Produksi Melimpah, Impor Tetap Banjir: Ada Apa dengan Gula RI?

3 hours ago 3

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

09 April 2026 16:05

Jakarta, CNBC Indonesia - Angka produksi gula dalam negeri bergerak naik. Lahan tebu meluas. Pabrik kembali beroperasi. Di atas kertas, arah ini seharusnya mengurangi ketergantungan impor. Yang terjadi berbeda.

Melansir Badan Pusat Statistik (BPS) produksi gula nasional meningkat, pada 2024 mencapai 2,46 juta ton, naik dari 2,23 juta ton pada 2023. Kenaikan ini ditopang oleh ekspansi areal tebu yang mencapai 520.823 hektare, lebih tinggi dari 489.338 hektare pada tahun sebelumnya.

Sumber pertumbuhan terbesar datang dari perkebunan rakyat, dengan produksi mencapai 1,61 juta ton, atau sekitar dua pertiga dari total nasional.

Struktur produksi gula Indonesia memang bertumpu pada petani. Dalam satu dekade terakhir, kontribusi perkebunan rakyat konsisten dominan. Pada 2014, produksi rakyat berada di angka 1,37 juta ton.

Angka itu tetap bertahan tinggi hingga 2024. Perkebunan besar negara dan swasta justru cenderung stagnan, bahkan menurun dibanding satu dekade lalu.

Di sisi hulu, kapasitas tumbuh. Di sisi hilir, cerita berubah.

Total kebutuhan gula nasional pada 2025 mencapai 6,33 juta ton. Produksi dalam negeri hanya 2,67 juta ton. Selisihnya sekitar 3,6 juta ton.

Kekosongan ini diisi oleh impor. Data historis BPS menunjukkan volume impor gula berada di atas 5 juta ton per tahun dalam periode 2020-2024, dengan puncak 6,00 juta ton pada 2022 dan tetap tinggi di 5,31 juta ton pada 2024.

Sumber impor bergeser cepat. Brasil menjadi pemasok utama dengan volume 3,4 juta ton pada 2024, melonjak dari nol pada 2019. Thailand yang sebelumnya dominan turun ke 981 ribu ton. Australia stabil di kisaran 700-800 ribu ton.

Pasar dalam negeri akhirnya diisi oleh dua arus besar, produksi lokal dan gula berbasis impor. Ukurannya tidak seimbang.

Konsumsi rumah tangga hanya 1,46 juta ton. Angka ini setara 23,13% dari total penggunaan gula nasional. Sementara itu, kebutuhan industri pengolahan mencapai 3,9 juta ton, ditambah sektor horeka sekitar 970 ribu ton. Struktur ini membuat pasar konsumsi relatif kecil dibanding suplai yang beredar.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyampaikan kondisi yang ia sebut tidak biasa. "Satu sisi produksi kita kurang, tapi gulanya tidak bisa laku," ujarnya dalam rapat kerja dengan DPR

Ia menyebut adanya aliran gula rafinasi yang masuk ke pasar konsumsi dalam skala besar. "Kalau bocor hanya sedikit, ini banjir," kata Amran.

Gula rafinasi berasal dari raw sugar impor dan seharusnya digunakan untuk industri.

Secara fisik, produk ini sulit dibedakan dengan gula konsumsi. Celah ini membuka ruang distribusi ke pasar rumah tangga. Ketika sebagian volume industri berpindah ke segmen konsumsi yang ukurannya jauh lebih kecil, tekanan harga tidak terhindarkan.

Dampaknya langsung terasa di tingkat hulu. Produk turunan tebu seperti molase, sisa cairan dari proses kristalisasi gula turun dari sekitar Rp1.900 per kilogram menjadi Rp1.000 per kilogram. Gula lokal sulit terserap. Petani kehilangan dua sumber pendapatan sekaligus.

Tekanan yang sama terjadi di level korporasi. Chief Operating Officer Danantara Dony Oskaria mengungkapkan, SugarCo mencatat kerugian Rp680 miliar. "Harga tidak cukup baik akibat impor gula yang tidak terkontrol," ujarnya. Pemerintah sebelumnya mengalokasikan subsidi sekitar Rp1,5 triliun untuk menyerap gula petani. Hasilnya terbatas.

Perubahan perilaku konsumen ikut memengaruhi arah pasar. BPS mencatat konsumsi gula per kapita turun menjadi 5,15 kilogram per tahun. Konsumsi rumah tangga bergerak turun. Sebagian permintaan berpindah ke produk makanan jadi yang diproduksi industri.

Aliran barang tetap besar. Permintaan langsung mengecil. Distribusi tidak sepenuhnya terkendali. Kombinasi ini membentuk tekanan yang berlapis.

Pemerintah merespons melalui konsolidasi BUMN gula. PT Sinergi Gula Nasional (SGN) akan difokuskan pada produksi. ID Food diarahkan ke perdagangan. Targetnya satu holding yang menguasai sekitar 60% pangsa pasar nasional. Di saat yang sama, kebijakan larangan dan pembatasan (lartas) untuk gula rafinasi disiapkan guna mengatur aliran barang.

Arah kebijakan sudah terbaca.

Tantangan ada di pelaksanaan. Selama volume impor berada di kisaran jutaan ton per tahun dan jalur distribusi belum rapat, tekanan di pasar konsumsi akan terus muncul. Produksi dalam negeri bisa bertambah. Harga belum tentu ikut pulih.

Untuk itu, akurasi data kebutuhan harus tegas dan jelas. Transparansi kebutuhan industri, penggunaan gula impor, kemampuan pabrik-pabrik gula di dalam negeri, jalur stok, hingga arus distribusi tebu harus akurat. Dengan begitu, penetapan impor tidak berlebih dan dapat ditelusuri kebocorannya hingga ke titik paling hilir. 

Data historis BPS menunjukkan kapasitas hulu tidak berhenti. Luas areal tebu bertambah dari 472 ribu hektare pada 2014 menjadi lebih dari 520 ribu hektare pada 2024. Produksi ikut bergerak. Namun pasar tempat produk itu dijual berubah lebih cepat.

Cerita industri gula saat ini bergerak di dua arah. Di kebun, aktivitas meningkat. Di pasar, harga tertekan. Di antara keduanya, jalur distribusi menjadi penentu.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |