Tetangga RI Jadi Korban Perang AS-Iran, Langsung Merapat ke Putin

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - India dikabarkan mulai mempererat kembali kerja sama energinya dengan Rusia. Hal ini sebagai respons atas ketegangan di Timur Tengah akibat serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran.

Langkah ini menandai perubahan haluan drastis New Delhi. Sebelumnya, pada Januari lalu, India sempat memangkas pembelian minyak mentah Rusia demi melunakkan hati Presiden Donald Trump agar meringankan tarif bea masuk bagi ekspor India ke AS. Namun, eskalasi militer di Selat Hormuz memaksa India untuk kembali mendekat ke Moskow guna mengamankan pasokan energi nasional.

Dua sumber yang memahami masalah ini mengungkapkan bahwa India dan Rusia telah sepakat untuk mempersiapkan dimulainya kembali penjualan langsung gas alam cair (LNG) untuk pertama kalinya sejak perang Ukraina pecah. Jika kesepakatan ini berlanjut, negosiasi berisiko melanggar sanksi Barat namun diprediksi bisa tuntas dalam hitungan minggu.

Kesepakatan verbal ini tercapai dalam pertemuan pada Selasa (19/03/2026) antara Wakil Menteri Energi Rusia Pavel Sorokin dan Menteri Perminyakan dan Gas India Hardeep Singh Puri di New Delhi. Selain LNG, kedua pejabat tersebut setuju untuk meningkatkan penjualan minyak mentah ke India, yang diproyeksikan melonjak dua kali lipat dari level Januari hingga mencakup setidaknya 40% dari total impor India dalam waktu satu bulan ke depan.

Tahun lalu, India menghabiskan hampir US$ 44 miliar (sekitar Rp 748 triliun) untuk membeli minyak mentah dari Moskow. Jumlah fantastis ini menjadikan India pembeli utama minyak diskon Rusia sekaligus penopang ekonomi Kremlin di masa perang, sebuah posisi yang terus menjadi duri dalam hubungan India dengan pemerintahan Trump.

Meskipun belum memberikan pernyataan resmi, juru bicara Kementerian Luar Negeri India Randhir Jaiswal memberikan sinyal mengenai manuver ini dalam konferensi pers pekan lalu.

"New Delhi sedang dalam pembicaraan dengan beberapa negara untuk mengamankan pasokan energi, termasuk LNG," ujar Jaiswal.

Mantan Duta Besar India untuk Moskow, Ajai Malhotra, menilai langkah ini sebagai tindakan pragmatis yang sangat diperlukan oleh negaranya di tengah ketidakpastian global.

"India memilih jalan yang paling sesuai dengan kepentingan nasionalnya, yang berlabuh pada kemitraan jangka panjang dan tepercaya dengan Rusia," kata Malhotra.

Malhotra juga menambahkan bahwa New Delhi seharusnya tidak perlu ragu menghadapi tekanan dari Washington terkait sanksi yang mungkin membayangi kerja sama ini.

"India sekarang harus menuntut pengecualian atau akomodasi sebagai bagian normal dari negosiasi antara mitra strategis," tegas Malhotra.

Kondisi ekonomi India sendiri sedang terhimpit. Setelah serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari lalu, Teheran membalas dengan mengincar kapal-kapal di Selat Hormuz. Jalur ini merupakan urat nadi bagi separuh pasokan minyak dan LNG India. Akibatnya, antrean panjang mulai terlihat di SPBU India dan banyak restoran kehabisan gas memasak.

Sebuah dokumen pemerintah yang dilihat oleh Reuters menunjukkan kekecewaan para pembuat kebijakan di New Delhi yang sebelumnya sempat mengurangi impor dari Rusia hanya untuk menyenangkan AS.

"India telah mengurangi pembelian minyak mentah Rusia yang didiskon, yang seharusnya bisa menjadi penyangga situasi sampai batas tertentu," tulis nota singkat untuk sekretariat kabinet yang disiapkan pada Rabu (20/03/2026).

Dokumen tersebut memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan pada aliran minyak dari Timur Tengah akan memicu rangkaian tantangan ekonomi bagi India.

"Hal ini akan menyebabkan inflasi yang lebih tinggi, mata uang yang melemah, dan meningkatnya utang luar negeri," sebut laporan tersebut.

Melihat peluang ini, Rusia terus menekan keunggulannya. Diplomat tertinggi Kremlin, Sergei Lavrov, menyatakan bahwa hubungan kedua negara saat ini berada pada titik yang sangat solid, terutama dalam hal kedaulatan transaksi keuangan.

"96% perdagangan antara kedua negara kini dilakukan dalam rupee dan rubel," ungkap Lavrov dalam sebuah konferensi pekan ini.

Lavrov juga memuji model hubungan ini sebagai standar baru dalam diplomasi internasional yang saling menguntungkan tanpa tekanan pihak luar.

"Persahabatan Rusia-India yang telah teruji oleh waktu menjadi contoh bagaimana hubungan antarnegara seharusnya dan dapat dibangun-berdasarkan kesetaraan, rasa saling percaya dan hormat, serta pertimbangan kepentingan satu sama lain," pungkas Lavrov.

(tps/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |