Beda Nasib Cadangan Devisa Asia: RI Menderita, China-Singapura Tertawa

5 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

08 June 2026 19:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Memanasnya konflik di Timur Tengah membuat pasar keuangan global bergerak penuh tekanan. Investor kembali memburu dolar Amerika Serikat (AS), sementara banyak mata uang negara berkembang ikut bergejolak.

Dalam kondisi seperti ini, cadangan devisa menjadi salah satu bantalan penting bagi negara. Sederhananya, cadangan devisa bisa menjadi amunisi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, memenuhi kebutuhan valuta asing, hingga membayar kewajiban luar negeri.

Namun, tekanan global membuat cadangan devisa sejumlah negara Asia mulai menyusut. Indonesia menjadi salah satunya.

Bank Indonesia (BI) baru saja melaporkan cadangan devisa untuk periode akhir Mei 2026 sebesar US$144,9 miliar. Angka ini turun US$1,3 miliar dibandingkan posisi akhir April 2026 yang sebesar US$146,2 miliar.

BI menjelaskan, perkembangan cadangan devisa pada Mei 2026 dipengaruhi oleh penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan pajak dan jasa. Namun, di sisi lain, cadangan devisa juga digunakan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah.

Sebagai catatan, nilai tukar rupiah masih terus berada dalam tekanan. Pada penutupan perdagangan Senin (8/6/2026), rupiah melemah 0,89% terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ke level Rp18.180/US$. Posisi ini sekaligus menjadi rekor terlemah rupiah sepanjang masa.

Tekanan rupiah yang berlanjut ini sejalan dengan penurunan cadangan devisa. Pasalnya, di tengah volatilitas pasar keuangan global, BI perlu terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Salah satu upaya stabilisasi tersebut dapat berdampak pada berkurangnya cadangan devisa.

Meski turun, BI menilai posisi cadangan devisa Indonesia masih kuat. Cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta masih di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Cadev Asia Terbelah, RI Masuk Barisan yang Menyusut

Penurunan cadangan devisa BI pada Mei 2026 bukan menjadi satu-satu nya di Asia. Beberapa negara Asia lain juga mencatatkan penyusutan pada periode laporan yang sama.

Salah satunya adalah Jepang. Cadangan devisa Negeri Sakura turun sangat dalam, yakni US$77,1 miliar hanya dalam sebulan. Posisinya yang sebelumnya masih sebesar US$1.383 miliar, kini turun menjadi US$1.305,9 miliar.

Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan penurunan yang dialami negara Asia lain.

Korea Selatan dan Filipina pun turut mengalami penyusutan cadangan devisa, meski nilainya jauh lebih kecil. Cadangan devisa Korea Selatan turun tipis US$0,9 miliar menjadi US$427 miliar. Sementara Filipina mencatatkan penurunan US$0,3 miliar, sehingga posisinya menjadi US$104.

Sebagian Negara Justru Mampu Tebalkan Devisa

Namun, gambaran cadangan devisa Asia tidak sepenuhnya mengalami penurunan. Di saat beberapa negara mengalami penurunan, sejumlah negara lain justru masih mampu menambah bantalan devisanya.

China menjadi contoh paling menarik. Cadangan devisa negara dengan ekonomi terbesar di Asia itu bertambah US$31 miliar dalam sebulan. Posisinya naik dari US$3.411 miliar menjadi US$3.442 miliar pada Mei.

Kenaikan juga terjadi pada Hong Kong, Taiwan, dan India, meski dengan skala yang lebih kecil. Hong Kong mencatat tambahan cadangan devisa US$4,4 miliar, sehingga posisinya naik menjadi US$446,5 miliar.

Taiwan ikut mempertebal cadangan devisanya sebesar US$2,6 miliar menjadi US$605,1 miliar. Sementara India mencatat kenaikan yang lebih tipis, yakni US$0,9 miliar, dengan posisi akhir sebesar US$682,3 miliar.

Artinya, tekanan global tidak membuat seluruh cadangan devisa Asia bergerak satu seiringan. Sebagian negara kehilangan sebagian amunisinya, sementara sebagian lainnya masih bisa menambah bantalan untuk menghadapi gejolak pasar keuangan.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Berita Kasus| | | |