Jakarta, CNBC Indonesia — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,98% ke level 6.116,69 pada perdagangan Senin (22/6).
Penguatan terbesar datang dari saham BYAN yang melesat 20%, disusul CASA yang naik 3,01% dan AMRT yang menguat 4,44%. Sebaliknya, tekanan pada indeks dipimpin oleh BBRI yang turun 2,05%, TLKM terkoreksi 2,71%, dan BMRI melemah 2,09%.
Investor asing membukukan aksi jual bersih sebesar Rp1,11 triliun di pasar reguler maupun seluruh pasar. Dari sisi sektoral, sembilan dari sebelas sektor berakhir di zona merah. Sektor bahan baku mencatat pelemahan terdalam sebesar 2,49%, sementara sektor energi menjadi satu-satunya sektor yang mencatat penguatan signifikan dengan kenaikan 1,47%.
Di pasar global, indeks saham Amerika Serikat ditutup bervariasi. Dow Jones menguat 0,29% ke posisi 51.712, sedangkan S&P 500 turun 0,37% menjadi 7.472 dan Nasdaq melemah 1,33% ke level 26.166. Sementara itu, ETF EIDO dan MSCI Indonesia masing-masing turun 2,25% dan 2,12%.
Pelaku pasar saat ini juga mencermati sejumlah penawaran umum perdana saham (IPO) yang dijadwalkan melantai pada Juli mendatang. Dari enam calon emiten yang akan tercatat di Bursa Efek Indonesia, lima di antaranya masih berada dalam masa penawaran awal (book building). Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan aktivitas di pasar primer dan mengalihkan sebagian perhatian investor dari perdagangan pasar sekunder.
Dari sisi aksi korporasi, PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX selaku pengelola jaringan JEC Eye Hospitals and Clinics, tengah menjalani masa book building pada 22–24 Juni 2026 dengan target pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia pada 7 Juli 2026.
Perseroan bergerak di bidang layanan kesehatan mata spesialis yang mencakup operasi katarak, retina, refraktif, serta berbagai layanan oftalmologi lainnya. Saat ini JECX mengoperasikan lima rumah sakit khusus mata dan 11 klinik mata di Indonesia.
Salah satu pemegang saham strategis JECX adalah PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), anak usaha PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), yang telah memiliki 28% saham perseroan sejak April 2022.
Dalam aksi korporasi ini, JECX menawarkan maksimal 487,84 juta saham baru atau setara 8% dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Selain itu, terdapat 162,88 juta saham milik pemegang saham eksisting atau sekitar 2% yang turut ditawarkan kepada publik.
Dengan kisaran harga penawaran Rp1.200-Rp1.400 per saham, perseroan berpotensi memperoleh dana hingga Rp683,18 miliar.
Dana yang diperoleh dari penerbitan saham baru akan digunakan antara lain sebesar Rp49 miliar untuk pembayaran lebih awal sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Rp100 miliar untuk pembayaran lebih awal sebagian pinjaman kepada Bank HSBC Indonesia, serta Rp185 miliar yang akan disalurkan kepada entitas anak.
Rinciannya meliputi Rp50 miliar kepada Nitra Sanata Bali, Rp100 miliar kepada Orbita, dan Rp35 miliar kepada JEC Candi Sejahtera. Adapun sisa dana akan digunakan sebagai modal kerja operasional secara bertahap hingga paling lambat 31 Desember 2027.
Selanjutnya ada PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA) akan melaksanakan mandatory tender offer (MTO) atas 50,53 juta saham dengan harga Rp2.284 per saham. Nilai keseluruhan aksi tersebut mencapai sekitar Rp115,43 miliar.
Pelaksanaan MTO dilakukan setelah PT Pratama Citra Karunia (PCK) menyelesaikan proses akuisisi pada 29 April 2026. Periode penawaran berlangsung selama 30 hari, yakni mulai 23 Juni hingga 22 Juli 2026.
Pembayaran kepada pemegang saham yang berpartisipasi dijadwalkan dilakukan paling lambat pada 3 Agustus 2026 atau 12 hari kalender setelah masa penawaran berakhir.
Setelah pelaksanaan MTO selesai, kepemilikan PCK diperkirakan meningkat menjadi 52,63%, sedangkan kepemilikan publik berpotensi berkurang hingga tidak tersisa.
Lalu ada juga PT Geoprima Solusi Tbk (GPSO) yang berencana melakukan penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) dengan menerbitkan 66,67 juta saham baru atau setara 10% dari modal perseroan.
Harga pelaksanaan ditetapkan sebesar Rp427 per saham, sehingga nilai penambahan modal mencapai Rp28,5 miliar.
Dana yang diperoleh akan digunakan untuk membiayai sebagian transaksi pembelian aset tetap milik PT Jakarta Indah Casting (JIC) senilai Rp78,5 miliar. Aset tersebut meliputi lahan seluas 15.400 meter persegi, bangunan pabrik, serta mesin dan peralatan pendukung ferro casting yang berlokasi di kawasan East Jakarta Industrial Park (EJIP).
Sisa kebutuhan pendanaan sebesar Rp50 miliar akan diperoleh melalui fasilitas pinjaman dari PT Bank China Construction Bank Indonesia dengan tenor 120 bulan dan bunga 9% per tahun.
Dalam aksi korporasi ini, PIMSF Pulogadung selaku pemegang saham pengendali yang saat ini menguasai 36,95% saham GPSO akan bertindak sebagai pembeli siaga. Setelah PMTHMETD terlaksana, porsi kepemilikan pemegang saham publik berpotensi mengalami dilusi sekitar 9,09%.
-
OMED - Buy 208-210 | TP 218-222 | SL 200
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
-
TINS - Buy 3670-3690 | TP 3740-3810 | SL 3490
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
-
GULA - Buy 585-595 | TP 605-615 | SL 560
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
-
SONA - Buy 2240-226 | TP 2290-2330 | SL 2130
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
-
ESIP - Buy 145-147 | TP 152-1155 | SL 135
[Gambas:Produk Investasi by Investasiku]
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Keputusan berinvestasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing investor sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi. Selamat berinvestasi secara bijak.(ayh/ayh)
Addsource on Google

1 hour ago
1

















































