Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan agar masyarakat tidak menyebarkan misinformasi atau informasi misleading yang belum terverifikasi terkait erupsi Gunung Anak Krakatau karena berpotensi memicu kepanikan.
Meutya meminta masyarakat mengikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi sebaran abu vulkanik dari sumber-sumber resmi dan terpercaya. Terutama melalui kanal resmi pemerintah, antara lain PVMBG, BMKG, BNPB, pemerintah daerah, serta instansi terkait lainnya.
"Pastikan keakuratan informasi dari pihak-pihak yang memiliki kewenangan terkait kebencanaan gunung berapi demi menghindari misnformasi atau misleading yang dapat menyebabkan keresahan," kata Meutya dalam keterangan pers yang dikutip CNBC Indonesia pada Senin (7/9/2026).
Lebih lanjut, Meutya mengingatkan masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya terkait kondisi Gunung Anak Krakatau.
"Dalam situasi seperti ini, informasi yang tidak benar dapat menimbulkan kepanikan. Karena itu, saring sebelum sharing. Pastikan informasi yang kita terima berasal dari sumber resmi dan dapat dipertanggungjawabkan," tegas Meutya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan meningkatkan kewaspadaan menyusul aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.
"Yang paling penting adalah tetap tenang, tetapi jangan mengurangi kewaspadaan. Masyarakat perlu mengikuti arahan dari otoritas terkait dan memastikan informasi yang diterima berasal dari sumber yang dapat dipercaya," ujarnya.
Seperti diketahui, Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas vulkanik yang sangat signifikan sejak Jumat (4/9) malam dan kini statusnya berada pada Level III atau Siaga. Abu vulkanik juga telah terdeteksi menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat.
Erupsi ini menyebabkan sejumlah penerbangan dibatalkan, dan membuat kekhawatiran masyarakat akibat isu potensi tsunami yang akan ditimbulkan.
Dentuman dan getaran yang sempat terjadi di sebagian wilayah Jawa Barat akibat aktivitas GAK juga cukup membuat masyarakat khawatir.
Meutya pun mendorong masyarakat agar tetap tenang tetapi juga meningkatkan kewaspadaan, khususnya bagi warga yang tinggal di dekat GAK dan yang wilayahnya turut terdampak abu vulkanik.
"Tetap waspada, tetap tenang, dan jangan mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya dari mana," jelasnya.
Sementara bagi masyarakat yang berada di wilayah terdampak abu vulkanik, Meutya mengimbau untuk melakukan sejumlah langkah demi menjaga keselamatan dan kesehatan.
Pertama, gunakan masker yang tepat apabila harus beraktivitas di luar rumah, seperti masker N95 atau KN95, untuk membantu menyaring partikel abu vulkanik.
Kedua, gunakan kacamata pelindung dan hindari penggunaan lensa kontak atau softlens selama kondisi udara masih dipengaruhi abu vulkanik.
Ketiga, kurangi aktivitas di ruang terbuka. Apabila tidak ada keperluan mendesak, masyarakat disarankan untuk tetap berada di dalam ruangan dan membatasi paparan abu vulkanik.
Keempat, bagi masyarakat yang harus berkendara, kurangi kecepatan dan tingkatkan kewaspadaan. Abu vulkanik dapat mengurangi jarak pandang dan membuat permukaan jalan menjadi licin.
Kelima, cuci tangan dan wajah setelah beraktivitas di luar ruangan serta pastikan sumber air bersih terlindungi dari paparan abu.
Selain itu, Meutya mengimbau masyarakat, wisatawan, dan nelayan untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau atau melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif, sesuai rekomendasi PVMBG.
"Keselamatan adalah yang utama. Tidak perlu panik, namun tetap selalu waspada dan menjaga keselamatan serta kesehatan," tutup Meutya.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
4













































