Jakarta, CNBC Indonesia - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat saat ini berada di bawah nilai fundamentalnya, alias dinilai terlalu rendah oleh para pelaku pasar keuangan atau undervalued.
Sebagaimana diketahui, kurs rupiah hari ini, Kamis (19/2/2026) dibuka di level Rp16.880/US$ atau terdepresiasi 0,03% berdasarkan data Refinitiv. Pelemahan ini terjadi setelah pada perdagangan sebelumnya, Rabu (18/2/2026), rupiah ditutup melemah 0,30% di posisi Rp16.875/US$.
"BI menilai rupiah undervalue," kata Perry saat konferensi pers hasil rapat dewan gubernur BI secara daring, Kamis (19/2/2026).
Perry menegaskan, dari sisi fundamental ekonomi seluruhnya terjaga yang sebetulnya menjadi modal kuat untuk rupiah bergerak menguat melawan dolar AS. Inflasi misalnya, kata Perry terus terjaga di level target 2,5% plus minus 1%.
"Untuk itu BI terus meningkatkan intensitas stabilisasi melalui pasar NDF, offshore, DNDF, dalam negeri," tegas Perry.
Meski dalam posisi undervalue, Perry meyakini, pergerakan kurs rupiah ke depan masih akan bergerak stabil alias tidak mengalami gejolak yang signifikan.
"BI pandang rupiah akan stabil dan menguat didukung fundamental ekonomi Indonesia tercermin dari imbal hasil menarik, inflasi, dan prospek ke depan," paparnya.
(arj/haa)
Addsource on Google

2 hours ago
6














































