Alasan Pesawat Tak Boleh Terbang Saat Gunung Meletus, Mesin Bisa Mati?

3 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

07 September 2026 12:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas penerbangan dari dan ke wilayah Jakarta dan sekitarnya terganggu akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda.

Sebanyak delapan bandar udara terpaksa menghentikan operasional sementara pada Minggu (6/9/2026) setelah abu vulkanik terdeteksi memasuki ruang udara dan area bandara.

Kedelapan bandara tersebut adalah Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, Bandara Husein Sastranegara, Bandara Pondok Cabe, Bandara Budiarto, Bandara Radin Inten II, Bandara Taufik Kiemas, serta Bandara Atung Bungsu di Pagar Alam. 

Penutupan tersebut berdampak terhadap 1.558 penerbangan dan sekitar 170.000 penumpang. Khusus di Bandara Soekarno-Hatta, sebanyak 963 jadwal kedatangan dan keberangkatan terdampak hingga Minggu sore.

Penumpang yang terdampar menunggu di terminal saat Bandara Internasional Soekarno-Hatta menutup operasinya akibat letusan gunung berapi Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Senin,  7 September 2026. REUTERS/Ajeng Dinar UlfianaPenumpang yang terdampar menunggu di terminal saat Bandara Internasional Soekarno-Hatta menutup operasinya akibat letusan gunung berapi Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Senin, 7 September 2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana Foto: Penumpang yang terdampar menunggu di terminal saat Bandara Internasional Soekarno-Hatta menutup operasinya akibat letusan gunung berapi Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Senin, 7 September 2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Namun, Bandara Atung Bungsu (WIPY) di Pagar Alam, Sumatera Selatan, kembali dibuka pada Senin (7/9/2026) pukul 08.12 WIB. Pembukaan tersebut ditetapkan melalui NOTAM C1107/26 NOTAMC C1105/26.

Gangguan penerbangan bermula setelah Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi.

"Terjadi erupsi G. Anak Krakatau pada hari Minggu, 6 September 2026, pukul 03.53 WIB. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 46 mm dan durasi 30 detik," tulis Badan Geologi melalui akun X resminya.

Berdasarkan analisis citra satelit BMKG pada Minggu pukul 08.00 WIB, sebaran abu vulkanik terpantau membentuk dua klaster yang meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung, hingga Bengkulu.

Abu pada ketinggian hingga 20.000 kaki bergerak ke arah timur laut hingga selatan. Sementara abu yang mencapai 50.000 kaki bergerak ke arah barat daya hingga barat laut.

A drone view shows Mount Anak Krakatau volcano spewing hot ash during an eruption, in South Lampung, Lampung province, Indonesia, September 5, 2026. Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG)/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. NO RESALES. NO ARCHIVES.      TPX IMAGES OF THE DAYA drone view shows Mount Anak Krakatau volcano spewing hot ash during an eruption, in South Lampung, Lampung province, Indonesia, September 5, 2026. Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG)/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. NO RESALES. NO ARCHIVES. TPX IMAGES OF THE DAY Foto: via REUTERS/PVMBG

Lantas, mengapa abu hasil erupsi gunung berapi bisa membuat penerbangan dihentikan?

Apa Itu Abu Vulkanik?

Sebagai gambaran, Abu vulkanik yang dihasilkan dari erupsi gunung berapi merupakan kumpulan partikel batuan, mineral, dan kaca vulkanik yang terlontar ketika tekanan gas di dalam gunung memecah magma serta material di sekitarnya saat erupsi.

Partikel yang digolongkan sebagai abu vulkanik memiliki ukuran kurang dari 2 milimeter. Sebagiannya bahkan sangat halus hingga tidak mudah terlihat oleh mata.

Gunung berapi Gunung Sinabung meletus terlihat dari Karo, Provinsi Sumatera Utara, Rabu (2/9/2026). (REUTERS/Ferdy Siregar)Gunung berapi Gunung Sinabung meletus terlihat dari Karo, Provinsi Sumatera Utara, Rabu (2/9/2026). (REUTERS/Ferdy Siregar) Foto: REUTERS/Ferdy Siregar

Secara kimia, abu vulkanik umumnya didominasi oleh material silikat yang tersusun dari unsur silikon dan oksigen. Salah satu senyawa utamanya adalah silika atau silikon dioksida (SiO₂), bahan keras yang juga menjadi komponen utama pasir, kuarsa, dan kaca.

Abu vulkanik juga dapat mengandung aluminium, besi, kalsium, magnesium, natrium, kalium, serta berbagai mineral lainnya.

A drone view shows Mount Anak Krakatau volcano spewing hot ash during an eruption, in South Lampung, Lampung province, Indonesia, September 5, 2026. Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG)/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. NO RESALES. NO ARCHIVES.      TPX IMAGES OF THE DAYA drone view shows Mount Anak Krakatau volcano spewing hot ash during an eruption, in South Lampung, Lampung province, Indonesia, September 5, 2026. Center for Volcanology and Geological Hazard Mitigation (PVMBG)/Handout via REUTERS ATTENTION EDITORS - THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY. MANDATORY CREDIT. NO RESALES. NO ARCHIVES. TPX IMAGES OF THE DAY Foto: via REUTERS/PVMBG

Komposisinya dapat berbeda pada setiap gunung, tergantung jenis magma dan batuan yang ikut terpecah saat erupsi. Namun, abu vulkanik umumnya memiliki karakter yang sama, yakni keras, tajam, dan abrasif atau mampu mengikis permukaan.

Bentuk partikelnya yang tidak beraturan membuat abu vulkanik menyerupai pecahan batu dan kaca berukuran sangat kecil. Karakter inilah yang menjadikannya berbahaya bagi pesawat.

Berikut empat dampak abu vulkanik yang dapat membahayakan penerbangan

1. Ancaman Bagi Mesin Pesawat

Ancaman terbesar abu vulkanik terdapat pada mesin pesawat, terutama pada pesawat yang bermesin jet.

Untuk menghasilkan tenaga, mesin jet harus menyedot udara dalam jumlah yang sangat besar. Jika pesawat berada di tempat yang terdapat partikel abu vulkanik, partikel batuan dan kaca vulkanik akan ikut tersedot ke dalam mesin.

Pada bagian depan mesin, partikel tersebut dapat mengikis bilah pada kipas di mesin dan kompresor. Efeknya menyerupai pasir yang ditembakkan dengan kecepatan tinggi ke permukaan mesin.

Mesin pesawat produksi GE Aerospace. (Instagram/ge_aerospace)Mesin pesawat produksi GE Aerospace. (Instagram/ge_aerospace) Foto: Mesin pesawat produksi GE Aerospace. (Instagram/ge_aerospace)

Bahaya yang lebih besar muncul ketika abu memasuki ruang pembakaran. Suhu di bagian ini sangat tinggi dan dapat melampaui titik leleh sebagian material silikat di dalam abu vulkanik.

Akibatnya, abu dapat meleleh dan berubah menjadi material menyerupai kaca cair. Ketika bergerak ke bagian mesin yang lebih dingin, material tersebut kembali mengeras dan menempel pada bilah serta di saluran turbin.

Endapan itulah yang dapat menghambat aliran udara, menyumbat lubang pendingin, dan menaikkan temperatur mesin. Dampaknya, mesin pesawat jet bisa mengalami gangguan kompresor, kehilangan daya dorong, hingga mati atau mengalami flameout.

Abu vulkanik juga dapat masuk ke sistem ventilasi dan pendingin pesawat.

Partikel yang menumpuk berpotensi mengganggu sistem elektronik, hidraulik, hingga pasokan udara di dalam kabin.

Risiko kerusakan meningkat ketika mesin bekerja dengan tenaga besar, seperti saat pesawat lepas landas. Karena itu, keberadaan abu vulkanik di sekitar bandara sangat amat berbahaya.

2. Mengganggu Pandangan Pilot

Abu vulkanik dapat menghantam kaca kokpit ketika pesawat melaju dengan kecepatan ratusan kilometer per jam.

Partikel batuan dan kaca yang keras akan mengikis permukaan kaca. Jika paparan cukup tebal, kaca kokpit dapat berubah menjadi buram seperti kaca yang digosok menggunakan amplas.

Kondisi tersebut tentu menyulitkan pilot melihat keluar, terutama ketika pesawat sedang melakukan pendekatan dan pendaratan. Abu juga dapat mengikis lampu pendaratan dan permukaan depan pesawat.

Namun, masalahnya bukan hanya gangguan pandangan secara langsung.

3. Mengurangi Akurasi Indikator Pesawat

Selain mengganggu pandangan pilot, partikel abu vulkanik juga dapat menyumbat sistem pitot-static yang digunakan untuk mengukur kecepatan, ketinggian, dan tekanan udara di sekitar pesawat. Jika sistem tersebut terganggu, indikator kecepatan dapat menampilkan informasi yang tidak akurat.

Awan abu juga tidak selalu mudah dikenali dari dalam kokpit. Pada malam hari atau ketika bercampur dengan awan biasa, pilot bisa saja tidak menyadari bahwa pesawat sedang mendekati wilayah yang tercemar abu vulkanik.

Radar cuaca pesawat pada dasarnya dirancang untuk membaca kandungan air seperti hujan, bukan partikel abu vulkanik yang kering.

Karena itu, awan abu tidak selalu muncul pada radar pesawat maupun radar pengatur lalu lintas udara.

Pilot harus mengandalkan informasi satelit, peringatan SIGMET, Volcanic Ash Advisory, laporan pesawat lain, dan arahan pengatur lalu lintas udara untuk menghindarinya.

4. Berbahaya Bagi Permukaan Landasan

Abu vulkanik yang sudah jatuh ke permukaan juga dapat mengganggu operasional penerbangan.

Endapan abu yang menempel pada landasan pacu dapat mengurangi daya cengkeram ban saat pesawat mendarat dan melakukan pengereman. Risikonya semakin tinggi ketika abu bercampur dengan air hujan dan membuat permukaan landasan menjadi lebih licin.

Pergerakan pesawat juga dapat menerbangkan kembali abu yang sudah mengendap. Semburan udara dari mesin ketika pesawat bergerak atau lepas landas dapat mengangkat partikel abu ke udara.

Abu tersebut kemudian dapat tersedot ke mesin pesawat atau mengurangi jarak pandang pesawat lain yang berada di belakangnya.

Penggunaan reverse thrust ketika pesawat melakukan pendaratan juga berisiko menerbangkan abu dari permukaan landasan.

Sejarah Gangguan Penerbangan Akibat Abu Vulkanik

Bahaya abu vulkanik bagi penerbangan telah menjadi perhatian besar dunia setelah dua insiden serius terjadi di langit Indonesia pada 1982.

Pada 24 Juni 1982, Boeing 747 milik British Airways terbang dari Kuala Lumpur menuju Perth pada ketinggian sekitar 37.000 kaki atau 11.300 meter.

Tanpa disadari awak pesawat, penerbangan tersebut memasuki awan abu vulkanik yang berasal dari erupsi Gunung Galunggung di Jawa Barat.

Keempat mesin pesawat itu pun harus kehilangan daya dorongnya.

Pesawat akhirnya terbang tanpa tenaga selama sekitar 16 menit dan turun hingga mencapai ketinggian sekitar 12.000 kaki. Setelah keluar dari awan abu tersebut dan memasuki udara yang lebih bersih, pilot berhasil menyalakan kembali tiga mesin.

Pesawat akhirnya melakukan pendaratan darurat dengan selamat di Jakarta.

Tiga minggu kemudian, Boeing 747 milik Singapore Airlines yang terbang menuju Melbourne mengalami kejadian serupa. Dua mesinnya kehilangan tenaga setelah pesawat memasuki abu dari Gunung Galunggung.

Pesawat tersebut juga berhasil dialihkan dan mendarat di Jakarta.

Penyelidikan menunjukkan mesin kedua pesawat mengalami gangguan setelah menyedot abu vulkanik. Mesin baru dapat dinyalakan kembali setelah pesawat turun dan keluar dari lapisan abu.

Setelah kejadian tersebut, International Civil Aviation Organization (ICAO) bekerja sama dengan World Meteorological Organization (WMO) dan sejumlah lembaga lain untuk mengembangkan sistem peringatan serta prosedur penanganan abu vulkanik.

Kerja sama itu kemudian berkembang menjadi International Airways Volcano Watch (IAVW), sistem pengawasan global yang bertugas memastikan informasi mengenai erupsi dan pergerakan abu vulkanik dapat diteruskan dengan cepat kepada otoritas penerbangan, maskapai, pengatur lalu lintas udara, dan pilot.

Informasi tersebut menjadi dasar untuk menerbitkan peringatan penerbangan, mengubah rute pesawat, menunda perjalanan, hingga menutup sementara ruang udara dan bandara yang terdampak.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |