Tanaman Asli RI Ini Pernah Dipakai Nabi Muhammad, Kini Terancam Punah

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Wewangian bukan sekadar pelengkap gaya hidup dalam tradisi Islam. Bagi Nabi Muhammad, kebersihan dan keharuman merupakan bagian dari ibadah. Dalam hadits riwayat Al-Bukhari, Rasulullah SAW bahkan menekankan pentingnya menggunakan wewangian bagi setiap Muslim yang memilikinya.

"Sesungguhnya Allah mempunyai hak atas setiap Muslim untuk mandi setiap tujuh hari. Jika ia mempunyai wewangian, hendaklah dipergunakan." (HR Bukhari).

Dalam keseharian, Rasulullah dikenal rutin menggunakan parfum, termasuk saat beribadah. Kesaksian datang dari sang istri, Aisyah RA, yang menyebut salah satu aroma favorit Nabi adalah ud atau kayu gaharu.

"Wewangian yang paling disukai oleh Rasulullah SAW adalah ud (kayu gaharu)," dikutip dari hadits dalam kitab Akhlaq an-Nabi wa Adabuhu karya Abu asy-Syaikh al-Ashbahani, sebagaimana dikutip Detik Hikmah.

Menariknya, kayu gaharu bukan tanaman asli Arab Saudi maupun Timur Tengah. Artinya, bahan wewangian yang disukai Nabi tersebut harus didatangkan dari wilayah lain dengan harga yang sangat mahal. Salah satu sumber utamanya berasal dari wilayah Timur bumi, yakni Indonesia.

Tanaman Asli Nusantara

Popularitas gaharu atau agarwood dalam bahasa Inggris tidak hanya terjadi di dunia Islam. Jauh sebelum Islam lahir, masyarakat India pada 1500 SM telah menggunakan gaharu sebagai persembahan keagamaan. Di China, sejak sekitar tahun 700 M, gaharu sudah menjadi komoditas penting untuk ritual dan wewangian keagamaan.

Namun, semua peradaban memiliki satu masalah yang sama, yakni kesulitan mendapatkan gaharu. Pertama, karena faktor geografis. Gaharu berasal dari pohon genus Aquilaria yang hanya tumbuh di wilayah tertentu seperti Indonesia, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam, Malaysia, India, Bangladesh, Filipina, dan Papua Nugini. Artinya, dunia bergantung pada pasokan dari kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara.

Kedua, karena faktor kelangkaan biologis. Peneliti Ashley Buchanan dalam tulisannya di Daily JSTOR menjelaskan bahwa aroma harum gaharu justru muncul dari pohon yang sakit.
Infeksi mikroba atau jamur pada batang pohon memicu reaksi pertahanan alami yang menghasilkan resin aromatik. Masalahnya, tidak semua pohon Aquilaria mengalami proses ini.

Secara alami, hanya sekitar 7-10% pohon yang terinfeksi dan menghasilkan resin wangi bernilai tinggi.

"Dalam keadaan alami, pohon yang menghasilkan gaharu tidak lebih mahal daripada pohon lain di Asia Selatan dan Asia Tenggara," tulis Buchanan, menegaskan bahwa tanpa infeksi, gaharu hanyalah pohon biasa.

Nilai strategis gaharu juga tercatat dalam literatur kolonial. Dalam buku terbitan 1906 berjudul Houtsoorten van Nederlandsch Oost-Indië karya Frederik Willem van Eeden, disebutkan bahwa Aquilaria Agallocha adalah tanaman asli Sumatra dengan fungsi ganda.

Di Nusantara, kayu gaharu digunakan sebagai bahan bangunan karena kekerasannya yang tinggi. Namun, resin gaharunya justru dikirim ke Timur Tengah sebagai bahan baku parfum bernilai mahal.

Perdagangan ini diyakini tidak hanya terjadi pada masa kolonial atau modern. Jalur dagang Arab-Nusantara sudah aktif sejak abad ke-6 dan 7 Masehi seiring perdagangan kamper dari Barus ke Arab Saudi. Artinya ini membuka kemungkinan bahwa gaharu Nusantara telah beredar di dunia Arab sejak masa awal perkembangan Islam.

Hingga kini, nilai ekonomi gaharu tetap luar biasa. Di pasar domestik, gaharu berkualitas tinggi bisa mencapai Rp 53 juta per kilogram, sementara di pasar internasional harganya dapat melonjak hingga Rp 133 juta per kilogram.

Namun, riset berjudul "Using Global Trade Data to Identify Priorities for Agarwood Conservation and Trade Management" (2025) mengungkap, tingginya tingkat konsumsi gaharu tak sebanding dengan konservasi tanamannya, yakni Aquailaria malaccensis dan Aquilaria filaria. Kedua spesies gaharu tersebut kini berstatus terancam punah sebab 70% perdagangan gaharu berasal dari spesies itu. 

Artinya, jika tak ada langkah preventif, tanaman asli Indonesia yang pernah dipakai Nabi itu akan tinggal cerita. 

(mfa/mfa)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |