Ayah Bunda Hati-Hati Helicopter Parenting, Haram Buat Masa Depan Anak

9 hours ago 3
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, keterlibatan yang berlebihan dalam setiap aspek kehidupan anak justru bisa membawa dampak negatif bagi tumbuh kembang mereka.

Pola pengasuhan seperti ini dikenal sebagai helicopter parenting, yakni ketika orang tua terlalu mengontrol kehidupan anak dan selalu turun tangan menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapinya. Akibatnya, anak kehilangan kesempatan untuk belajar mengambil keputusan, menghadapi tantangan, hingga bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Mengutip Beautynesia, International School Parent menjelaskan bahwa helicopter parenting menggambarkan orang tua yang terus "mengitari" anak layaknya helikopter dan selalu siap turun tangan ketika muncul masalah. Meski dilandasi niat baik, pola asuh ini dinilai dapat menghambat perkembangan kemampuan anak dalam jangka panjang.

Berikut sejumlah dampak helicopter parenting yang perlu diwaspadai:

Sulit Mengambil Keputusan

Anak yang sejak kecil selalu diarahkan dalam setiap situasi cenderung kesulitan mengambil keputusan secara mandiri. Mereka terbiasa menunggu arahan orang tua, baik untuk persoalan sederhana maupun keputusan yang lebih besar.

Padahal, kemampuan berpikir kritis dan menentukan pilihan merupakan bekal penting saat anak memasuki masa remaja hingga dewasa. Jika kesempatan tersebut terus diambil alih, anak akan lebih sulit mempercayai kemampuan dirinya sendiri.

Kurang Mampu Mengelola Emosi

Anak juga membutuhkan pengalaman menghadapi tantangan agar mampu mengelola emosi dengan baik. Ketika selalu dijauhkan dari rasa kecewa, frustrasi, atau tekanan, mereka kehilangan kesempatan untuk belajar mengatasi berbagai situasi sulit.

Akibatnya, saat menghadapi masalah tanpa pendampingan orang tua, anak lebih rentan merasa cemas dan kewalahan.

Kepercayaan diri umumnya terbentuk ketika seseorang berhasil menyelesaikan sesuatu melalui usahanya sendiri. Namun, jika orang tua terus mengambil alih berbagai urusan anak, kesempatan untuk membangun rasa percaya diri menjadi semakin terbatas.

Dalam jangka panjang, anak bisa merasa dirinya tidak cukup mampu tanpa bantuan orang lain. Mereka pun menganggap keberhasilan lebih banyak ditentukan oleh campur tangan orang tua dibanding kemampuan pribadi.

Tidak Siap Menghadapi Kegagalan

Kegagalan merupakan bagian dari proses belajar. Melalui pengalaman tersebut, seseorang dapat mengevaluasi kesalahan, memperbaiki strategi, dan menjadi lebih tangguh.

Sebaliknya, anak yang selalu dilindungi dari kegagalan cenderung memiliki toleransi yang rendah terhadap rasa frustrasi. Ketika menghadapi hambatan di kemudian hari, mereka lebih mudah menyerah karena tidak terbiasa menghadapi tantangan.

Meningkatkan Risiko Gangguan Kesehatan Mental

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu mengontrol berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan dan depresi pada anak maupun remaja.

Hal ini terjadi karena anak tidak terbiasa mengambil keputusan sendiri dan kurang memiliki keyakinan terhadap kemampuannya. Ketika dihadapkan pada situasi yang menuntut kemandirian, rasa takut berbuat salah pun menjadi lebih besar.

Memicu Rasa Berhak Selalu Dibantu

Helicopter parenting juga berpotensi menumbuhkan rasa entitlement atau keyakinan bahwa orang lain akan selalu memenuhi kebutuhan dan menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Jika kondisi ini terus berlangsung, anak menjadi kurang terbiasa bertanggung jawab serta berusaha keras untuk mencapai sesuatu secara mandiri.

Karena itu, para orang tua disarankan memberikan ruang bagi anak untuk belajar mengambil keputusan, menghadapi kegagalan, dan menyelesaikan masalah sesuai usianya. Dengan cara tersebut, anak memiliki kesempatan mengembangkan rasa percaya diri, kemandirian, serta ketahanan mental yang akan menjadi bekal penting saat memasuki kehidupan dewasa.

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Berita Kasus| | | |