Orang Kaya Borong Jet dan Yacht, Warga Kena PHK-Bayar Listrik Susah

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Saat masyarakat luas makin berhemat di tengah lonjakan harga BBM dan inflasi global segelintir orang malah kipas-kipas duit berkat ledakan kecerdasan buatan atau AI. Kekayaan yang melonjak pesat membuat mereka beramai-ramai memborong barang mewah, mulai dari kapal pesiar mewah atau yacht hingga pesawat jet pribadi, dikutip dari laman Futurism, Senin (18/8/2026).

Menurut laporan UBS yang dirangkum Financial Times, jumlah miliarder di seluruh dunia melonjak 13 persen dalam kurun waktu April 2025 hingga April 2026, mencapai rekor 3.302 orang dengan kekayaan bersih di atas US$1 miliar.

Lebih dari 1.000 di antaranya berbasis di Amerika Serikat. Kekayaan gabungan mereka rata-rata naik 25 persen, jauh melampaui pertumbuhan kekayaan pribadi global yang hanya 10,8 persen, didorong terutama oleh melesatnya nilai perusahaan-perusahaan AI dan semikonduktor.

Para miliarder baru yang mendadak kaya raya berkat AI itu tak lagi puas sekadar memiliki rumah mewah. Mereka kini berbondong-bondong memesan kapal pesiar supermewah, jet pribadi, hingga mobil-mobil mewah dengan spesifikasi khusus.

Namun selera mereka ternyata berbeda dengan generasi orang kaya lama. Toby Edwards, wakil direktur perusahaan penerbangan mewah FlyVictor, menjelaskan bahwa standar kemewahan lama seperti sampanye dan caviar sudah ditinggal. Sebaliknya, para miliarder AI justru meminta hal-hal yang terkesan sederhana tetapi sangat spesifik, seperti jenis air minum tertentu dan menu makanan yang sehat.

"Mereka menyewa jet pribadi demi efisiensi dan kerahasiaan, bukan untuk pamer," ujar Edwards dikutip dari laporan tersebut.

Paul Charles, konsultan perjalanan mewah, menambahkan bahwa kemunculan orang kaya baru dari dunia AI memicu gelombang permintaan baru bagi perusahaan penyedia jet, yacht, dan mobil mewah. "Konsep pelanggan yang cermat memilih kini sudah kuno. Perusahaan-perusahaan harus beradaptasi melayani generasi pelancong mewah baru yang lahir dari kekayaan AI ini," ujarnya.

Kekayaan yang terkonsentrasi di segelintir orang itu justru muncul di saat daya beli masyarakat luas makin tertekan.

PHK Massal Diganti AI

Selain itu, kekayaan yang menumpuk di tangan segelintir orang itu lahir dari teknologi yang justru mengancam jutaan pekerja. Menurut survei S&P Global pada 2026, dampak adopsi AI terhadap lapangan kerja berbalik menjadi negatif. Dalam 12 bulan terakhir, jumlah perusahaan yang melaporkan pengurangan tenaga kerja berkat AI 5 poin persentase lebih banyak daripada yang menambah pegawai. Tren ini diperkirakan memburuk dua poin lagi tahun depan.

Teknologi AI generatif dan kecerdasan buatan yang semakin mandiri kini mulai mampu menggantikan seluruh rangkaian pekerjaan, bukan sekadar membantu alat kerja.

Pekerja fresh graduate, staf administrasi, pembuat konten, hingga tenaga kreatif menjadi kelompok yang paling rentan. Bank of America memperingatkan bahwa munculnya "agen AI" yang bisa bekerja sendiri tanpa pengawasan manusia dapat menciptakan gelombang pengurangan tenaga kerja yang jauh lebih besar dibanding gelombang sebelumnya.

Bahkan ketika perusahaan tetap mempekerjakan manusia, AI cenderung menekan upah dan memindahkan keuntungan kepada pemilik modal yaitu para miliarder teknologi yang namanya kini makin melambung.

Tagihan Listrik dan Air Warga Ikut Naik

Biaya lain yang harus ditanggung masyarakat luas datang dari rakusnya konsumsi energi pusat data atau data center yang melatih mesin-mesin AI. Data center seukuran biasa saja sudah menghabiskan listrik setara 100.000 rumah tangga. Diperkirakan pada 2028, pusat data bisa menyedot 12 persen dari seluruh konsumsi listrik Amerika Serikat.

Akibatnya, tagihan listrik warga di sekitar pembangunan data center ikut melonjak. Penelitian Universitas Carnegie Mellon memperkirakan kenaikan bisa mencapai 25 persen atau lebih. Perusahaan penyebab lonjakan itu tidak menanggung sepenuhnya beban justru dialihkan ke pelanggan rumah tangga biasa melalui tarif listrik yang naik.

Belum lagi kebutuhan air yang luar biasa besar untuk mendinginkan mesin-mesin AI. Menurut laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa, konsumsi air terkait AI diperkirakan setara dengan kebutuhan dasar air minum 1,3 miliar orang pada akhir dekade ini.

Di beberapa wilayah, perusahaan AI membutuhkan jutaan liter air per hari, yang memaksa warga sekitar berbagi pasokan air yang makin menipis.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |