Jakarta, CNBC Indonesia - Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan laju inflasi di negara-negara G20 akan meningkat hingga 4% pada tahun ini. Hal ini dipicu oleh kenaikan harga energi, terutama minyak dan gas, akibat efek dari penghentian pengiriman melalui Selat Hormuz dan penutupan serta kerusakan beberapa infrastruktur energi akibat perang di Timur Tengah.
"Hal ini meningkatkan biaya, menekan permintaan, dan menambah tekanan inflasi," ungkap OECD laporan terbarunya Economic Outlook, Interim Report berjudul Testing Resilience, dikutip Senin (30/3/2026).
Menurut OECD dalam laporannya, potensi gangguan pasokan dapat diperburuk oleh tingkat cadangan gas Eropa yang relatif rendah saat ini dan kesulitan dalam mengekspor sebagian besar kapasitas produksi minyak mentah dunia yang berlebih, yang terutama berada di Arab Saudi. Selain lonjakan harga lebih lanjut, kekurangan energi dapat membebani aktivitas produksi di beberapa net importir energi, terutama negara Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan.
OECD menegaskan gangguan lebih lanjut terhadap perdagangan di Teluk Persia juga dapat berdampak negatif pada berbagai produk yang lebih luas dalam rantai pasokan global.
Foto: Real GDP growth. (Istimewa)
Real GDP growth. (Istimewa)
"Misalnya, kendala berkelanjutan terhadap pasokan pupuk dapat meningkatkan harga pangan global, dengan dampak yang berpotensi serius pada keuangan rumah tangga dan ekspektasi inflasi," ujarnya.
Selain itu, berkurangnya pasokan sulfur, helium, atau aluminium dapat menghambat produksi di berbagai industri.
OECD pun membagikan masukan bagi para pengambil keputusan. Pertama, OECD mengingatkan bank sentral perlu tetap waspada dan memperhatikan pergeseran keseimbangan risiko seputar perkembangan ekonomi dan keuangan untuk memastikan bahwa tekanan inflasi yang mendasarinya terkendali secara berkelanjutan.
"Kenaikan harga energi global yang dipicu oleh pasokan saat ini dapat diabaikan asalkan ekspektasi inflasi tetap terkendali, tetapi penyesuaian kebijakan mungkin diperlukan jika ada tanda-tanda tekanan harga yang lebih luas atau kondisi pasar tenaga kerja yang lebih lemah," tulis OECD.
Namun, di sisi lain, OECD mengingatkan perubahan peningkatan keengganan terhadap risiko global akibat konflik yang berkembang di Timur Tengah dan pergerakan mata uang terkait juga dapat memengaruhi penilaian kebijakan di negara-negara berkembang.
Kalibrasi yang cermat mungkin diperlukan untuk menyeimbangkan risiko inflasi yang terus berlanjut dengan risiko penurunan akibat perlambatan pertumbuhan yang signifikan.
Kedua, OECD menekankan kenaikan harga energi memicu kembali minat pada langkah-langkah untuk mendukung rumah tangga dan perusahaan. Setiap langkah harus bersifat sementara dan tepat sasaran kepada mereka yang paling membutuhkan, sambil tetap mempertahankan insentif untuk mengurangi penggunaan energi.
OECD menilai subsidi dan transfer yang luas, pengurangan pajak, dan pembatasan harga lebih mudah diimplementasikan dengan cepat tetapi melemahkan insentif untuk mengurangi penggunaan energi dan memiliki biaya fiskal yang lebih tinggi.
Lebih lanjut, OECD mengungkapkan anggaran pemerintah berada di bawah tekanan dari beban utang yang tinggi dan tuntutan pengeluaran baru, termasuk peningkatan pengeluaran pertahanan di banyak negara dan biaya jangka panjang dari penuaan penduduk dan perubahan iklim.
Oleh karena itu, upaya yang lebih kuat untuk mengendalikan dan mengalokasikan kembali pengeluaran, meningkatkan efisiensi sektor publik, dan meningkatkan pendapatan diperlukan, diharapkan OECD bisa ditetapkan sebagai strategi penyesuaian jangka menengah yang kredibel dan spesifik.
Terakhir, OECD menegaskan tindakan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil impor dan mempercepat langkah-langkah efisiensi energi, seperti meningkatkan kapasitas energi bersih, memodernisasi jaringan listrik, dan memperkenalkan prosedur perizinan yang dipercepat, dapat menurunkan paparan terhadap guncangan geopolitik, mengurangi tekanan biaya bagi rumah tangga dan perusahaan, serta mendukung ketahanan jangka panjang.
(haa/haa)
Addsource on Google

3 hours ago
3















































