Prabowo Optimistis RI Bisa Ikuti Jejak India-Brasil Garap Bensin Tebu

5 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan Indonesia harus segera mengikuti jejak India dan Brasil dalam mengimplementasikan pencampuran bensin dengan bioetanol. Seperti diketahui, sumber bahan baku bioetanol ini bisa berasal dari tetes tebu (molase), sorgum, singkong, aren, jagung dan lainnya.

Hal itu dinilai bisa memperkuat kemandirian energi nasional dan memastikan devisa negara berputar di dalam negeri.

Prabowo menginstruksikan pembangunan hingga 50 pabrik bioetanol baru untuk mengejar target bauran bioetanol yang lebih tinggi. India tercatat sudah mengimplementasikan bioetanol dengan komposisi 20% (E20), sedangkan Brasil sudah mencapai E100.

Indonesia sendiri saat ini belum mengeluarkan mandatori untuk penggunaan bioetanol dicampurkan ke bensin. Namun pada praktiknya, Pertamina telah mencampurkan E5 di beberapa titik SPBU dalam negeri.

"India sudah E20, India sudah E20. Brasil sudah E100. Masa Indonesia gak bisa, Indonesia bisa kan? Bisa? Bisa bisa bisa," kata Prabowo dalam acara Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Dia menjelaskan bahwa Indonesia telah berhasil mencapai kemandirian pada sektor solar melalui pengolahan kelapa sawit menjadi biodiesel. Keberhasilan tersebut membuat Indonesia tidak lagi bergantung pada impor solar dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi para petani.

"Sekarang kita hasilkan Solar dari kelapa sawit, jadi dari mulai Juli ini kita tidak impor Solar lagi dari luar negeri. Lebih baik uang itu beredar di Indonesia dinikmati petani-petani sawit seluruh Indonesia," tegasnya.

Saat ini, Indonesia baru memiliki satu pabrik bioetanol yang sudah beroperasi untuk mendukung program bauran bensin. Dalam mencapai target E20 atau campuran bioetanol 20% (E20), Prabowo menargetkan penambahan pabrik bioetanol secara masif dalam waktu dekat.

"Butuh pabrik tadi pabriknya yang kita miliki baru 1 pabrik, tadi saya putuskan kita bangun minimal 30 pabrik. Kalau perlu sampai 50 pabrik," ujar Prabowo.

Prabowo juga menyoroti pihak-pihak yang masih meragukan kemampuan bangsa dalam mewujudkan kedaulatan energi. Ia meminta agar Indonesia berhenti bergantung pada kekuatan asing dan mulai fokus pada kekuatan sumber daya alam sendiri.

"Bisa, yang gak mau nggak apa-apa, duduk saja. Duduk saja nonton, ya tapi jangan membebek. Kepada kekuatan asing terus. Indonesia jelek, Indonesia apa, Indonesia gelap, kalau pakai kacamata gelap ya gelap terus," pungkasnya.

Peran Pertamina

Pertamina New & Renewable Energy (NRE) membeberkan sejumlah negara yang telah berhasil menerapkan pencampuran bensin dengan bioetanol. Negara-negara seperti Brasil dan India tercatat sudah lebih unggul dalam pengembangan bioetanol yang dicampur dengan BBM.

CEO Pertamina NRE John Anis menekankan pentingnya Indonesia mengejar ketertinggalan dalam implementasi bauran energi nabati di sektor transportasi. Hal itu dia ungkapkan di hadapan Presiden RI Prabowo Subianto.

"Nah ini contoh produknya Pak sudah ada yang... ini contoh E100 Pak. Kemudian ini... ini E100 Pak. Brasil. E100 Pak. Kalau India E20 Pak," katanya dalam paparan Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).

Dia menjelaskan bahwa India saat ini telah jauh melampaui capaian Indonesia dengan menerapkan kebijakan campuran etanol sebesar 20% atau E20. Sementara itu, Indonesia saat ini baru mencapai tahap pencampuran 5% atau E5 yang tersebar di wilayah Jakarta dan Jawa Timur.

"India udah E20 Pak, jadi kita nggak mau kalah Pak, kita harus kejar mereka. Kita baru E5 Pak. Jadi ini E5 di 170 outlet kami di Jawa Timur dan di Jakarta," ungkapnya.

Pihaknya sendiri berambisi untuk menyamai pencapaian negara-negara tersebut melalui pengembangan berbagai bahan baku lokal. John menegaskan pihaknya tidak ingin devisa negara terus mengalir ke luar negeri untuk membiayai impor bahan bakar minyak.

"Jadi impor daripada uangnya ke luar pak, kasih petani pak," tegasnya saat merespons pertanyaan Prabowo terkait dampak kebijakan tersebut terhadap pengurangan impor.

Saat ini, pihaknya tengah memetakan potensi bahan baku nabati di seluruh Indonesia. Pengembangan bioetanol diharapkan tidak hanya memperkuat ketahanan energi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat daerah.

"Nah yang menarik Pak, ini kan energi di sini Pak, kalau kilang kan di beberapa tempat aja, ini bisa desentralisasi di semua tempat tergantung dari kearifan lokal," tambahnya.

John juga mengingatkan bahwa keberhasilan negara-negara lain dalam menerapkan campuran bensin dan bioetanol perlu didorong oleh regulasi. Karena itu, Pertamina memerlukan dukungan kebijakan mandatori serta kepastian harga bahan baku agar target E20 bisa segera tercapai.

"Ada dua Pak, mandatori sama kepastian feedstock Pak dan harganya Pak, demikian," tandasnya.

(wia)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |