Jakarta, CNBC Indonesia - Permasalahan KRL Commuter Line di lintas Tanah Abang-Rangkasbitung masih menjadi topik yang hangat di media sosial. Para penumpang setia alias anak kereta (anker) berkeluh kesah karena harus desak-desakan hingga menunggu lama setiap harinya.
PT KAI Commuter atau KCI mencatat jumlah penumpang di jalur tersebut sebanyak 43 juta lebih di 2022. Jumlahnya naik 43% menjadi 62 juta lebih pada 2023. Pada tahun 2024 jumlahnya naik lagi 13% menjadi 69 juta lebih orang. Sedangkan di tahun 2025 naik 11% sebanyak 77 juta lebih orang.
PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI dan KCI, sudah berupaya untuk mengurai kepadatan KRL jalur tersebut di jam-jam sibuk hari kerja, mulai dari penambahan perjalanan, hingga lain-lainnya.
Upaya lainnya yakni terus melakukan ujicoba KRL 12 gerbong atau SF 12. Namun, karena banyaknya keterbatasan sarana dan prasarana, membuat penguraian kepadatan belum berjalan efektif.
Corporate Secretary Vice President KAI Commuter, Karina Amanda mengungkapkan masih banyak kendala yang tengah dihadapi jalur KRL tersebut, mulai dari kapasitas gardu listrik untuk daya Listrik Aliran Atas (LAA) yang terbatas, sistem persinyalan yang juga terbatas, hingga jumlah rangkaian yang tersedia.
Daya listrik yang masih terbatas dan beberapa stasiun yang peronnya belum mengakomodir KRL SF 12 membuat KRL tersebut belum bisa beroperasi di jalur itu.
"Jalur Rangkasbitung masih menggunakan SF 10 karena menyesuaikan kondisi prasarana layanan di lintas tersebut, salah satunya daya LAA dan panjang peron yang belum semua bisa melayani untuk KRL SF12," kata Karina kepada CNBC Indonesia, Jumat (27/3/2026).
Foto: Penumpang KRL Green Line penuh sesak di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Kamis (26/3/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Penumpang KRL Green Line penuh sesak di Stasiun Tanah Abang, Jakarta, Kamis (26/3/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)
Hal ini juga membuat KRL baru buatan China dan PT INKA (Persero) belum bisa dioperasikan di jalur Tanah Abang-Rangkasbitung. Apalagi, kedua KRL baru ini membutuhkan daya listrik yang cukup besar.
"Untuk rangkaian KRL buatan INKA dan CRRC (China) merupakan rangkaian dengan SF 12, sehingga belum bisa di green line dikarenakan perlu dilakukan penambahan kapasitas prasarana yaitu penambahan daya LAA dan perpanjangan peron stasiun," lanjutnya.
Selain karena masalah kapasitas daya listrik yang masih rendah dan ada beberapa stasiun yang peronnya belum mengakomodir KRL tersebut, persinyalan yang masih menggunakan sistem blok tertutup juga menjadi kendala lainnya. Hal ini juga membuat headway KRL juga sulit untuk diperpendek.
"Saat ini sistem persinyalan pada lintas Rangkasbitung memang masih menggunakan sistem blok tertutup, sehingga perjalanan antar KRL hanya dapat melayani perjalanan KRL hanya dari stasiun ke satu stasiun lainnya," jelasnya.
Diharapkan, jalur ini mendapatkan peningkatan persinyalan, di mana seharusnya sudah menggunakan sistem blok terbuka agar headway KRL bisa diperpendek menjadi 5-8 menit.
Meski begitu, KAI Commuter selaku operator KRL Commuter Line di jalur Tanah Abang-Rangkasbitung selalu berupaya untuk berkoordinasi dengan pihak terkait agar mendapatkan peningkatan daya listrik dan prasarana lainnya.
"KAI Commuter sebagai operator Commuter Line, kami berupaya memberikan layanan terbaik untuk semua pengguna tidak hanya di green line, namun demikian perlu adanya peningkatan tidak hanya dari sarana tapi juga prasarananya, termasuk daya listrik dan pengembangan lebih lanjut di Stasiun Tenjo . KAI Commuter dan KAI terus berkoordinasi dengan pemerintah dan PT KAI untuk pengembangan perkeretaapian di jalur tersebut," terangnya.
(chd/wur)
Addsource on Google

4 hours ago
3
















































