Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) menangkap seorang mantan pilot tempur elit pesawat F-35 Lightning II atas dugaan memberikan pelatihan militer kepada Angkatan Udara China tanpa izin resmi pemerintah AS. Penangkapan ini diumumkan oleh Departemen Kehakiman AS (DOJ).
Pada Rabu (25/2/2026), DOJ menyatakan mantan Mayor Angkatan Udara AS Gerald Brown (65) ditangkap pada Rabu di negara bagian Indiana. Brown didakwa memberikan serta berkonspirasi memberikan layanan pertahanan kepada pilot militer China secara ilegal.
"Mantan pilot tempur elit ini diduga mengkhianati negaranya dengan melatih pilot China untuk melawan pihak yang sebelumnya ia sumpah untuk lindungi," ujar Roman Rozhavsky, Asisten Direktur Divisi Kontraintelijen dan Spionase FBI, dalam pernyataan resmi, seperti dikutip Al Jazeera.
Rozhavsky menambahkan, pemerintah China secara aktif mengeksploitasi keahlian personel militer AS, baik yang masih aktif maupun pensiunan, untuk mempercepat modernisasi kemampuan militernya.
"Penangkapan ini menjadi peringatan tegas," katanya.
Jaksa AS untuk Distrik Columbia Jeanine Ferris Pirro juga menegaskan pihaknya akan menindak tegas siapa pun yang terlibat. "Brown dan siapa pun yang berkonspirasi melawan negara ini akan dimintai pertanggungjawaban," ujarnya.
Menurut DOJ, Brown bertugas di Angkatan Udara AS selama 24 tahun. Ia pernah memimpin misi tempur serta bertanggung jawab atas unit-unit sensitif, termasuk yang berkaitan dengan sistem pengiriman senjata nuklir.
Setelah pensiun pada 1996, Brown bekerja sebagai pilot kargo komersial sebelum menjadi kontraktor pertahanan yang melatih pilot AS mengoperasikan pesawat tempur F-35 dan A-10.
Brown diduga mulai melatih pilot China setelah melakukan perjalanan ke negara tersebut pada Desember 2023. Ia disebut menetap di China hingga kembali ke AS pada awal Februari 2026.
DOJ mengungkapkan kontrak pelatihan itu dinegosiasikan oleh Stephen Su Bin, warga negara China yang pada 2016 dijatuhi hukuman empat tahun penjara karena berkonspirasi meretas kontraktor pertahanan AS untuk mencuri rahasia militer.
Kasus ini disebut serupa dengan perkara mantan pilot Korps Marinir AS Daniel Duggan, yang ditangkap di Australia pada 2022 dan kini berupaya melawan ekstradisi ke AS. Duggan dituduh melanggar Undang-Undang Pengendalian Ekspor Senjata AS karena memberikan pelatihan pilot kepada militer China.
Menurut laporan Reuters, pengacara Duggan menyebut upaya ekstradisi tersebut sebagai kasus yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam praktik hukum Australia.
Pada 2024, pemerintah AS bersama Australia, Kanada, Selandia Baru, dan Inggris mengeluarkan peringatan bersama terkait upaya China merekrut personel militer Barat.
"Wawasan yang diperoleh Tentara Pembebasan Rakyat dari talenta militer Barat mengancam keselamatan individu yang menjadi sasaran, rekan-rekan dinas mereka, serta keamanan AS dan sekutunya," bunyi pernyataan tersebut.
Pemerintah AS menegaskan, setiap individu yang memberikan pelatihan atau keahlian militer kepada negara asing tanpa izin dapat dikenai sanksi perdata maupun pidana.
(luc/luc)
Addsource on Google

8 hours ago
2
















































