Jakarta, CNBC Indonesia - Peluang anak muda mendapatkan pekerjaan pertama ternyata sangat berbeda di setiap negara Eropa.
Ada negara yang mampu membawa lulusan sekolah dan kampus masuk ke dunia kerja dengan cepat, namun ada pula yang masih bergulat dengan tingginya angka pengangguran usia muda.
Berdasarkan data Eurostat yang diolah DataPulse Research, tingkat pengangguran penduduk berusia 15-24 tahun di Uni Eropa pada Juni 2025 rata-rata mencapai 14,8%.
Namun, di balik angka rata-rata tersebut tersimpan kesenjangan yang sangat lebar.
Estonia menjadi negara dengan tingkat pengangguran kaum muda tertinggi di Uni Eropa, mencapai 26,9%. Angka tersebut lebih dari empat kali lipat dibanding Malta yang mencatat tingkat pengangguran terendah, hanya 6,2%.
Di posisi berikutnya terdapat Spanyol dengan tingkat pengangguran muda 24%, disusul Swedia (23,8%), Rumania (23,5%), Finlandia (21,4%), Luksemburg (20,5%), dan Italia (20,1%).
Negara-negara Eropa Selatan masih mendominasi daftar dengan tingkat pengangguran anak muda tertinggi. Selain Spanyol dan Italia, Portugal (18,9%) serta Yunani (18,8%) juga mencatat angka yang jauh di atas rata-rata Uni Eropa. Sementara Prancis berada di level 18,7%.
Yang menarik, dua negara Nordik yang selama ini dikenal memiliki pasar tenaga kerja kuat, yakni Swedia dan Finlandia, justru masuk kelompok dengan pengangguran muda tertinggi.
Bukan Sekadar Soal Ekonomi
Tingginya pengangguran kaum muda tidak semata-mata mencerminkan lemahnya ekonomi suatu negara.
Sejumlah faktor struktural turut memengaruhi, mulai dari proses transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja, regulasi ketenagakerjaan, ketidaksesuaian keterampilan lulusan dengan kebutuhan industri (skills mismatch), hingga kesenjangan ekonomi antarwilayah.
Spanyol menjadi contoh yang menarik. Meskipun menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di Eropa, tingkat pengangguran kaum mudanya masih termasuk yang tertinggi.
Salah satu penyebabnya adalah ketidaksesuaian keterampilan dengan kebutuhan pasar kerja serta friksi di pasar tenaga kerja antarwilayah.
Di sisi lain, Spanyol juga mulai memperluas jalur masuk bagi tenaga kerja asing melalui berbagai program visa baru untuk menarik talenta di sektor-sektor yang mengalami kekurangan pekerja. Langkah serupa juga mulai diterapkan di sejumlah negara Eropa lainnya untuk mengatasi tekanan demografi dan kekurangan tenaga kerja.
Jerman hingga Belanda Jadi Contoh
Di sisi lain, Jerman, Malta, dan Belanda menjadi contoh negara yang relatif berhasil menekan pengangguran usia muda.
Jerman mencatat tingkat pengangguran muda 6,3%, sedikit di atas Malta yang 6,2%, sementara Belanda berada di angka 8,7%.
Keberhasilan ketiga negara tersebut didukung oleh sistem pendidikan vokasi yang kuat, program magang yang terintegrasi dengan dunia industri, serta tingginya permintaan terhadap tenaga kerja terampil.
Kondisi tersebut membuat lulusan sekolah maupun perguruan tinggi lebih cepat memperoleh pekerjaan pertama dibandingkan negara-negara lain di Uni Eropa.
Perbedaan peluang kerja inilah yang juga mendorong perpindahan tenaga kerja muda antarnegara di Eropa. Banyak anak muda memilih merantau ke negara yang menawarkan prospek karier lebih baik, sehingga membentuk peta baru talenta di kawasan tersebut.
(mae/mae)
Addsource on Google

8 hours ago
7

















































