Ini 10 Penguasa Pertahanan Eropa yang Jadi Primadona Baru Bursa

2 hours ago 3

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

19 February 2026 16:20

Jakarta, CNBC Indonesia - Sektor pertahanan pada bursa saham Eropa diperkirakan akan memasuki fase pertumbuhan jangka panjang yang lebih stabil.

Apresiasi valuasi yang terjadi pada emiten-emiten persenjataan dalam dua tahun terakhir kini mendapatkan justifikasi fundamental yang sangat kuat menyusul resolusi terbaru dari KTT NATO di Den Haag pada tahun 2025.

Terdapat perubahan kebijakan struktural di mana negara-negara aliansi sepakat untuk meningkatkan komitmen belanja pertahanan dan keamanan secara bertahap hingga mencapai 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) pada tahun 2035.

Keputusan ini mengubah lanskap industri pertahanan dari yang sebelumnya bersifat siklikal menjadi sektor dengan kepastian pendapatan berjangka panjang.

Transformasi Target Anggaran Fiskal Keamanan

Evolusi kebijakan anggaran NATO menunjukkan pergeseran prioritas yang signifikan. Target sebelumnya yang ditetapkan pada tahun 2014, yakni belanja pertahanan sebesar 2% dari PDB, kini telah berhasil dipenuhi atau dilampaui oleh seluruh negara anggota pada tahun 2025. Sebagai perbandingan, satu dekade yang lalu, hanya tiga negara yang mampu memenuhi ambang batas tersebut.

Kesepakatan terbaru di Den Haag membagi target 5% PDB ke dalam dua pos alokasi utama. Pertama, alokasi minimum sebesar 3,5% dari PDB diwajibkan untuk mendanai kebutuhan pertahanan inti dan pemenuhan target kapabilitas militer konvensional.

Kedua, alokasi hingga 1,5% dari PDB diarahkan secara spesifik untuk perlindungan infrastruktur kritis, pertahanan jaringan siber, kesiapan sipil, serta penguatan basis industri pertahanan.

Selain peningkatan persentase PDB, pedoman alokasi belanja modal minimum 20% untuk pengadaan peralatan utama (major equipment) dan riset pengembangan tetap dipertahankan.

Regulasi ini dirancang untuk mencegah keusangan teknologi dan memastikan modernisasi alutsista berjalan konsisten, yang secara langsung memberikan kepastian arus kas bagi perusahaan manufaktur militer di kawasan Eropa.

Anggaran Pertahanan Anggota NATOFoto: Anggaran Pertahanan Anggota NATO

Penurunan Efektivitas Sistem Multilateral

Peningkatan komitmen fiskal yang masif ini berakar pada perubahan struktural dalam tatanan tata kelola keamanan global. Tatanan dunia saat ini sedang bertransisi dari sistem multilateral yang bertumpu pada hukum internasional menuju sistem multipolar yang digerakkan oleh politik kekuatan (power politics).

Institusi penengah global saat ini dinilai mengalami penurunan efektivitas fungsional dalam mencegah maupun mengelola konflik antarnegara, terutama ketika eskalasi tersebut melibatkan kepentingan negara-negara besar. Kekosongan jaminan keamanan dari tata tertib internasional ini memberikan realitas baru bagi kawasan Eropa.

Para pembuat kebijakan menyadari bahwa diplomasi hanya akan berjalan efektif jika didukung oleh deterrent factor yang kredibel. Oleh karena itu, negara-negara Eropa terdorong untuk segera mencapai otonomi strategis melalui penguatan kapasitas industri militer mandiri, guna meminimalisasi ketergantungan pada aliansi keamanan di luar kawasan.

Eskalasi Geopolitik di Berbagai Kawasan

Selain faktor kelembagaan, pembengkakan anggaran militer juga merupakan respons langsung terhadap eskalasi ancaman nyata di berbagai titik strategis yang membutuhkan intervensi perangkat keras pertahanan.

Pertama, konflik konvensional di perbatasan timur Eropa yang berlarut-larut telah menguras cadangan amunisi strategis negara-negara aliansi. Kondisi riil di lapangan memaksa terjadinya siklus restocking berskala besar, khususnya untuk lini artileri darat dan kendaraan taktis tempur.

Kedua, adanya perluasan fokus strategis ke kawasan Arktik dan Greenland. Perubahan iklim yang secara bertahap membuka jalur pelayaran logistik maritim di wilayah utara, dipadukan dengan potensi cadangan mineral kritis yang sangat masif, telah memicu persaingan kehadiran militer.

Pengamanan rantai pasok mineral strategis ini menuntut pengadaan infrastruktur pengawasan pesisir, radar peringatan dini, dan armada laut yang dirancang khusus untuk kondisi ekstrem.

Ketiga, terjadinya transisi fokus kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang semakin berorientasi ke kawasan Indo-Pasifik. Dinamika ini memberikan sinyal kuat yang menuntut negara-negara Eropa untuk mengambil porsi tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah operasional mereka sendiri.

Dampak Langsung terhadap Emiten Pertahanan

Dinamika geopolitik dan kepastian regulasi anggaran ini tercermin secara presisi pada apresiasi nilai saham emiten pertahanan. Perusahaan yang memproduksi perangkat keras militer mencatatkan pertumbuhan yang jauh melampaui perusahaan kedirgantaraan yang lini bisnisnya masih didominasi oleh aviasi komersial.

Berikut adalah data pertumbuhan nilai saham perusahaan manufaktur pertahanan utama di Eropa selama dua tahun terakhir (Februari 2024 - Februari 2026):

Rincian alokasi dari target 5% PDB memberikan peta jalan yang spesifik bagi prospek kinerja sub-sektor pertahanan di atas. Kewajiban belanja 3,5% untuk kapabilitas inti militer akan terus menjadi katalis utama bagi emiten perangkat keras berat seperti Rheinmetall, Saab AB, dan Kongsberg, yang kini memiliki visibilitas order book yang terjamin hingga satu dekade ke depan.

Di sisi lain, alokasi tambahan sebesar 1,5% PDB untuk keamanan siber dan perlindungan infrastruktur kritis membuka ruang pertumbuhan bagi perusahaan teknologi pertahanan.

Emiten seperti Thales dan Leonardo, yang memiliki keunggulan kompetitif di bidang radar peringatan dini dan keamanan jaringan informasi militer, sangat diuntungkan oleh perluasan definisi pertahanan yang kini turut mencakup perlindungan ruang siber dan infrastruktur sipil berisiko tinggi.

Secara keseluruhan, kesepakatan target 5% PDB dari NATO mengonfirmasi bahwa penguatan nilai saham di sektor ini bukan sekadar fluktuasi merespons krisis sesaat. Angka tersebut menjadi indikator komitmen traktat internasional yang mewajibkan negara-negara Eropa untuk merestrukturisasi ketahanan ekonomi dan militernya secara permanen.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |