Jakarta, CNBC Indonesia - Para pelaku pasar tetap perlu waspada gejolak di pasar keuangan. Pasalnya ada beberapa sentimen penting yang dapat memengaruhi gerak pasar saham dan nilai tukar rupiah, mulai dari hasil negosiasi perang Amerika Serikat - Iran hingga pengumuman pertumbuhan ekonomi China. Berikut ini rangkumannya.
Negosiasi Amerika Serikat dan Iran di Oman
Pekan depan akan ada hasil perundingan perang antara Amerika Serikat dan Iran yang dapat memengaruhi sentimen pasar.
Presiden AS Donald Trump mengatakan pada Jumat bahwa AS dan Iran telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan meskipun terjadi peningkatan permusuhan pekan ini, sekaligus menyatakan berakhirnya gencatan senjata yang dicapai antara kedua belah pihak.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi telah tiba di Oman pada Sabtu (11/7/2026) untuk membahas pengaturan jalur aman bagi kapal-kapal melalui Selat Hormuz, dengan Washington berupaya menagih janji untuk membuat salah satu jalur perdagangan energi itu bebas dan aman.
Tidak ada serangan yang dilaporkan pada Jumat atau Sabtu pagi, namun, sebuah sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa panggilan telepon antara Iran, AS, Qatar, dan Pakistan telah disepakati dan para mediator sedang berupaya mengatur pertemuan pada hari ini saat Araqchi berada di Oman.
Oman berusaha membantu menengahi penyelesaian perang yang telah menyebarkan ketidakamanan di Teluk dan menaikkan harga di seluruh dunia sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari.
CBS News dan mitranya di Inggris, BBC, sama-sama melaporkan Wakil Presiden AS JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, utusan khusus Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner, akan memimpin negosiasi pada Sabtu dengan Araqchi.
Sementara itu, kantor berita Fars Iran mengutip sebuah sumber yang mengatakan tidak akan ada negosiasi yang berlangsung sampai AS menarik diri dari posisinya.
Rencana pertemuan itu terjadi di tengah meningkatnya tensi konflik di kawasan, setelah tiga kapal tanker komersial Qatar dan Arab Saudi diserang awal pekan ini, yang mendorong AS untuk menyerang situs-situs Iran, dan Iran membalas dengan serangan terhadap situs-situs militer AS di negara-negara Teluk.
Pengumuman Inflasi Amerika Serikat
Amerika Serikat akan mengumumkan inflasi beserta inflasi inti pada Selasa(14/7/2026). Berdasarkan konsensus TradingEconomics, inflasi inti bulanan AS diperkirakan akan kembali memanas dengan 0,3% pada Juni 2026, lebih tinggi dari Mei 2026 sebesar 0,2%.
Inflasi AS perlu dicermati karena terkait dengan kebijakan suku bunga Bank Sentral AS The Fed.
Seperti diberitakan sebelumnya, Pejabat Federal Reserve (The Fed) terbelah mengenai arah suku bunga pada rapat kebijakan bulan Juni, menunjukkan ketidakpastian yang masih tinggi terhadap prospek inflasi dan ekonomi Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dirilis Rabu atau Kamis dini hari Waktu Indonesia, sebagian pejabat menilai inflasi berpotensi mereda sehingga suku bunga dapat dipangkas.Namun, kelompok lainnya memperkirakan tekanan harga masih akan bertahan sehingga suku bunga justru mungkin perlu dinaikkan.
Rapat yang digelar pada 16-17 Juni tersebut merupakan pertemuan pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh. Dalam rapat itu, bank sentral AS sepakat mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%, level yang telah dipertahankan sepanjang 2026.
Risalah menyebut banyak peserta memperkirakan suku bunga yang tepat pada akhir tahun akan berada di kisaran saat ini atau sedikit lebih rendah.
Namun banyak peserta lainnya justru menilai suku bunga seharusnya berada di atas level saat ini.
Menurut para pejabat, inflasi diperkirakan masih tinggi dalam jangka pendek akibat dampak tarif impor Presiden Donald Trump, perang dengan Iran, serta kenaikan harga energi.
Pertumbuhan Ekonomi China
China akan mengumumkan pertumbuhan ekonomi kuartal kedua 2026. Berdasarkan konsensus TradingEconomics, pertumbuhan ekonomi negara mitra dagang utama Indonesia tersebut akan melambat menjadi 4,4% yoy dari kuartal sebelumnya 5% yoy.
Bank Pembangunan Asia (ADB) sendiri memproyeksikan pertumbuhan ekonomi China sepanjang 2026 melambat menjadi 4,6%. Hal ini sejalan dengan penurunan perkiraan pertumbuhan perekonomian negara-negara berkembang di kawasan Asia dan Pasifik menjadi 4,9% pada 2026, dibandingkan dengan 5,5% pada 2025 akibat gejolak perang di Timur Tengah yang efeknya berkepanjangan.
Gangguan pasar energi yang terus menerus akibat konflik Timur Tengah berdampak lebih berat terhadap kawasan ini daripada yang diperkirakan, demikian menurut proyeksi ekonomi terbaru dari ADB yang dirilis pada 8 Juli.
"Prakiraan pertumbuhan untuk 2027 masih dipertahankan pada 5,1% sebagai cerminan pulihnya kegiatan ekonomi setelah meredanya tekanan," menurut keterangan ADB dikutip Kamis (9/7/2026).
Asian Development Outlook (ADO) July 2026 memperkirakan bahwa perbaikan terhadap gangguan pasar energi global hanya akan terjadi secara bertahap, meskipun sudah ada kesepakatan kerangka kerja yang ditandatangani pada Juni.
Mengingat dampak konflik tersebut tak hanya berpengaruh terhadap energi, tetapi juga pupuk, harga komoditas lainnya, dan berbagai rantai pasokan, tekanan inflasi kemungkinan belum akan berkurang.
(ras/ras)
Addsource on Google

5 hours ago
1
















































