OJKdan Bankir Akui Permintaan Kredit Melambat Imbas Konflik AS-Iran

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui bahwa eskalasi perang antara AS-Israel dan Iran dapat mempengaruhi permintaan kredit industri perbankan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menyebut akan ada 'gangguan' di beberapa sektor tertentu terutama yang terekspos dengan dunia internasional.

Di antaranya, ia menyebut kredit ekspor, impor, dan lain sebagainya. Dian menyinggung bahwa Indonesia juga banyak mengimpor minyak dan gas.

Namun, ia meyakini dengan berbagai upaya yang pemerintah lakukan untuk mengantisipasi gejolak ini, paling tidak bisa mengamankan stabilitas keuangan. Terlebih, Indonesia sudah berpengalaman menghadapi berbagai krisis sebelumnya, seperti pandemi Covid-19.

"Kita melihat bahwa upaya-upaya yang kita lakukan, maksud saya di sektor kita paling tidak, untuk mengamankan financial stability itu, mungkin insya Allah itu tidak akan terlalu ganggu, terlalu serius, ya kita pernah menghadapi krisis yang berat seperti covid," kata Dian saat ditemui di Gedung Mahkamah Agung, Rabu (25/3/2026).

Meski demikian, ia mengatakan pihaknya harus bersiap-siap mengantisipasi jika situasi global semakin memburuk. Dian menyebut perlu melakukan langkah-langkah seperti mengkaji ulang kebijakan yang berkaitan dengan sektor-sektor tertentu.

"Nah ini tentu kita harus lihat bagaimana perkembangannya dan saya juga sudah minta sebetulnya, tentu teman-teman pengawas dan juga perbankan untuk betul-betul melihat situasi volatilitas global itu sebagai warning sign kepada kita untuk kita selalu mempersiapkan diri untuk for the worst," tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, bankir senior selaku Ketua Umum Asosiasi Sistem Pembayaran Indonesia (ASPI) Santoso Liem menyebut permintaan kredit industri perbankan pada dasarnya masih cukup baik. Menurut dia, tidak semua segmen kredit mengalami permasalahan, karena tantangan ke depannya terdapat pada sisi rantai pasok.

"Supply chain kan kita tahu terganggu beberapa karena peperangan, juga komoditi tertentu. Komoditi yang dari dulu kan gandum kita tahu tergantung dari Ukraina. Ada yang sangat support terhadap turunan daripada minyak. Contohnya industri plastik, industri chemical itu pasti akan berdampak," terang Santoso.

Oleh karena itu, Santoso menyebut masing-masing pemain bisnis sudah memiliki langkah antisipasi sendiri. Walaupun tidak dapat dipungkiri banyak pebisnis yang menyatakan force majeure terhadap operasionalnya.

Dengan begitu, Santoso mengatakan memang ada saatnya untuk menghentikan sejenak dan kembali menjalankan bisnis.

"Jadi intinya pasti industri ada waktunya untuk ngerem, ada waktunya untuk ngegas. Jadi kita nantikan saja karena kita juga enggak ada yang tahu kapan perang ini akan berakhir. Jadi yang penting adalah waktunya ini dibutuhkan driver yang pandai untuk kapan ngegas dan kapan ngerem," tukasnya.

(fsd/fsd)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |