wilayah tersebut dalam kerangka de-eskalasi.

"Sikap ini menunjukkan upaya Israel mempertahankan kebebasan operasi militernya," katanya.

"Israel ingin tetap membentuk ulang kawasan sambil tetap terlibat dalam negosiasi regional," ujarnya.

Proyek Geopolitik Jangka Panjang

Secara keseluruhan, ia menyimpulkan konflik ini telah berubah menjadi proyek geopolitik jangka panjang. Ditegaskannya, bagi sebagian elite Israel, ini juga menjadi alat untuk mempertahankan kekuasaan politik.

"Dengan kombinasi kepentingan teritorial, tekanan domestik, dan dinamika regional, peluang perdamaian di Timur Tengah dalam waktu dekat sangat kecil," tambahnya.

"Selama logika ini bertahan, konflik berkepanjangan hampir tak terhindarkan," pungkasnya.

(tfa/sef/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |