Jakarta, CNBC Indonesia - Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mencapai tingkat kesiapan penuh untuk meluncurkan serangan ke Iran paling cepat pada akhir pekan ini. Langkah ini menyusul peningkatan signifikan aset udara dan angkatan laut AS di kawasan Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir, yang menandakan keseriusan Washington dalam merespons ketegangan yang terjadi.
Mengutip CNN International, Kamis (19/2/2026), Gedung Putih telah menerima pengarahan teknis bahwa militer dapat segera beroperasi setelah adanya mobilisasi besar-besaran, termasuk reposisi jet tempur dan pesawat tanker dari pangkalan di Inggris ke wilayah yang lebih dekat dengan Iran. Di jantung kekuatan ini, kapal induk USS Gerald Ford yang merupakan kelompok tempur paling canggih di gudang senjata AS, dijadwalkan tiba di kawasan tersebut tepat pada akhir pekan ini.
Kesiapan militer ini juga dipicu oleh kebuntuan dalam jalur diplomasi, di mana negosiasi tidak langsung selama tiga setengah jam di Jenewa pada hari Selasa berakhir tanpa resolusi yang jelas. Meski pihak Iran mengklaim adanya kesepakatan pada prinsip-prinsip panduan, pejabat Amerika Serikat menegaskan masih banyak detail krusial yang perlu dibahas sebelum kesepakatan nyata dapat tercapai.
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa meskipun diplomasi tetap menjadi prioritas, opsi militer tidak pernah dihapus dari meja perundingan. Ia juga menolak memberikan kepastian apakah Washington akan menahan serangan hingga Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyelesaikan kunjungannya ke Israel pada 28 Februari mendatang.
"Saya tidak akan menetapkan tenggat waktu atas nama Presiden Amerika Serikat," ujar Leavitt dalam pernyataannya hari Rabu.
Leavitt menambahkan bahwa ada berbagai pertimbangan strategis yang dapat memicu eskalasi serangan dalam waktu dekat. Menurutnya, pemerintah saat ini sangat bergantung pada penilaian tim keamanan nasional untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap Teheran.
"Ada banyak alasan dan argumen yang bisa dibuat oleh seseorang untuk melakukan serangan terhadap Iran," tambah Leavitt.
Di tengah ancaman serangan tersebut, Iran dilaporkan mulai memperkuat pertahanan fasilitas nuklir utama mereka. Berdasarkan analisis citra satelit terbaru dari Institute for Science and International Security, Teheran menggunakan beton dan gundukan tanah dalam jumlah besar untuk mengubur situs-situs penting guna melindunginya dari potensi hantaman udara AS.
Sementara itu, Presiden Donald Trump hingga saat ini dilaporkan masih menimbang keputusan final dan belum memberikan otoritas resmi untuk memulai serangan. Sumber internal menyebutkan bahwa Trump secara pribadi masih mengevaluasi argumen pro dan kontra terkait aksi militer ini dengan meminta masukan dari para penasihat serta sekutu-sekutu AS.
"Dia menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan hal ini," ungkap seorang sumber yang mengetahui dinamika di Gedung Putih.
Trump juga telah menerima laporan dari utusan khusus Steve Witkoff dan Jared Kushner mengenai hasil pembicaraan tidak langsung dengan Iran, namun ia tetap bungkam mengenai tujuan akhir dari operasi militer jika benar-benar diluncurkan. Meski sering menyuarakan keinginan untuk pergantian rezim dan memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir, Trump belum memberikan penjelasan terperinci kepada publik maupun Kongres mengenai objektif spesifik dari serangan tersebut.
Sejumlah agenda besar juga diprediksi menjadi pertimbangan Trump dalam menentukan waktu serangan, mulai dari berakhirnya Olimpiade Musim Dingin pada hari Minggu hingga penghormatan terhadap bulan suci Ramadan yang sudah dimulai sejak Rabu. Selain itu, pidato kenegaraan State of the Union yang dijadwalkan pada hari Selasa depan diperkirakan akan menjadi panggung bagi Trump untuk menjelaskan arah kebijakannya, baik domestik maupun luar negeri.
(tps/sef)
Addsource on Google

2 hours ago
3















































