Perang Iran Jadi Titik Balik China Kala Dominasi AS Kian Dipertanyakan

3 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Hampir empat bulan setelah perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengguncang Timur Tengah, posisi diplomatik China justru dinilai makin kuat di panggung internasional. Ketika Washington menghadapi pertanyaan mengenai efektivitas intervensinya, Beijing berhasil menampilkan diri sebagai kekuatan yang mendorong perdamaian sekaligus menjaga stabilitas ekonomi di tengah krisis energi global.

Saat bom-bom AS dan Israel mulai menghantam Iran pada akhir Februari lalu, para pemimpin China menghadapi kemungkinan yang dianggap serius, yakni jatuhnya pemerintahan sekutu mereka di Teheran, mirip dengan yang terjadi di Venezuela beberapa pekan sebelumnya.

Namun, hampir empat bulan kemudian, situasinya berubah drastis. AS dan Iran berhasil mencapai kesepakatan sementara setelah serangkaian perundingan damai, sementara pemerintahan Iran tetap bertahan. Konflik tersebut juga memunculkan pandangan bahwa perang itu memperlihatkan batas-batas kekuatan Amerika Serikat.

Di sisi lain, pengaruh diplomatik Beijing terlihat meningkat. China menerima kunjungan berbagai pemimpin dunia, memosisikan diri sebagai pendukung penyelesaian damai, dan bahkan memperoleh pujian berulang kali dari Presiden AS Donald Trump atas sikapnya selama konflik berlangsung.

Selain itu, ekonomi terbesar kedua dunia tersebut juga mampu menghadapi krisis energi yang dipicu perang lebih baik dibanding banyak negara lain. Ketahanan itu didukung oleh cadangan minyak strategis yang besar serta transformasi menuju energi hijau dan kendaraan listrik.

Kementerian Luar Negeri China pekan ini menyambut baik tercapainya kesepakatan antara Washington dan Teheran. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, mengatakan Beijing siap berperan aktif dalam menjaga stabilitas kawasan.

"China siap memainkan peran aktif dalam memulihkan perdamaian dan ketenangan di Timur Tengah," kata Lin, dilansir CNN International, Minggu (21/6/2026).

Ketika ditanya apakah Beijing terlibat langsung dalam tercapainya kesepakatan tersebut, Lin tidak memberikan konfirmasi spesifik. Namun, ia menegaskan bahwa China telah bekerja tanpa henti untuk mendorong berakhirnya perang, termasuk melalui proposal perdamaian empat poin yang diumumkan Presiden Xi Jinping pada April lalu.

Pengakuan terhadap peran China ternyata tidak hanya datang dari Beijing sendiri. Presiden AS Donald Trump secara terbuka menyampaikan apresiasinya kepada Xi Jinping dalam konferensi pers di sela-sela KTT G7 di Prancis.

"Saya ingin berterima kasih kepada China, Presiden Xi ... dia tetap netral, benar-benar netral, dan saya menghargainya," kata Trump.

Trump merujuk pada keputusan Beijing yang tidak menggunakan kekuatan angkatan lautnya untuk menentang blokade Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

"Mereka tidak melakukan itu. Presiden Xi membantu saya. Dia mencoba membantu, dan saya pikir dia mungkin membantu menyelesaikannya," ujar Trump.

Selama konflik berlangsung, China mengambil posisi diplomatik yang hati-hati. Beijing mengkritik serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta tetap membeli minyak Iran meski menghadapi sanksi AS. Namun, pada saat yang sama, China juga mempertahankan komunikasi dengan semua pihak yang terlibat.

Sejumlah pemimpin dunia berdatangan ke Beijing selama perang berlangsung. Di antaranya Presiden Donald Trump bulan lalu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi beberapa hari sebelumnya, serta para pemimpin Pakistan yang berperan sebagai mediator utama dalam konflik tersebut.

Pada tahap awal negosiasi, Iran disebut ingin memperoleh dukungan China sebagai penjamin kesepakatan damai. Namun Beijing tidak menunjukkan minat untuk mengambil peran formal tersebut karena berpotensi menimbulkan komplikasi diplomatik.

Rabu lalu, Menteri Luar Negeri China Wang Yi berbicara melalui telepon dengan Abbas Araghchi dan menekankan pentingnya pengelolaan situasi di Selat Hormuz.

"Fajar perdamaian telah muncul. Kunci langkah berikutnya adalah semua pihak benar-benar melaksanakan komitmen mereka dan menghilangkan gangguan dari semua pihak," ujar Wang.

Belum jelas sejauh mana China menggunakan pengaruh diplomatiknya di balik layar untuk membantu tercapainya nota kesepahaman yang ditandatangani pada Rabu lalu. Kesepakatan itu membuka periode negosiasi selama 60 hari guna merumuskan perjanjian final antara Amerika Serikat dan Iran.

Meski demikian, rangkaian kunjungan tingkat tinggi ke Beijing dianggap memperkuat pesan bahwa ketika negara lain berperang, China berusaha tampil sebagai kekuatan global yang bertanggung jawab dan mampu menjadi perantara.

"Momen Suez"

Seiring masuknya perundingan ke tahap berikutnya, banyak pengamat mulai mempertanyakan apa sebenarnya keuntungan yang diperoleh Amerika Serikat dari konflik yang menimbulkan biaya ekonomi global sangat besar tersebut.

Di China, para akademisi dan analis politik juga memperdebatkan dampak perang terhadap posisi Amerika Serikat di dunia. Sebagian bahkan menyebut konflik ini berpotensi menjadi "momen Suez" bagi Washington.

Istilah tersebut merujuk pada Krisis Suez tahun 1950-an yang dianggap sebagai simbol menurunnya pengaruh Inggris dan munculnya Amerika Serikat sebagai kekuatan dominan dunia.

Direktur Pusat Studi Timur Tengah Universitas Fudan di Shanghai, Sun Degang, mengangkat pertanyaan tersebut dalam tulisannya di Global Times.

"Apakah pemandangan yang membayangi Kekaisaran Inggris selama krisis Suez kini sedang terulang bagi Amerika Serikat di Selat Hormuz?" tulis Sun.

Menurut dia, sejak berakhirnya Perang Dingin, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya dunia. Namun kali ini hasilnya berbeda.

"Kekuatan militer AS tidak terbukti sekuat yang dibayangkan Washington," tulisnya.

Sun juga menilai minimnya dukungan dari sejumlah sekutu utama menunjukkan bahwa "sistem aliansi global yang dipimpin AS telah menunjukkan tanda-tanda perpecahan yang semakin nyata".

Pandangan serupa juga muncul dari analis politik China, Hu Xijin. Dalam komentarnya di platform Weibo, Hu menyebut China tidak berupaya mengklaim kemenangan atas perang di Timur Tengah.

"China tidak tertarik mengenakan 'mahkota pemenang' dari perang Timur Tengah yang jauh," tulis Hu.

Namun menurutnya, konflik tersebut telah mengubah persepsi dunia terhadap China. Ia menyebut perang menunjukkan keberhasilan perencanaan strategis Beijing dalam menghadapi guncangan energi sekaligus meningkatkan daya tarik jalur pembangunan damai yang selama ini dipromosikan China.

Hu juga berpendapat perang telah "secara signifikan mengurangi" daya gentar Amerika Serikat, termasuk dalam isu Taiwan. Ia menyoroti keterbatasan stok amunisi Washington dan kesulitan membangun koalisi Barat yang solid bahkan ketika menghadapi negara yang relatif terisolasi seperti Iran.

Meski demikian, sejumlah analis China mengingatkan bahwa melemahnya pengaruh AS tidak otomatis menjadikan China sebagai pengganti di puncak tatanan dunia.

Peneliti Pusat Keamanan dan Strategi Internasional Universitas Tsinghua, Sun Chenghao, mengatakan AS tetap menjadi kekuatan eksternal paling berpengaruh di Timur Tengah.

"Amerika Serikat tetap menjadi aktor eksternal paling kuat di Timur Tengah. Yang berubah adalah dominasinya kini memerlukan biaya politik, militer, ekonomi, dan reputasi yang jauh lebih besar," katanya.

Menurut Sun, konflik tersebut memang berpotensi membuat pandangan dunia yang diusung China, yang menekankan kedaulatan, nonintervensi, penyelesaian politik, dan keamanan berbasis pembangunan, menjadi lebih menarik bagi banyak negara.

Namun ia menegaskan bahwa pengaruh global tidak bisa dibangun hanya dengan mengkritik AS.

"Hal itu juga bergantung pada apakah China dapat menyediakan solusi diplomatik yang praktis, melindungi stabilitas energi, dan membantu menciptakan kondisi untuk deeskalasi."

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |