Bak Jaman Covid, Nakes Pakai APD Lengkap Kubur Jenazah Virus Mematikan

1 hour ago 3

Lebih dari 30 orang tewas di Kamp Kigonze, Kongo, memicu kecurigaan wabah Ebola. Nakes memakai APD lengkap terlihat mengubur jenazah.

Petugas kesehatan dengan alat pelindung diri (APD) membawa peti mati korban yang diduga terinfeksi Ebola dari sebuah bangunan yang digunakan sebagai kamar mayat saat mereka mempersiapkan pemakaman di Pemakaman Nyamurongo, satu bulan setelah wabah din

Petugas kesehatan dengan alat pelindung diri (APD) lengkap membawa peti mati korban yang diduga terinfeksi virus memarikan, Ebola, dari sebuah bangunan yang digunakan sebagai kamar mayat saat mereka mempersiapkan pemakaman di Pemakaman Nyamurongo, satu bulan setelah wabah dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Seorang petugas kesehatan dengan alat pelindung diri (APD) berdiri di dekat para pengungsi yang menunggu pemakaman korban yang diduga terinfeksi Ebola di kamp pengungsi Kigonze, satu bulan setelah wabah dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo, 18 Juni 2026.

Dilansir Reuters Selasa (23/6/2026), setidaknya 30 orang meninggal dunia sejak awal Mei di Kamp Pengungsi Kigonze, wilayah Bunia, timur laut Republik Demokratik Kongo. Lonjakan kematian yang belum pernah terjadi sebelumnya itu memicu kekhawatiran bahwa wabah Ebola mungkin menyebar tanpa terdeteksi di kawasan yang dihuni lebih dari 15.000 pengungsi tersebut. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Petugas kesehatan yang mengenakan alat pelindung diri (APD) membawa peti jenazah seseorang yang diduga meninggal akibat Ebola untuk dimakamkan di kamp pengungsi Kigonze, satu bulan setelah wabah Ebola dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo, 18 Juni 2026.

Menurut pejabat kamp dan organisasi bantuan Caritas, penyebab pasti kematian belum dapat dipastikan karena para pasien maupun keluarga korban menolak menjalani pemeriksaan laboratorium. Penolakan tersebut terjadi baik terhadap pasien yang masih hidup maupun jenazah korban. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Para pengungsi menyaksikan seorang petugas kesehatan dengan perlengkapan pelindung diri (PPE) lengkap bersiap untuk mendisinfeksi area tersebut selama pemakaman korban yang diduga terinfeksi Ebola di kamp pengungsi Kigonze di Bunia, bagian timur Repu

Meski belum ada konfirmasi resmi, sejumlah korban dilaporkan mengalami gejala yang identik dengan Ebola, seperti sakit kepala, demam, dan muntah. Informasi itu disampaikan oleh juru bicara kamp, keluarga korban, pekerja bantuan, serta tokoh masyarakat setempat. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Kerabat dan teman-teman berduka di samping peti jenazah seseorang yang diduga meninggal karena Ebola sebelum dimakamkan di Pemakaman Nyamurongo, satu bulan setelah wabah Ebola dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo, 18 Juni 2026.

Presiden Kamp Kigonze, Dz'djo Ndrutsi Etienne, mengatakan sebanyak 10 orang dimakamkan hanya dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa virus mematikan itu dapat menyebar lebih luas di antara jutaan warga yang mengungsi akibat konflik berkepanjangan di wilayah timur Kongo. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Warga kamp pengungsi Kigonze duduk di atas becak di samping peti mati kerabat mereka yang diduga meninggal karena Ebola saat mereka menuju pemakaman di Pemakaman Nyamurongo, satu bulan setelah wabah Ebola dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo, 18 Juni 2026.

Seorang pejabat kesehatan setempat, Grodya, mengatakan petugas medis telah mengambil sampel dari lima korban dan kini menunggu hasil pemeriksaan laboratorium. Selain Ebola, kolera juga menjadi kemungkinan penyebab karena memiliki sejumlah gejala serupa dan dapat menyebar cepat di lingkungan dengan sanitasi buruk. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Para pengungsi berdiri di samping peti mati seseorang yang diduga meninggal karena Ebola, saat mereka bersiap untuk upacara pemakaman di Pemakaman Nyamurongo, satu bulan setelah wabah Ebola dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo, 18 Juni 2026.

Empat pekerja bantuan menilai lonjakan kematian tersebut menunjukkan meningkatnya kerentanan masyarakat terhadap penyakit menular setelah berkurangnya pendanaan internasional untuk sektor air bersih, kebersihan, dan sanitasi. Program-program tersebut dinilai penting untuk mencegah penyebaran penyakit yang ditularkan melalui cairan tubuh dan limbah manusia. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Warga kamp pengungsi Kigonze menurunkan peti mati selama upacara pemakaman seseorang yang diduga meninggal karena Ebola, di Pemakaman Nyamurongo, satu bulan setelah wabah Ebola dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo, 18 Juni 2026.

Data Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menunjukkan pendanaan untuk fasilitas toilet dan tempat cuci tangan di Kongo turun lebih dari 50% antara 2024 dan 2025, menjadi sekitar US$38 juta atau sekitar Rp658 miliar. Sementara itu, permohonan dana sebesar US$80 juta atai selotar Rp1,39 triliun untuk tahun ini baru terpenuhi sekitar 21%. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Seorang perempuan pengungsi di kamp pengungsi Kigonze berdoa saat menghadiri pemakaman orang-orang yang diduga meninggal karena Ebola di Pemakaman Nyamurongo, satu bulan setelah wabah Ebola dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo, 18 Juni 2026.

Nampak seorang perempuan pengungsi di kamp pengungsi Kigonze berdoa saat menghadiri pemakaman keluarganya. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Pemandangan dari drone yang memperlihatkan para pengungsi dari kamp Kigonze menghadiri pemakaman korban yang diduga terinfeksi Ebola di Pemakaman Nyamurongo, satu bulan setelah wabah dinyatakan, di Bunia, bagian timur Republik Demokratik Kongo, 18 Juni 2026.

Republik Demokratik Kongo saat ini memiliki ratusan kamp pengungsi yang menampung warga sipil yang melarikan diri dari konflik bersenjata. Beberapa kamp bahkan dihuni hingga 100.000 orang. Provinsi Ituri, tempat Kamp Kigonze berada, menyumbang lebih dari 90% dari hampir 900 kasus Ebola yang telah terkonfirmasi di negara tersebut. (REUTERS/Gradel Muyisa Mumbere)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |