3 Pulau Kecil Ini Bisa Jadi Penentu Nasib Perang AS-Iran

5 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Tiga pulau kecil milik Iran di mulut Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian. Ini setelah militer Amerika Serikat (AS) menggempur dua di antaranya dalam eskalasi terbaru perang dengan Teheran.

Meski luas gabungannya hanya sekitar 25 kilometer persegi, Abu Musa, Tunb Besar dan Tunb Kecil memiliki posisi yang sangat strategis. Ketiganya berada tepat di jalur pelayaran utama salah satu chokepoint energi terpenting dunia.

Sebenarnya, pulau-pulau tersebut telah lama menjadi pangkalan militer Iran yang memungkinkan Teheran mengawasi sekaligus mengendalikan pergerakan kapal di Selat Hormuz, jalur yang pada masa damai dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas alam dunia. Melansir analisis The Associated Press, Jumat (17/7/2026), serangan militer AS terhadap Abu Musa dan Tunb Besar dalam beberapa hari terakhir memunculkan kembali spekulasi mengenai masa depan tiga pulau berbatu itu.

Perlu diketahui, hingga kini, ketiga pulau masih menjadi area sengketa antara Iran dan Uni Emirat Arab (UEA). Iran merebutnya pada 30 November 1971 dari wilayah yang kemudian menjadi UEA, hanya dua hari sebelum negara Teluk itu resmi berdiri.

Pulau Kecil, Peran Strategis Besar

Ya, total luas ketiga pulau itu hanya sekitar 10 mil persegi atau sekitar 25 kilometer persegi. Namun letaknya berada tepat di jalur laut dalam yang digunakan kapal-kapal untuk keluar masuk Selat Hormuz menuju Teluk Persia.

Pulau terbesar, Abu Musa, memiliki sebuah desa kecil. Tetapi fungsi utamanya adalah sebagai pangkalan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Iran menempatkan kapal-kapal cepat, rudal, dan sistem pertahanan udara di pulau tersebut. Kapal cepat dan rudal itu selama bertahun-tahun digunakan untuk mengganggu pelayaran internasional di Selat Hormuz.

Pulau Tunb Besar juga menjadi lokasi penempatan sistem pertahanan udara dan instalasi militer Iran. Sementara Pulau Tunb Kecil yang lebih kecil hanya dihuni personel militer.

Karena posisi strategisnya, kawasan ini telah lama diperebutkan oleh berbagai kekuatan regional. Iran merebutnya saat dipimpin Shah Mohammad Reza Pahlavi, di mana kala itu Teheran masih sekutu utama AS di kawasan.

Digunakan Iran Sejak Perang Tanker

Setelah Revolusi Islam 1979, Iran menjadikan ketiga pulau itu sebagai basis operasi dalam "Perang Tanker" pada dekade 1980-an ketika Angkatan Laut AS mengawal kapal tanker minyak melewati kawasan yang berada di bawah ancaman serangan Iran. Dari pulau-pulau tersebut, Iran memantau aktivitas di Selat Hormuz sekaligus meluncurkan kapal untuk memasang ranjau maupun menyerang kapal secara langsung.

Data pemerintah AS memperkirakan Iran menyerang lebih dari 160 kapal selama konflik tersebut. Dalam perang yang sedang berlangsung saat ini, Joint Maritime Information Center, koalisi yang berada di bawah pengawasan Angkatan Laut AS, mencatat telah terjadi lebih dari 50 serangan terhadap kapal maupun fasilitas minyak.

Angka itu juga mencakup sejumlah insiden. Termasuk ketika militer AS melepaskan tembakan ke kapal-kapal yang dituduh berusaha menembus blokade terhadap Iran.

Sasaran Serangan AS

Dalam beberapa hari terakhir, militer AS melancarkan serangan terhadap Abu Musa dan Tunb Besar sebagai bagian dari eskalasi konflik dengan Iran. Serangan tersebut memunculkan spekulasi bahwa Washington mungkin mempertimbangkan operasi militer untuk merebut pulau-pulau tersebut.

Kolumnis The Telegraph yang berbasis di Dubai, Isabel Oakeshott, menggambarkan peran strategis ketiga pulau tersebut bagi Iran.  Ia bahkan menyebut Abu Musa sebagai "kapal induk tetap" milik Iran.

"Bersama-sama, mereka bertindak sebagai sistem pertahanan berlapis terhadap titik penyempitan energi paling penting di dunia," ujarnya.

Secara militer, sejumlah analis menilai AS memiliki kemampuan merebut pulau-pulau tersebut karena memiliki pasukan Marinir dan pasukan lintas udara yang sudah berada di kawasan. Namun, mempertahankan pulau-pulau itu setelah direbut dinilai jauh lebih sulit.

Analis Quincy Institute for Responsible Statecraft Brandon Carr memperingatkan bahwa pasukan Amerika akan sangat rentan terhadap serangan balasan Iran. Menurut Carr, pasukan Marinir AS akan menghadapi ancaman langsung dari rudal balistik maupun drone Iran.

"Tanpa benteng pertahanan yang telah dipersiapkan dan diperkuat untuk memberikan perlindungan, bahkan dengan dukungan udara dari aset angkatan laut di sekitar, perlindungan terhadap pasukan akan menjadi tantangan yang sangat besar," ujarnya.

"Pasukan Marinir akan berada di bawah tembakan rudal balistik dan drone Iran, yang secara signifikan akan membatasi kemampuan mereka memproyeksikan kekuatan ke Selat Hormuz," tambahnya.


Yang Dilakukan UEA

Dalam beberapa tahun terakhir, UEA sebenarnya berhasil melobi China dan Rusia agar memasukkan bahasa mengenai penyelesaian sengketa tiga pulau tersebut melalui negosiasi atau pengadilan internasional ke dalam pernyataan bersama mereka. Langkah itu memicu kemarahan Teheran, meski sengketa tersebut relatif kurang mendapat perhatian dunia.

Pakar hukum asal UEA, Noora Mohamed Al Murry, menilai dunia selama ini keliru memandang persoalan tersebut. Ia juga menilai sikap ambigu komunitas internasional memiliki konsekuensi besar.

"Apa yang dunia sebut sebagai sengketa wilayah bilateral sebenarnya sejak awal merupakan klaim strategis atas salah satu titik penyempitan perdagangan global," katanya.

"Ambiguitas yang dikelola, di jalur perairan yang sedemikian penting, bukanlah posisi yang netral. Itu adalah sebuah pilihan yang memiliki harga, dan dunia kini sedang menerima tagihannya," tambahnya.

Sementara itu, Oakeshott memperkirakan Uni Emirat Arab akan berupaya mendapatkan kembali pulau-pulau tersebut setelah konflik berakhir. Menurutnya, UEA yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS dan beberapa kali menjadi sasaran serangan Iran selama perang kemungkinan akan memanfaatkan momentum pascakonflik untuk menghidupkan kembali klaimnya atas Abu Musa serta Tunb Besar dan Tunb Kecil.

Eskalasi militer AS terhadap Iran dinilai dapat memaksa penyelesaian sengketa yang telah berlangsung selama 55 tahun sejak Shah Mohammad Reza Pahlavi pernah memperingatkan dunia mengenai pentingnya Selat Hormuz.

"Tidak diperlukan kapal besar untuk membawa sebuah bazoka dan beberapa peluru," kata Shah kepada The Guardian pada 1971. "Namun gangguan yang dapat ditimbulkannya sangatlah besar."

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |