Pasukan TNI turun membersihkan puing-puing dampak gempa di Sulawesi Utara. (dok. Puspen TNI)
Ukuran Font
Kecil Besar
14px
SULAWESI UTARA (Waspada.id): Langit di atas Sulawesi Utara belum sepenuhnya reda dari getar yang mengoyak bumi, Kamis (2/4/2026). Gempa berkekuatan magnitudo 7,6 meninggalkan jejak retak—pada bangunan, pada jalanan, dan pada kecemasan warga.
Namun di tengah puing dan debu yang belum sepenuhnya mengendap, terlihat langkah-langkah tegas prajurit Tentara Nasional Indonesia hadir, bersama relawan dan masyarakat.
Dalam rilisnya, melalui jajaran Kodam XIII/Merdeka, TNI langsung mengerahkan personel ke wilayah terdampak untuk membantu pemerintah daerah dalam penanganan darurat. Respons ini menjadi penegas bahwa dalam setiap bencana, negara tidak datang terlambat.
Fokus utama pengerahan berada di wilayah Manado dan Bitung. Melalui Korem 131/Santiago, prajurit disebar ke titik-titik paling terdampak—tempat di mana suara reruntuhan masih terdengar lebih nyaring daripada harapan.
Di Manado, satu Satuan Setingkat Peleton (SST) gabungan bersama personel Kodim 1309/Manado bergerak menembus sisa-sisa bangunan yang runtuh.
Evakuasi korban dilakukan dengan kehati-hatian, sementara puing-puing dibersihkan satu per satu, termasuk di sekitar GOR KONI Sario yang turut terdampak. Di sela tugas berat itu, prajurit juga hadir sebagai penopang harapan bagi warga yang rumahnya rusak.
Sementara di Bitung, satu SST dari Kodim 1310/Bitung bersama personel Yonif TP 916/BS diterjunkan untuk menangani kerusakan rumah berat.
Perhatian khusus diberikan pada wilayah pesisir Lembeh dan Kasawari, pasca munculnya gelombang tsunami kecil yang sempat memicu kepanikan. Di sana, prajurit tidak hanya bekerja—mereka juga menenangkan.
Di wilayah Kodim 1302/Minahasa, masing-masing satu SST disiagakan untuk Minahasa dan Minahasa Tenggara. Selain membantu warga, personel aktif memantau situasi guna mengantisipasi gempa susulan—sebuah ancaman sunyi yang sering datang tanpa aba-aba.
Pangdam XIII/Merdeka, Mirza Agus, menegaskan bahwa kehadiran prajurit bukan sekadar prosedur, melainkan panggilan kemanusiaan.
“Personel telah kami kerahkan untuk membantu proses penanganan pascagempa, mulai dari evakuasi hingga pendataan kerusakan secara terpadu,” ujarnya dalam rilisnya.
Lebih dari sekadar kerja fisik, prajurit juga aktif menyuarakan imbauan: tetap tenang, tetap waspada, dan mengikuti arahan resmi pemerintah serta informasi dari BMKG.
Kini, perlahan namun pasti, denyut kehidupan mulai kembali di wilayah terdampak. Aktivitas masyarakat berangsur pulih, meski bayang-bayang gempa belum sepenuhnya hilang.
Di balik itu semua, prajurit Kodam XIII/Merdeka terus berjaga—mengawal pemulihan, memastikan setiap langkah menuju normalitas tidak terhenti.
Di tanah yang sempat berguncang, TNI memilih untuk tetap berdiri. Bukan hanya sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai penjaga harapan.(amd)
Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.


















































