Tentang Wartawan, Bakat, Kecepatan dan Makna Kerja

2 hours ago 4
Opini

4 Februari 20264 Februari 2026

Tentang Wartawan, Bakat, Kecepatan dan Makna Kerja

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

Oleh Syafrizal ZA 

Tidak berbakat, tidak bermakna dan tidak berguna. Di negeri ini, tiga kalimat itu terlalu mudah dilontarkan, terutama kepada mereka yang bekerja sunyi, jauh dari sorotan kekuasaan dan gemerlap panggung pencitraan. 

Sebagaimana yang sering kita temui saat berinteraksi dengan lingkungan sekitar, rata-rata kita terlanjur memuja hasil, tetapi malas menghormati proses. Sesuai hukum peradaban manusia,  kita terlalu memuliakan viralitas, namun mencurigai ketekunan. Kita juga sering terlalu mengandalkan ciptaan manusia. Padahal manusia itu ada yang menciptakan. 

Dalam iklim seperti itu, profesi wartawan sering menjadi korban paling telanjang. Mereka dituntut cepat, tetapi dimaki ketika keliru. Wartawan diminta berani, tetapi selalu disalahkan saat menyentuh kepentingan.

Ironisnya, publik dan penguasa sering lupa bahwa wartawan bukanlah mobil pemadam kebakaran,  yang bebas menerobos lampu merah atas nama darurat. Jurnalisme tidak hidup dari kecepatan semata, tetapi wartawan dituntut dari ketepatan, etika dan keberanian menahan diri.

Sayangnya, bangsa ini tampaknya lebih menyukai kabar yang lebih dulu sampai, ketimbang kabar yang benar-benar tepat.  Hal itu sesuai dengan sindiran bijak,  “Kebohongan bisa menyebar ke setengah dunia, sementara kebenaran masih sibuk memakai sepatunya”.

Lebih menyedihkan lagi, kita juga salah kaprah memaknai semangat. Kita lebih mengagungkan ledakan sesaat, pidato heroik, slogan besar, janji bergelora, lalu akhirnya kecewa ketika semuanya pecah, seperti halnya ombak yang merindukan pantai, setelah sampai pecah sendiri. Semangat model ini tidak pernah membangun bangsa. Ia hanya menciptakan ilusi kerja, tanpa daya tahan.

Padahal, Republik ini tidak dibangun oleh manusia-manusia instan. Ia dibangun oleh mereka yang berulang kali jatuh, tetap bekerja meski dicurigai dan bertahan meski dicap tidak berbakat. Selayaknya ikan laut, hidupnya justru dibentuk oleh gelombang, bukan oleh air yang tenang.

Sayangnya, hari ini gelombang dianggap sebagai musuh. Kritik dicurigai. Perbedaan ditakuti. Ketekunan disalahpahami sebagai kemandekan. Kita ingin laut tanpa badai, padahal laut seperti itu hanya akan melahirkan kematian, bukan kehidupan. Sebagian orang memahami bahwa masa-masa sulit adalah proses membentuk karakter seseorang. Namun sebenarnya,  masa-masa sulit itu adalah bagian dari menyingkapkan karakter yang sebenarnya.

Ketika negara, birokrasi dan sebagian publik mulai mengukur manusia hanya dari kecepatan, kedekatan dengan kekuasaan dan kepiawaian tampil di layar, maka kita sedang menciptakan generasi yang takut gelombang. Generasi yang memilih aman, asal selamat dan enggan menjaga kebenaran jika itu berisiko.

Di titik inilah wartawan dan semua pekerja nurani seharusnya berdiri. Bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai pengingat. Bahwa makna kerja tidak lahir dari tepuk tangan, tetapi dari kesetiaan pada prinsip. 

Tidak berbakat bukan dosa. Yang berbahaya adalah menyerah pada kebohongan demi dianggap berguna. Walaupun kita tahu, pada zaman penuh kebohongan ini, mengatakan kebenaran dianggap sebagai tindakan revolusioner. Namun, kebenaran tetaplah kebenaran yang tidak dapat dinegosiasikan. Dan, setiap kebohongan akan selalu ada harganya. 

Negeri ini tidak kekurangan orang pintar. Ia kekurangan orang yang tahan gelombang. Dan selama kita terus menertawakan mereka yang bekerja sunyi, sambil mengidolakan mereka yang hanya pandai berisik, maka jangan heran jika kebenaran selalu datang terlambat, atau bahkan tidak pernah sampai sama sekali.

Penulis adalah Wartawan Harian Waspada dan Waspada.id Wilayah Aceh Barat Daya. 

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |