Ternyata Begini Tampang Warkop 'Fancy' di Jaksel, 1x Makan Rp800.000

8 hours ago 6
Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.

Media sosial mulai menyoroti konten warteg 'fancy', menyusul pembukaan rumah makan baru bernama 'Salira' di bilangan Senopati, Jakarta Selatan. Restoran baru dari jaringan F&B Union Group ini meminjam konsep ala warteg, menggunakan atribusi etalase kaca yang dibuka-tutup dengan gorden vitrase. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)

Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.

Di dalam etalase, tersedia beragam pilihan lauk khas masakan rumahan Nusantara. Pengunjung bisa langsung menunjuk lauk yang diinginkan, lalu 'penjaga warung' akan menyiapkannya di atas piring. Pembeda utama dari warteg konvensional pada umumnya terletak pada harga dan suasana yang terasa premium. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)

Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.

CNBC Indonesia mencoba merasakan langsung suasana makan di Salira pada Kamis (9/4) kemarin. Kami tiba di restoran ala warteg tersebut sekitar pukul 12:38 WIB dan harus masuk daftar tunggu (waiting list), sebuah situasi yang jarang kami temui di warteg konvensional. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)

Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.

Demografi pengunjungnya juga langsung terasa berbeda. Orang-orang datang dengan setelan fesyen khas kelas atas, memikul tas branded seperti Louis Vuitton, Celine, Goyard, Chanel, dan kawanannya. Perempuan berinisial D (50 Tahun) salah satu pengunjung warteg 'fancy' ini mengaku menghabiskan uang Rp800.000 untuk makan bertiga saat kunjungan pertamanya ke Salira. Masing-masing orang memesan dua tipe minuman, beberapa lauk, camilan, dan hidangan pencuci mulut. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)

Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.

Fenomena kemunculan warteg ‘fancy’ seperti Salira yang mematok harga lebih mahal daripada rata-rata warteg konvensional, menunjukkan indikasi gentrifikasi kuliner. Dalam konteks ini, istilah tersebut merujuk pada pergeseran nilai budaya 'merakyat' dari warteg yang sudah ada sejak 1940-an pelan-pelan dilepas dan dirancang untuk naik kelas. (CNBC Indonesia/Kartini Bohang)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |