Pengusaha Sebut Ancaman PHK, Buruh Ungkap Sudah Ribuan Jadi Korban

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran kalangan pengusaha terhadap potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah pelemahan rupiah hingga menembus level Rp18.000 per dolar AS ternyata bukan sekadar ancaman.

Di lapangan, serikat pekerja mengaku sudah merasakan dampaknya, khususnya di sektor tekstil dan garmen yang selama ini bergantung pada bahan baku impor.

Ketua DPD Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Jawa Barat, Roy Jinto Ferianto, menilai tekanan kurs dolar yang terus menguat berpotensi memperparah kondisi industri nasional. Menurutnya, struktur industri dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku impor membuat kenaikan nilai tukar langsung berdampak pada biaya produksi.

"Sejak dollar terus naik dan pemerintah tidak bisa mengendalikan tentu saja PHK akan terjadi karena bahan baku industri kita ini mayoritas import sehingga sudah pasti biaya produksi meningkat sedangkan market semakin lesu karena daya beli masyarakat yang menurun," kata Roy kepada CNBC Indonesia, Senin (8/6/2026).

Di saat yang sama, dunia usaha juga menghadapi tantangan dari sisi permintaan yang belum pulih sepenuhnya. Kombinasi kenaikan biaya produksi dan lemahnya daya beli dinilai membuat ruang gerak perusahaan semakin sempit.

"Dengan demikian perusahaan akan mengurangi beban cost dengan mengurangi jumlah karyawan dengan PHK bahkan akan melakukan penutupan perusahaan. Baik itu tutup karena mengalami kerugian atau tutup karena pailit," ujarnya.

Roy mengungkapkan, gejala tersebut sebenarnya sudah terlihat sejak awal tahun. Industri tekstil dan garmen menjadi salah satu sektor yang paling terdampak karena banyak menggunakan bahan baku impor, sementara sebagian besar produknya dijual di pasar domestik dalam mata uang rupiah.

"Sejak Januari 2026 sampai sekarang anggota sudah ter-PHK 3.000 orang kurang lebih, itu dari industri garmen dan tekstil" ungkap Roy yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Federasi Serikat Pekerja Tekstil, Sandang dan Kulit (FSP TSK).

Pernyataan Roy sejalan dengan keluhan kalangan pengusaha. Sebelumnya, Ketua Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI), Benny Soetrisno, mengatakan banyak perusahaan sudah menghentikan pembukaan lowongan kerja baru dan mulai mempercepat rencana PHK demi menjaga arus kas usaha.

Pengusaha menilai sektor yang paling tertekan adalah industri yang mengimpor bahan baku menggunakan dolar AS tetapi menjual produknya di pasar domestik dengan rupiah. Kondisi tersebut membuat margin usaha semakin tergerus ketika nilai tukar terus melemah.

Dengan tekanan kurs yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, kalangan buruh khawatir jumlah pekerja terdampak PHK masih berpotensi bertambah pada paruh kedua tahun ini, terutama apabila perusahaan mulai kehabisan ruang untuk melakukan efisiensi selain pengurangan tenaga kerja.

(haa/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |