Viral Warteg 'Fancy' di Jaksel, Sekali Makan Bayar Rp 800.000

5 hours ago 5
Artikel ini merupakan bagian pertama dari serial "Warteg 'Fancy' di Jakarta" yang terdiri dari tiga bagian: mengupas fenomena warteg premium di Jakarta, kondisi ekonomi yang memengaruhi dinamika gaya hidup kelas menengah, dan potensi apropriasi budaya di dalamnya.

Jakarta, CNBC Indonesia - Konten yang menyorot warteg 'fancy' mulai ramai wara-wiri di linimasa media sosial, menyusul pembukaan rumah makan baru bernama 'Salira' di bilangan Senopati, Jakarta Selatan. Restoran baru dari jaringan F&B Union Group ini meminjam konsep ala warteg, menggunakan atribusi etalase kaca yang dibuka-tutup dengan gorden vitrase.

Di dalam etalase, tersedia beragam pilihan lauk khas masakan rumahan Nusantara. Pengunjung bisa langsung menunjuk lauk yang diinginkan, lalu 'penjaga warung' akan menyiapkannya di atas piring. Pembeda utama dari warteg konvensional pada umumnya terletak pada harga dan suasana yang terasa premium.

Pantauan CNBC Indonesia di linimasa TikTok, konten-konten yang membahas Salira sudah ditonton ribuan kali dan mengundang beragam reaksi dari netizen. Beberapa orang penasaran ingin mencoba pengalaman makan di warteg fancy, tetapi tak sedikit kaum 'mendang-mending' yang mengkritik harganya.

CNBC Indonesia mencoba merasakan langsung suasana makan di Salira pada Kamis (9/4/2026). Kami tiba di restoran ala warteg tersebut sekitar pukul 12:38 WIB dan harus masuk daftar tunggu (waiting list), sebuah situasi yang jarang kami temui di warteg konvensional.

Demografi pengunjungnya juga langsung terasa berbeda. Orang-orang datang dengan setelan fesyen khas kelas atas, memikul tas branded seperti Louis Vuitton, Celine, Goyard, Chanel, dan kawanannya.

Budaya FOMO di Era Medsos

Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.Foto: Kartini Bohang
Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.

Kami sempat berbincang dengan dua pengunjung sambil menunggu panggilan dari resepsionis. Pertama, perempuan berinisial D (50 tahun), yang mengaku datang ke Salira untuk kedua kalinya. Sama seperti kami, D mengetahui keberadaan Salira gara-gara FYP (for your page) di media sosial.

"Orang kan jadi FOMO (fear of missing out) pingin tahu, pingin lihat ini gimana sih, apalagi ini kan Union Group. Tapi kalau mau dibilang ini seperti warteg, menurutku sih nggak nyampe. Untuk rasa, masih lebih enak masakanku. Ibu kita lebih jago masak, kalau dengan harga yang begitu ya, karena ini pricey," kata D kepada kami.

Peneliti Budaya Popular, Hikmat Darmawan, turut menekankan fenomena FOMO yang makin terakselerasi karena perkembangan dunia digital seperti media sosial. Menurutnya, elemen dari budaya FOMO adalah pamer di media sosial.

Mengutip buku yang ditulis Claire Bishop berjudul Disordered Attention: How We Look at Art and Performance Today [2024], Hikmat menjelaskan soal variabel ekonomi baru yang disebut 'ekonomi perhatian'.

"Begitu ada media sosial, memang orang lebih banyak berbicara soal ekonomi perhatian, di mana nilai ekonomi bukan hanya pada pembelian barang, tetapi kepada jumlah perhatian. Komoditasnya adalah perhatian masyarakat. Akarnya dari mana? Budaya industrilisasi setelah era Ford. Masyarakat dibentuk untuk mengonsumsi hal-hal yang tidak diperlukan, sehingga diciptakan pelekatan nilai pada produk," kata Hikmat kepada CNBC Indonesia melalui saluran telepon.

Dalam konteks warteg fancy, Hikmat mengatakan gaya hidup saat ini bukan hanya ditentukan rasa di lidah atau selera, melainkan apakah gaya hidup itu bisa ditonton orang di media sosial. Karena itu, foto dan selfie menjadi penting.

"Budaya FOMO ini kemudian sering dimanfaatkan oleh pemasar produk. Kalau sesuatu laku, belum berarti karena kualitasnya, tetapi karena perhatiannya [besar], karena FOMO-nya," ujar Hikmat.

Bayar Rp 800.000 Buat Makan Bertiga

Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.Foto: Kartini Bohang
Rumah Makan Salira, mengusung konsep ala warteg dengan harga dan nuansa premium.

Kunjungan kedua D ke Salira pada Kamis (9/4) siang karena diajak temannya yang belum mencoba makan di restoran tersebut. D memiliki banyak kelompok pertemanan yang penasaran dengan Salira, sehingga ia merasa punya kewajiban untuk menemani mereka.

"Kalau buatku personal sih, sekali aja cukup. Kalau tahu rasa, sebenarnya masih banyak restoran lebih enak dengan harga terjangkau. Tapi sekarang ini orang kan pingin gaya, apalagi ini di [Jakarta] Selatan. Orang-orang yang gengsi makan di warteg mau ke sini karena citarasa wartegnya ada, gayanya dapat, tempatnya nyaman," ia menuturkan.

Pada kunjungan pertamanya, D mengaku menghabiskan uang Rp800.000 untuk makan bertiga. Masing-masing orang memesan dua tipe minuman, beberapa lauk, camilan, dan hidangan pencuci mulut. Meski secara umum kurang cocok dengan rasa makanan di Salira, ada beberapa menu yang menurut D cukup nyaman di lidah, yakni cempedak goreng dan wedang jahe.

Selain D, kami juga berbincang-bincang dengan lelaki bernama AK (40) yang mengaku sering beraktivitas di area Gunawarman dan Senopati. Tidak seperti D, AK mengaku cocok dengan citarasa yang ditawarkan Salira.

AK pertama kali mengetahui Salira karena lewat di depan restoran tersebut saat masih ramai terpampang papan ucapan pembukaan beberapa hari lalu. Saking sukanya dengan makanan Salira, AK mengatakan 8 hari berturut-turut makan di tempat tersebut dan belum bosan.

"Saya senang di sini mereka tahu mana makanan asin dan nggak asin. Kebetulan saya nggak suka yang asin. Jadi mereka tahu soal rasa. Makanannya walaupun nggak asin tetap enak. Soal harga relatif ya. Kalau ada rezeki nggak ada masalah," kata AK kepada kami.

AK mengaku membayar Rp212.000 untuk menu nasi, pipi sapi tinorangsak, air mineral, es jeruk, tahu, kentang cabai.

Tiba giliran kami mencicipi makanan di Salira pada pukul 13:06 WIB, setelah menunggu sekitar 30 menit. Kami memesan nasi merah, tempe orek, sayur melinjo, sambal bawang, dengan total bill Rp147.813 sudah dengan PB1 dan service charge. Sebuah harga mahal untuk ke-FOMO-an dan rasa biasa saja.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |