Allah tidak Menyuruh Kita Menghapus Ingatan, Hanya Mengajarkan untuk Memaafkan

12 hours ago 7
Opini

Allah tidak Menyuruh Kita Menghapus Ingatan, Hanya Mengajarkan untuk Memaafkan

Ukuran Font

Kecil Besar

14px

Oleh Syafrizal ZA 

Di tengah kehidupan sosial kita, ada satu nasihat yang sering diulang: “Jika sudah memaafkan, maka lupakanlah.” 

Kalimat ini terdengar bijak, tetapi sesungguhnya menyimpan persoalan. Sebab melupakan bukanlah sesuatu, yang selalu mungkin dilakukan manusia.

Manusia diciptakan dengan ingatan. Dari sanalah pengalaman hidup terbentuk, pelajaran diambil dan kebijaksanaan tumbuh. Luka, kekecewaan, bahkan pengkhianatan, sering kali meninggalkan jejak dalam memori. Ia mungkin memudar, tetapi jarang benar-benar hilang. Karena itu, memaafkan tidak pernah identik dengan melupakan.

Dalam perspektif ajaran Islam, yang dituntut dari manusia bukanlah menghapus ingatan, melainkan mengendalikan hati. Memaafkan berarti melepaskan dendam, bukan meniadakan peristiwa. Ia adalah sikap batin yang memilih untuk tidak menjadikan kebencian sebagai beban yang terus dibawa.

Di sinilah letak perbedaan antara memaafkan dan melupakan. Melupakan adalah perkara memori; memaafkan adalah keputusan moral.

Tidak semua orang mampu menghapus luka dari ingatan, tetapi setiap orang memiliki kemungkinan untuk membebaskan hatinya dari dendam. Dan justru di situlah kemuliaan memaafkan berada.

Orang yang memaafkan bukanlah orang yang kalah oleh keadaan. Ia justru menunjukkan kedewasaan batin, keberanian untuk tidak membiarkan masa lalu terus menguasai hidupnya. Ia memahami bahwa memelihara kebencian hanya akan memperpanjang penderitaan, yang seharusnya bisa diakhiri.

Dalam kehidupan publik, baik dalam relasi keluarga, masyarakat, maupun politik, ketidakmampuan memaafkan sering kali melahirkan konflik yang berkepanjangan. Luka lama terus dihidupkan, kesalahan masa lalu terus diungkit dan dendam menjadi bahan bakar pertikaian, yang tak kunjung usai.

Padahal, peradaban yang sehat,  justru dibangun di atas kemampuan manusia untuk berdamai dengan masa lalu, tanpa harus menghapusnya dari ingatan.

Memaafkan bukan berarti meniadakan keadilan. Ia juga tidak berarti membenarkan kesalahan. Memaafkan hanyalah cara manusia menjaga kemuliaan dirinya sendiri, agar hatinya tidak dikuasai oleh amarah yang berkepanjangan.

Karena itu, seseorang boleh saja tetap mengingat luka yang pernah dialaminya. Ingatan itu bahkan dapat menjadi pelajaran berharga, agar kesalahan yang sama tidak terulang kembali. Namun kebencian tidak harus terus dipelihara.

Pada titik inilah, memaafkan menemukan makna terdalamnya, bukan sebagai upaya melupakan masa lalu, tetapi sebagai pilihan untuk tidak membiarkan masa lalu merusak masa depan.

Sebab manusia mungkin tidak selalu mampu melupakan luka. Tetapi manusia selalu memiliki kemampuan untuk memaafkan. Dan di situlah letak kebesaran jiwa yang sesungguhnya.

Penulis adalah Wartawan Harian Waspada dan Waspada.id Wilayah Aceh Barat Daya

Update berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran favoritmu akses berita Waspada.id WhatsApp Channel dan Google News Pastikan Kamu sudah install aplikasi WhatsApp dan Google News.

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |