Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam setahun terakhir, narasi pasar modal dan keseharian didominasi oleh teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI). Namun, tahukah kamu, setiap jawaban ChatGPT atau gambar Midjourney ternyata banyak menggunakan energi seperti minyak dan listrik.
Melalui AI, banyak investor telah melihat saham Amerika di sektor teknologi melejit. Dari meroketnya saham NVIDIA, saham Microsoft mencapai valuasi selangit, dan pusat data dibangun secepat kilat. Ada satu dampak AI yang kerap luput dari perhatian banyak investor ritel, namun mulai digarap serius oleh para smart money di Wall Street, yaitu Commodity Bull Phase 2.0.
Sekarang, saatnya Anda melihat sektor penggerak revolusi AI tersebut, yaitu sektor energi.
Paradoks AI - Membutuhkan Beragam Penopang
Banyak orang menganggap teknologi digital sebagai sesuatu yang ringan dan tak berwujud. Namun, kenyataannya sangat kontras. AI justru merupakan konsumen energi terbesar dalam sejarah komputasi modern.
Satu prompt LLM seperti GPT-4 menghabiskan daya listrik hingga 10 kali lipat dibanding satu pencarian di Google Search. Jika jutaan orang menggunakannya, maka konsumsi listriknya setara level negara, bukan lagi rumah tangga. Inilah yang memicu fase bullish baru pada komoditas.
Dunia baru saja keluar dari fase kenaikan harga komoditas akibat gangguan rantai pasok pasca-pandemi, dan sekarang bakal memasuki fase yang didorong oleh permintaan struktural yang tak terelakkan. Dunia pun menyadari bahwa untuk menjalankan otak digital yang cerdas, maka dibutuhkan pula otot fisik yang kuat dalam bentuk energi.
Mengapa Energi Fosil Menjadi Alpha di Era AI?
Di sinilah letak ironinya. Di tengah kampanye global untuk Go Green, kebutuhan mendesak akan listrik untuk pusat data AI justru memberikan "napas kedua" bagi energi konvensional atau yang sering disebut dirty energy.
Melalui ETF seperti XLE (Energy Select Sector SPDR Fund) yang tersedia di Pluang, kita melihat perusahaan raksasa seperti ExxonMobil dan Chevron kembali menjadi primadona. Lantas, mengapa energi fosil justru menjadi Alpha (sumber keuntungan utama) di era AI?
1. Masalah Baseload (Beban Dasar)
Pusat data AI adalah fasilitas yang beroperasi 24/7. Mereka tidak boleh mati sedetik pun karena proses pelatihan model (model training) yang terhenti bisa memakan biaya jutaan dolar. Saat ini, hanya gas alam, batubara, dan nuklir yang mampu menyediakan baseload yang konsisten dalam skala masif tanpa terpengaruh oleh apakah matahari sedang bersinar atau angin sedang bertiup.
2. Kecepatan Eksekusi
Permintaan akan pusat data AI meledak hari ini, bukan sepuluh tahun lagi. Membangun infrastruktur energi terbarukan yang masif sering kali terbentur masalah perizinan lahan dan birokrasi yang memakan waktu bertahun-tahun. Sebaliknya, infrastruktur gas alam jauh lebih siap untuk diakselerasi guna mengejar ketertinggalan pasokan listrik.
3. Profitabilitas Tinggi
Dengan harga energi yang tetap tinggi akibat permintaan AI yang konstan, perusahaan di dalam indeks XLE mencatatkan arus kas (cash flow) yang sangat sehat. Mereka tidak lagi hanya membakar modal untuk eksplorasi, tapi mengembalikannya kepada pemegang saham dalam bentuk dividen yang tebal dan aksi buyback saham.
Bagaimana Nasib Energi Terbarukan?
Apakah ICLN (iShares Global Clean Energy ETF) akan tertinggal? Jawabannya adalah tidak, tetapi perannya berubah. Energi bersih kini menjadi derived effect atau efek turunan yang didorong oleh kebijakan korporat dan tekanan sosial. Perusahaan Big Tech seperti Google, Amazon, dan Microsoft memiliki janji Net Zero Emission.
Mereka berada dalam posisi dilematis lantaran mereka butuh energi fosil untuk reliabilitas sekarang, tapi mereka harus tetap hijau untuk menjaga reputasi dan kepatuhan ESG. Hal ini menciptakan fenomena unik yang menguntungkan pemegang $ICLN dalam jangka panjang:
● Kontrak PPA Raksasa: Big Tech kini menjadi pembeli terbesar kontrak energi terbarukan di dunia. Mereka menjamin pembelian listrik dari ladang surya dan angin untuk puluhan tahun ke depan, memberikan kepastian pendapatan bagi perusahaan EBT.
● Inovasi Nuklir dan SMR: Ketertarikan pada nuklir generasi terbaru (Small Modular Reactors) mulai bangkit kembali karena dianggap sebagai satu-satunya energi "bersih" yang bisa memberikan daya baseload seperti gas alam.
● Lantai Harga yang Kuat: ICLN mungkin tidak bergerak secepat XLE dalam jangka sangat pendek, namun ia memiliki floor (lantai harga) yang kuat karena permintaan dari sektor teknologi bersifat jangka panjang dan mengikat secara hukum.
AI Spending vs Geopolitik
Banyak investor bertanya "Apakah kenaikan harga energi ini murni karena AI, atau karena ketegangan di Timur Tengah dan krisis Ukraina yang belum usai?"
Geopolitik bertindak sebagai faktor Supply-Side (sisi pasokan). Perang dan sanksi membuat pasokan energi global menjadi langka, mahal, dan sangat sensitif terhadap berita. Ini menciptakan volatilitas yang kita lihat sehari-hari di pasar minyak dunia.
Sementara itu, AI Spending bertindak sebagai faktor Demand-Side (sisi permintaan). AI menciptakan permintaan yang bersifat "in elastis" yang artinya, mereka akan tetap membeli energi berapapun harganya. Bagi raksasa teknologi, biaya listrik adalah harga yang harus dibayar untuk memenangkan perlombaan dominasi AI.
Jadi, sementara geopolitik mungkin memicu lonjakan harga sesaat, AI-lah yang memastikan bahwa harga energi tidak akan kembali ke level rendah seperti dekade lalu. Kita sedang berada dalam rezim "Higher for Longer" untuk harga komoditas energi karena dunia tidak lagi hanya berebut minyak untuk transportasi, tapi berebut listrik untuk kecerdasan buatan.
Berapa Lama Reli Ini Akan Bertahan?
Investor khususnya di pasar saham Amerika tentu akan mempertanyakan keberlanjutan, dan data menunjukkan ini adalah tahap awal dari siklus panjang.
Pembangunan pusat data global diproyeksikan tumbuh dengan CAGR (laju pertumbuhan tahunan majemuk) lebih dari 20% hingga 2030. Selama chip AI terus diproduksi oleh NVIDIA dan diadopsi oleh semua lini industri, dari kesehatan hingga keuangan-kebutuhan energi akan terus membengkak.
Faktor lain adalah, The Great Grid Upgrade. Bottleneck utama kini adalah kapasitas jaringan listrik (grid) yang usang, bukan lagi bahan bakar. Dunia butuh merombak infrastruktur transmisi untuk menampung beban AI. Proses 10-20 tahun ini memberi landasan pacu panjang bagi sektor energi (produsen dan penyedia infrastruktur) untuk terus tumbuh.
Mengatur Strategi Investasi Saham
Sebagai investor di Pluang, Anda memiliki akses unik untuk memanfaatkan dinamika ini tanpa harus menjadi ahli energi. Berikut adalah langkah taktis yang bisa Anda ambil:
1. Diversifikasi Dua Jalur (Barbell Strategy)
Jangan hanya memilih salah satu. Anda bisa mengalokasikan sebagian portofolio di XLE untuk menangkap keuntungan dari energi konvensional yang sedang panen raya karena harga gas dan minyak yang stabil tinggi. Di sisi lain, sisihkan porsi di ICLN untuk menangkap pertumbuhan struktural dari transisi energi hijau yang didanai oleh kantong tebal Big Tech.
2. Eksposur pada Logam Industri
Ingatlah pepatah "In a gold rush, sell shovels." Energi tidak hanya soal bahan bakar, tapi juga transmisi. Membangun jaringan listrik baru dan pusat data membutuhkan tembaga dalam jumlah masif. Melalui Pluang, Anda bisa mengoleksi saham yang bergerak di industri tembaga seperti Freeport-McMoRan Inc. (FCX), Southern Copper Corporation (SCCO), dan BHP Group.
3. Manfaatkan Fitur DCA
Gunakan fitur Cicil Rutin (DCA) di Pluang untuk rutin membeli saham AS [XLE] dan [ICLN] (sektor energi dan logam) mingguan/bulanan. Strategi ini membantu mendapatkan harga rata-rata lebih efisien di tengah volatilitas, dan menghindari bias emosional saat koreksi pasar.
Jangan Hanya Jadi Penonton Revolusi AI
Pada akhirnya, revolusi AI adalah perang memperebutkan daya dan sumber daya alam, bukan sekadar perang algoritma. Hal ini membuktikan bahwa ekonomi fisik (energi) dan digital (data) telah menyatu, memicu fase commodity bull.
Bagi pengguna Pluang, momentum ini adalah peluang emas, karena tidak perlu menjadi insinyur listrik atau membangun sumur minyak sendiri. Berbekal platform yang tepat dan pemahaman akan narasi makro ini, Anda bisa memiliki bagian dari perusahaan-perusahaan yang menyalakan masa depan.
Sebagai catatan, Pluang bekerja sama dengan PT PG Berjangka yang memiliki izin sebagai Perantara Pedagang Derivatif Keuangan yang diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk produk derivatif keuangan dengan aset dasar berupa Efek.
(rah/rah)
Addsource on Google

1 hour ago
1
















































